DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Dilema Pardi.


Setelah itu Pardi melesat ke rumah nya, nampak di dalam rumah itu semua saudara nya menangis disamping ibu nya yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Dan terdengar perdebatan di antara saudara Pardi, jika salah satu dari mereka ingin membawa ibu nya ke rumah sakit, tapi kakak tertua Pardi mengatakan jika ibu mereka muntah darah dengan mengeluarkan beberapa paku kecil dari dalam mulut nya, mungkin ibu mereka sedang terkena guna-guna oleh seseorang.


Nampak arwah Pardi sangat terkejut mendengar ucapan kakak tertua nya, lalu dia melesat mendekati ibu nya yang tengah terbaring tidak berdaya, di sela-sela waktu nampak ibu nya sempat membuka kedua mata nya, dan ibu nya dapat melihat sosok Pardi meski hanya sekejap saja, lalu ibu nya berteriak histeris memanggil nama Pardi.


Maafkan aku bu, bahkan setelah tiada aku masih menjadi beban untuk ibu, gumam Pardi pada dirinya sendiri dengan wajah yang sendu.


Lalu tiba-tiba ibu Pardi nampak kesakitan dengan memegangi perut nya, dan perempuan tua itu memuntahkan darah segar kembali dengan beberapa paku kecil yang telihat berkarat.


Semua saudara Pardi terlihat berderai air mata, tak kuasa melihat penderitaan ibu nya, lalu arwah Pardi melesat ke rumah mbah Ngatimin untuk meminta bantuan nya.


Sesampai nya disana terlihat mbah Ngatimin sangat marah terhadap Pardi, dia telah melanggar perintah dukun itu, karena itu lah mbah Ngatimin sengaja mengirimkan santet pasa ibu Pardi, supaya Pardi tidak berdaya dan mau menuruti perintah nya.


"Apa kau sudah melihat apa yang terjadi pada ibu mu." seru mbah Ngatimin dengan membulatkan kedua mata nya.


"Kenapa kau membuat ibu ku menderita seperti itu mbah, semua ini salah ku yang tidak melakukan perintahmu, tapi kenapa kau tega menyakiti ibu ku." tukas Pardi dengan wajah sendu.


"Itu lah akibat nya jika kau berani mempermainkan ku, kau tidak melakukan perintah ku, kau justru membuat usaha gadis itu semakin laris setiap hari nya." ucap mbah Ngatimin dengan mengkerutkan kening nya.


"Ampuni aku mbah jangan kau buat ibu ku menderita seperti itu, aku berjanji akan melakukan semua perintahmu." tukas Pardi dengan menundukan kepala nya.


"Baiklah akan ku cabut santet ku pada ibu mu, tapi jika kau melanggar perintahku lagi, akan ku buat semua keluarga mu menderita." tegas mbah Ngatimin dengan seringai diwajah nya.


"Baiklah mbah aku akan menuruti semua perintahmu, asal kau tidak menyakiti semua keluarga ku." jelas Pardi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Setelah itu mbah Ngatimin nampak membaca mantra-mantra dengan menghidupkan dupa yang ada di depan nya, ternyata mbah Ngatimin sedang mencabut santet pada ibu Pardi, dan setelah itu mbah Ngatimin melihat melalui air yang ada di baskom nya, jika ibu Pardi sudah kembali sehat dan meminta arwah Pardi untuk melakukan tugas nya, kemudian arwah Pardi nampak berterima kasih pada mbah Ngatimin dan melesat kembali ke cafe Luma.


Wuuush...


Malam itu sesampainya di cafe Luna, nampak arwah Pardi terpaksa merusak semua bahan makanan yang ada di dapur, dia membuat aura di cafe Luna tertutup sehingga pengunjung tidak akam betah berlama-lama disana, terlihat arwah Pardi terpaksa melakukan itu semua, supaya semua keluarga aman dari amarah mbah Ngatimin.


Pagi pun tiba beberapa pegawai Luna sudah ada yang datang ke cafe, mereka bersiap menyiapkan bahan-bahan makanan, tapi mereka nampak terkejut ketika mengetahui bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas, banyak yang sudah busuk dan tidak dapat digunakan.


"Kok aneh ya makanan yang masih di dalam kemasan bisa busuk, padahal kita meletakan nya di dalam kulkas, kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa hari yang lalu, kenapa sekarang terjadi lagi ya." tukas Desi pegawai Luna yang bertugas di bagian dapur.


Nampak beberapa pegawai Luna yang lain terkejut ketika mendengar ucapan Desi, mereka meminta Desi untuk memberitau Luna, tentang kejadian aneh yang terjadi pagi itu.


Setelah itu Desi menghubungi Luna melalui panggilan telepon, terdengar Luna sangat terkejut dan meminta Desi untuk segera membeli bahan makanan yang baru sebelum cafe beroperasi, sedangkan arwah Pardi yang ada disamping Luna nampak menundukan kepala nya, karena dia sangat sedih telah membuat usaha Luna menjadi berantakan.


Kemudian Luna keluar dari kamar nya menghampiri ibu nya yang masih sibuk di dapur, terdengar Luna mencurahkan isi hati nya, tentang bahan makanan di dalam kulkas cafe yang tiba-tiba menjadi busuk semua.


"Astagfirullohaladzim, jangan-jangan ada yang berniat buruk padamu nduk." seru Wulan dengan membulatkan kedua matanya.


"Entahlah bu aku juga tidak mengerti dengan hal-hal klenik semacam itu." ucap Luna dengan menghembuskan nafas nya panjang.


"Nduk cobalah kau menemui pakde mu yang ada di kampung, mungkin dia bisa membantumu." tegas Wulan dengan wajah yang cemas.


"Ah ibu ini jangan terlalu cemas begitu, mungkin semua hanya kebetulan saja, Luna pergi ke cafe sekarang ya bu sekalian mampir ke kantor mas Brian." jelas Luna seraya mengecup punggung tangan ibu nya.


Kemudian Luna mengemudikan mobil nya dengan berbagai masalah yang ada dikepala nya, nampak arwah Pardi selalu mengikuti Luna kemana pun, karena dia tidak mau jauh dari gadis pujaan hati nya, tapi pagi itu wajah ceria Luna tidak terlihat lagi.


Maafkan aku Luna, karena perbuatanku kau jadi bersedih seperti ini, gumam Pardi yang berusaha menyentuh wajah Luna.


Sedangkan Luna yang merasakan ada sesuatu disamping nya, nampak mengusap tengkuk nya karena bulu-bulu halus ditubuh nya meremang.


Mungkin hanya perasaanku saja, disini kan tidak ada siapa-siapa tapi aku merasakan ada seseorang yang memperhatikanku, batin Luna didalam hati nya.


Lalu Luna menghentikan laju mobil nya, gadis itu menepikan mobil nya dan dari kejauhan nampak Brian sedang berjalan ke arah nya, lelaki itu masuk ke dalam mobil Luna dan mengecup kening gadis pujaan hati nya.


"Maaf ya sayang kau jadi repot-repot membawakan ku sarapan." ucap Brian dengan memeluk erat Luna.


Terlihat arwah Pardi mendengus kesal melihat kemesraan sepasang kekasih itu, sementara keduanya sedang berbincang dengan saling memeluk satu sama lain.


"Sayang di cafe ada sedikit masalah, untuk kedua kali nya bahan makanan yang ada di dalam kulkas membusuk semua nya, padahal beberapa makanan masih dalam kemasan segel, aku jadi kepikiran dengan yang ibu katakan." tukas Luna dengan mengkerutkan kening nya.


"Pasti ibu mengatakan sesuatu, jika semua nya mungkin berhubungan dengan mistis." seru Brian memandangi wajah Luna dengan serius.


"Ibu tidak mengatakan nya secara langsung, tapi ibu memintaku menemui pakde di kampung, dan setauku pakde ku itu mempunyai kemampuan yang berhubungan dengan hal mistis macam itu." jelas Luna dengan menghembuskan nafas nya panjang.


*


*


...Bersambung....