DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petter pergi meninggalkan Rania.


Dengan sisa energi nya Evana menyatukan kedua telapak tangan nya seraya memejamkan mata nya, lalu tiba-tiba muncul cahaya suar keemasan dari balik tangan Evana yang akan di arahkan pada Petter dan juga Rania.


Whuuuts...


Tubuh hampa Petter dan juga Rania terpental jauh menembus dimensi gaib itu dan meninggalkan Evana seorang diri yang sudah mulai kehabisan energi bersama buto yang menyeramkan.


Bruuk...


Mereka berdua tersungkur di tepian hutan, lalu pak Jarwo datang menghampiri kedua nya.


Nampak Petter sangat menghawatirkan kondisi mama nya, dan berniat kembali lagi ke dimensi gaib hutan angker itu, tapi pak Jarwo melarang nya dengan alasan dia bisa celaka bersama mama nya jika nekat memasuki dimensi gaib itu lagi.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membawa mama ku kembali". Ucap Petter dengan berlinang air mata.


"Tenanglah mama mu akan baik-baik saja disaat yang tepat aku akan membantumu untuk membawa mama mu kembali, tapi tidak sekarang karena aku ada urusan yang lebih penting". Tukas pak Jarwo dengan mengusap peluh di kening nya.


"Baiklah pak terima kasih sekali sudah menolongku, tapi bagaimana caranya Petter bisa meminta bantuanmu sementara kita tidak tau rumah bapak dimana". Seru Rania dengan nafas yang berderu kencang karena kelelahan.


"Aku tinggal di desa sebelah sana nduk, rumah ku di samping masjid persis karena di desa itu hanya ada satu masjid pasti kalian tidak akan nyasar jika mencari rumahku". Jelas pak Jarwo dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah utara.


"Wah pak kami juga dalam perjalanan ke desa itu untuk menemui seseorang, tapi kami tidak tau dimana rumah nya". Cetus Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Memangnya kalian mau kemana nduk, sampai-sampai kau hampir dibawa pergi penunggu hutan angker ini?". Tanya pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Kami mau pergi ke rumah pak Jarwo untuk meminta tolong padanya, karena saat ini desa simbah ku sedang dalam bahaya besar, bahkan setiap hari nya selalu ada musibah dan warga yang kesurupan, tapi disaat kami akan melintasi hutan ini tiba-tiba ada sesosok buto yang datang mencengkeram badanku di genggaman tangan nya, dan aku berusaha melarikan diri dengan membaca ayat kursi, tapi ternyata buto itu malah semakin marah dan sekarang mama Petter pasti sudah di tangkap". Jawab Rania dengan menundukan kepala nya penuh sesal.


"Mari kita kembali ke desa mu nduk". Sahut pak Jarwo mengajak Rania bangkit dari duduknya.


"Lho pak tapi aku harus pergi ke desa tetangga dulu, karena aku sudah mendapat amanah dari simbah jika aku harus pergi ke rumah pak Jarwo dan meminta bantuan padanya". Tegas Rania dengan mengkerutkan kening nya.


"Aku mengerti nduk, apakah kau adalah cucu nya simbah Parti?". Seru pak Jarwo menatap wajah bingung Rania.


Sementara Petter yang masih bermuram durja setelah kehilangan mama nya hanya bisa diam disamping Rania tanpa menjawab apapun, dan Rania yang mengetahui jika perasaan teman hantu nya sedang terguncang sengaja memberikan waktu untuk Petter menenangkan dirinya dulu.


"Loh darimana bapak tau nama simbahku". Tukas Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Hmm... Aku adalah pak Jarwo orang yang akan kau cari rumah nya, dan sebenarnya aku sudah tau sedikit tentang beberapa kejadian di desa Rawa belatung, aku dapat melihatnya melalui mata batin ku jika ada jiwa seorang lelaki dan sesosok hantu londo sedang di tahan didalam sebuah jeruji emas dan ada satu manusia yang menjadi budak untuk pesugihan juga makanya pagi ini aku berniat pergi ke desa simbah mu itu tapi kita malah bertemu disini". Jelas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Wah kebetulan sekali, jadi bapak ini adalah pak Jarwo yang dulu pernah menolong Wati juga ya". Seru Rania seraya mengecup punggung tangan pak Jarwo memberikan salam.


"Iya nduk, mari kita kembali ke desa mu". Ajak pak Jarwo meminta Rania naik ke boncengan sepeda jengki nya.


Terlihat Rania menghawatirkan teman nya Petter, dia takut jika teman hantu nya akan menyusul mama nya ke dimensi gaib hutan itu, akhirnya Rania meminta pak Jarwo mengendarai sepeda jengki nya seorang diri karena dia akan berjalan bersama Petter supaya teman nya itu tidak nekat pergi membahayakan dirinya sendiri.


"Petter kau harus bersabar ya percayalah mama mu akan segera kembali bersama kita lagi, apa kau tidak dengar tadi penjelasan pak Jarwo, dan satu lagi aku akan memberitahumu tentang sebuah rahasia, tapi setelah aku menceritakan semua kau harus berjanji untuk tetap bersamaku sampai pak Jarwo dan pak haji Faruk menyelesaikan semua tragedi ini". Tegas Rania dengan menyipitkan kedua mata nya.


"Mari buat janji antara sahabat". Jawab Rania dengan mengangkat jari kelingking nya.


"Hufh... Baiklah Rania kita akan buat janji antara sahabat". Sahut Petter seraya menempelkan jari kelingking nya menyatu dengan jari Rania yang sebenarnya akan tertembus satu sama lain.


Lalu dengan lembut Rania menjelaskan pada Petter jika sebenarnya dia telah berhasil menemukan papa nya, tapi disaat perjalanan kembali ke desa nya mereka dihadang oleh penunggu hutan angker dan mereka membawa papa nya ke alam gaib, dan belum sempat mbah Karto menolong papa mu jiwa mbah Karto sendiri juga dibawa penguasa alam gaib itu, dan sekarang mereka harus bersabar menunggu pak haji Faruk dan pak Jarwo bekerja sama untuk membebaskan semua nya yang telah ditahan di alam gaib sana.


"Bagaimana kau bisa tau papa ku Rania". Celetuk Petter seakan tidak percaya.


"Bukankah dulu papa mu seorang Dokter yang sangat tampan Petter, sampai mama mu jatuh hati padanya dan melahirkan anak yang cukup tampan sepertimu". Seloroh Rania menggoda Petter.


"Aku serius Rania jangan bergurau denganku kali ini". Tegas Petter mencunguskan bibir pucat nya.


"Baiklah Petter aku akan menceritakan nya, sebenarnya aku dan mbah Karto bertemu Tuan Jansen di Rumah sakit saat kami menjenguk pak Eko, dan kau tidak papa mu itu telah menolong pak Dahlan dan mas Anto yang tersesat di dimensi gaib saat berada di Rumah sakit itu, papa mu bilang dia sudah sering mencarimu di sekolah atau pun rumah kalian yang dulu, tapi kau atau mama mu tidak pernah muncul sehingga papa mu berpikir untuk tetap berada di Rumah sakit itu sampai salah satu dari kalian datang menemui nya". Ucap Rania bercerita seraya berjalan kaki kembali ke rumah simbah nya.


Nampak kedua mata Petter berkaca-kaca setelah mendengar cerita Rania, dia sangat senang mendengar jika papa nya sudah ditemukan meski di sisi lain dia juga sedih karena terpisah dari mama nya.


"Lalu dimana papa ku saat ini Rania, kenapa kau tidak membawa nya ke desa ini untuk bertemu denganku dan mama". Seru Petter menatap tajam pada Rania.


"Ehmm... Maafkan aku Petter sebenarnya saat kami tau jika Tuan Jansen adalah papa mu kami sudah membawanya ke desa ini, tapi di tengah perjalanan penunggu hutan angker itu telah berhasil membawa jiwa papa mu ke alam gaib, dan mbah Karto melarangku menceritakan ini padamu atau mama mu, tapi saat ini mama mu sudah dibawa ke alam gaib yang sama seperti papa mu, aku yakin mereka akan bertemu disana". Cetus Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kau tidak berkata jujur padaku Rania, bukankah aku selalu bersamamu untuk menjagamu, tapi kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku". Pekik Petter merajuk.


Terlihat Rania merasakan penyesalan yang teramat besar, dia berlutut didepan teman hantu nya dan meminta maaf karena tidak mengatakan semuanya dari awal.


"Tolong Petter jangan marah padaku aku tidak bermaksud buruk padamu, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan yang sebenarnya padamu, tapi takdir berkata lain mbah Karto yang aku kira dapat membawa jiwa papa mu kembali justru mengalami nasib yang sama seperti papa mu, saat ini kita hanya bisa mengandalkan pak haji Faruk dan juga pak Jarwo, aku mohon bersabarlah dan jangan nekat pergi ke dimensi gaib yang ada di hutan angker itu". Seru Rania dengan berderai air mata.


Entah apa yang Petter rasakan saat itu, dia tidak menghiraukan tangisan dan permohonan Rania bahkan Petter membalikan tubuh hampa nya membelakangi Rania yang masih berlutut disana.


"Entahlah Rania aku kecewa padamu, karena kau tidak mengatakan ini sejak awal". Ucap Petter dengan suara bergetar.


Setelah itu Petter pergi meninggalkan Rania seorang diri, dia terbang entah kemana dengan hati yang sedah gundah, kemudian Rania bangkit dan berteriak meminta Petter kembali tapi hantu Belanda itu tidak memperdulikan teriakan Rania.


"Petter kembali, bukankah tadi kau sudah berjanji akan tetap bersamaku hu hu hu". Pekik Rania dengan berderai air mata.


*


*


...Bersambung....


...Yuk kak berikan semangat pada Author dengan memberikan like, hadiah atau vote nya dan terus baca ceritaku ya karena sewaktu-waktu Author akan mengadakan give away lagi, Love u all 💕...