
"Baiklah Tuan kami berjanji akan berusaha membantumu setelah ini". Sahut pak Dahlan dengan yakin.
"Jika kalian sudah setuju dengan permintaanku cepatlah ikut denganku dan jangan membuat suara yang berisik kalau kalian tidak ingin terjebak di dimensi gaib ini selama nya". Jelas laki-laki Belanda yang bernama Jansen itu.
Terlihat Anto dan pak Dahlan mengikuti Jansen berjalan kesebuah lorong yang sangat gelap di ujung bangunan itu, tapi tiba-tiba ada pergulatan antara tentara Belanda dan tentara jepang yang sedang saling menembak didekat mereka.
Door door door door...
Suara tembakan itu saling menyahut diantara dua kubu, membuat suasana malam itu semakin mencekam membuat mereka terpaksa harus bersembunyi disebuah pantry supaya pergerakan mereka tidak dapat diketahui oleh kedua tentara yang saling menembak itu.
"Yang sedang kalian lihat ini adalah kejadian ratusan tahun yang lalu, disaat nipon datang ke daerah ini dan membantai semua nyawa orang netherland tanpa ampun". Ucap Jansen dengan menundukan wajah nya.
"Lalu apa yang terjadi padamu Tuan, kenapa kau masih menjadi hantu disini?". Tanya Anto yang mulai penasaran dengan kisah Jansen.
"Dulu aku hidup bahagia di Netherlands bersama istriku Evana, disana aku bekerja di bidang kesehatan sebagai Dokter, disaat kami sedang merayakan acara pernikahan kami yang pertama tiba-tiba pemerintahan Netherlands memintaku untuk bertugas di Indonesia karena dimasa itu negara ini sangat kekurangan tenaga kesehatan terutama Dokter, dan dengan berat hati aku bersama istriku Evana mengikuti keinginan pemerintah Netherlands dan segera berangkat menaiki kapal selama beberapa bulan untuk sampai disini, sesampainya di negara ini aku memulai pekerjaanku di Rumah sakit ini bahkan sampai akhir hayatku, aku tetap berada di Rumah sakit ini, sebelum kejadian mengenaskan saat Nipon menyerang daerah ini anakku Petter sedang belajar di sekolahnya sementara istriku Evana tetap tinggal di rumah, dan aku yakin semua tentara Nipon membantai semua orang berdarah Netherlands tanpa memandang dia anak-anak ataupun perempuan, siang itu aku memdengar kabar jika tentara Nipon sudah melabuhkan kapal nya didekat daerah ini, aku yang sedang bertugas di Rumah sakit berusaha meninggalkan tugas untuk menemui anak dan istriku tapi nasib berkata lain saat diperjalanan aku tertangkap oleh tentara Nipon, mereka menyiksaku mematahkan tulang tanganku dan memukul kepala ku menggunakan batu besar yang ada di pinggir sungai disaat aku mulai sudah tidak bisa menahan semua sakit yang ada ditubuhku seorang tentara Nipon menembakan senjata ke arah ku tapi peluru itu hanya bersarang di tanganku yang sudah patah, lalu aku tidak sadarkan diri dan tentara Nipon itu pergi meninggalkanku karena mereka pikir aku sudah tiada, tapi beruntungnya ada seorang pribumi yang membantuku karena dulu aku pernah menyembuhkan anaknya yang sedang sakit, pribumi itu membawaku kembali ke Rumah sakit ini untuk mendapat pertolongan, tapi nyawaku hanya bertahan selama dua hari saja". Jawab Jansen dengan mata berkaca-kaca.
"Astaga Tuan nasibmu malang sekali, lalu apa yang terjadi pada anak dan istrimu". Celetuk pak Dahlan yang terlihat iba mendengar cerita Jansen.
"Aku tidak mengetahui nasib anak dan istriku bahkan setelah aku tiada dan menjadi hantu sudah sering kali aku mendatangi sekolah anakku dengan harapan anakku Petter ada disana dan melihat papa nya, sedangkan istriku juga tidak ada di rumah kami yang dulu dan sekarang rumah kami telah menjadi rumah dinas perangkat desa, maka dari itu aku meminta bantuan pada kalian untuk meninggalkan sepucuk surat di sekolah anakku yang dulu". Jelas Jansen dengan meneteskan air mata nya karena hati nya di penuhi kepedihan karena merindukan anak dan istri nya.
"Tuan aku berjanji akan menulis surat untuk anakmu supaya kalian dapat segera bersatu kembali". Tukas pak Dahlan dengan menepuk pundak Anto yang memanggut-manggutkan kepalanya.
"Baiklah aku akan melihat keadaan diluar sana cepatlah kalian berlari ke ujung lorong sana, karena disana adalah gerbang dimensi gaib dengan dunia manusia, biarlah aku yang akan menahan tentara Belanda maupun tentara Jepang". Seru Jansen seraya berdiri membentengi Anto dan pak Dahlan.
"Tapi Tuan bagaimana jika mereka menyakiti Tuan lagi". Cetus Anto dan pak Dahlan bersamaan.
"Kalian tidak perlu menghawatirkanku, aku hanyalah jiwa tanpa raga dan tidak ada yang bisa menyakitiku lagi setelah aku menjadi hantu, lebih baik kalian cepatlah berlari ke lorong itu". Perintah Jansen dengan mengarahkan jari telunjuknya ke pojokan lorong gelap yang di ujung nya ada cahaya yang menyilaukan mata.
Akhirnya dengan terpaksa Anto dan pak Dahlan berlari meninggalkan laki-laki Belanda yang sudah menyelamatkan mereka selama di dimensi gaib, terlihat keduanya bersedih setelah mendengar kisah Jansen sampai akhir hidupnya, mereka tidak menyangka akan berbincang dengan seorang hantu di malam itu.
Ketika mereka sudah hampir sampai di ujung lorong itu, keduanya membalikan badan dan melihat apa yang terjadi pada Jansen, ternyata tentara Belanda menangkapnya tapi tentara Jepang juga ingin menangkap bangsa Belanda sehingga terjadi pergulatan disana.
Nampak Jansen melambaikan tangan nya pada Anto dan pak Dahlan, dia menyeringai dengan wajah pucat nya, lalu Anto dan pak Dahlan pun melambaikan tangan mereka sebagai tanda perpisahan, mereka berdua melewati lorong gelap dengan ujung yang sangat menyilaukan mata, sehingga mereka tidak dapat melihat apapun lagi.
Terlihat Anto dan pak Dahlan terpental dan jatuh di lantai Rumah sakit yang pagi itu sudah sangat ramai pengunjung berlalu lalang, sedangkan keadaan Anto dan pak Dahlan tidak sadarkan diri dengan pakaian yang sangat lusuh seperti gelandangan yang tersesat.
"Tolooong... Ada mayat". Pekik seorang pengunjung perempuan yang melihat ada dua orang laki-laki yang sudah terkapar di lantai lorong dekat kamar mayat.
Teriakan pengunjung itu terdengar ke berbagai arah sehingga banyak orang yang berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, semua orang nampak takut dan tidak ada yang berani mendekati keduanya, dan tidak lama kemudian datanglah dua orang security yang berusaha melihat kondisi kedua laki-laki yang terkapar di lantai itu.
Lalu seorang dari security itu mengeluarkan HT nya dan memberi info pada komandan nya jika ada dua orang laki-laki yang tidak sadarkan diri di lorong Rumah sakit, setelah melaporkan kejadian itu beberapa perawat datang untuk memberikan pertolongan pada mereka berdua.
Sementara di lorong tidak jauh dari sana ada beberapa warga desa Rawa belatung yang sedang mengunjungi pak Eko di rumah sakit melihat keramaian itu, dan bermaksud untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Permisi pak bu ramai-ramai ada apa ya?". Tanya pak Budi yang penasaran.
"Itu pak tadi ada dua orang laki-laki yang tergeletak disini dan tidak sadarkan diri, aku kira sudah meninggal makanya aku kaget dan berteriak". Jawab seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi nya.
"Dua orang laki-laki bu kok bisa ya pingsan bersamaan". Sahut pak Sapri dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kami juga heran pak, kok ada hansip di Rumah sakit ini tapi dia tidak sadarkan diri". Tukas seorang pengunjung lelaki yang merasa heran dengan kehadiran seorang hansip yang pingsan di lorong Rumah sakit.
Setelah mendengarkan penjelasan beberapa pengunjung yang mengatakan jika salah satu laki-laki yang tidak sadarkan diri itu adalah seorang hansip, nampak pak Budi dan pak Sapri terkejut dan saling memandang.
"Wah pak jangan-jangan itu pak Dahlan dan Anto yang dimaksud mereka, sudah tiga hari mereka menghilang setelah sampai di Rumah sakit ini, bahkan mobil Anto masih terparkir diluar sana". Seru pak Budi dengan membulatkan kedua mata nya.
"Entahlah Bud, lebih baik kita mencari kebenaran nya terlebih dulu, mari kita tanyakan pada security". Cetus pak Sapri mengajak pak Budi untuk ke pos security.
Sementara beberapa warga yang lain nya berjalan menuju ke ruangan rawat inap pak Eko untuk menjenguknya, karena disana sudah ada mbah Karto dan mbah Parti bersama kedua cucu nya Rania dan juga Wati.
*
*
...Bersambung....