
Nampak bude Walimah sudah menunggu kedatangan Anggi di depan ruang tamu, setelah mendengar suara ketukan pintu, bude Walimah segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu utama rumahnya.
Ceklek...
"Mbakyu dimana Rania mbak huhuhu", seru Anggi menghambur ke dalam pelukan bude Walimah.
"Tenang dulu ya Nggi, ayo masuklah, aku akan membuatkanmu teh terlebih dulu", ucap bude Walimah seraya memapah Anggi masuk ke dalam rumah.
"Katakan saja mbak dimana Rania berada, aku datang kesini bukan untuk minum teh, aku hanya ingin bertemu dengan anakku huhuhu", ucap Anggi dengan berderai air mata.
Setelah itu, bude Walimah kembali duduk disamping Anggi, dia menjelaskan dengan pelan-pelan jika saat itu Rania sedang di rumah sakit bersama Wati dan Lala tadi siang Rania mengalami kecelakaan saat akan pulang ke rumah, angkutan umum yang ditumpangi nya terlibat kecelakaan di jembatan tua sebelum memasuki wilayah desa itu.
"Mmenurut Wati kondisi Rania tidak baik, karena itulah aku memintamu untuk pulang, dan sengaja aku tidak mengatakan yang sebenarnya, hawatir jika kau semakin cemas selama di perjalanan".
"Aku sudah memintanya untuk kuliah di Kalimantan saja, tapi dia tidak mau mendengarkan ku, dan sekarang malah begini kejadiannya huhuhu, aku takut Rania kenapa-kenapa mbakyu", tukas Anggi menangis histeris.
"InsyaAllah Rania akan baik-baik saja Nggi, lebih baik kita shalat dan mendoakan Rania terlebih dulu, setelah itu aku akan meminta Anto untuk mengantarkan kita ke rumah sakit yang ada di kota".
Setelah mereka melakukan ibadah dan mendoakan Rania, bude Walimah segera meminta tolong pada Anto untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Ayo To langsung jalan saja, kami harus melihat kondisi Rania di rumah sakit", ujar bude Walimah seraya masuk ke dalam mobil.
Nampak Anto terkejut dan mengerutkan keningnya, dia sangat terkejut mendengar jika Rania sedang dirawat di rumah sakit, lalu bude Walimah menjelaskan jika Rania mengalami kecelakaan di dekat jembatan tua yang terkenal angker di desa nya.
"Loh bu jembatan itu kan sangat wingit, setiap tahun nya selalu ada kecelakaan disana, seakan penunggu gaib disana meminta tumbal nyawa manusia, kenapa ibu tidak meminta bantuan mbah Karto saja, buat jaga-jaga saja siapa tau memang ada hubungannya dengan gaib, mengingat histori tentang jembatan tua itu yang selalu memakan korban nyawa setiap tahunnya", celetuk Anto membuat Anggi berpikiran hal yang sama.
"Benar yang dikatakan Anto mbakyu, dulu semasa aku muda, aku juga sering mendengar keangkeran jembatan tua itu, dan pernah ada temanku yang meninggal dunia karena hanyut di sungai yang ada dibawahnya, padahal saat itu air sungai itu sangat tenang, tapi tiba-tiba saja arus air berubah menjadi deras, seakan ada makhluk gaib yang marah", sahut Anggi dengan jantung yang berdegup kencang.
"Aku mengerti dengan apa yang kalian bicarakan, tapi lebih baik kita sampai di rumah sakit dulu dan melihat kondisi Rania, setelah itu baru kita putuskan untuk meminta bantuan mbah Karto atau tidak", cetus bude walimah dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit, lalu mereka semua berjalan tergesa-gesa menuju ruang ICU, nampak Wati memandang kedatangan ibu dan juga tantenya yang menghampiri nya seraya memeluk nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Rania nduk, coba jelaskan pada ibu".
Kemudian Lala hanya menganggukkan kepalanya, Lala hanya bisa mencurigai makhluk itu ada campur tangannya dengan kecelakaan yang dialami Rania.
"Tapi aku tidak berani membenarkan apa yang ku lihat, karena aku tidak melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi, dan saat ini kondisi Rania sedang kritis, sehingga kita tidak bisa bertanya padanya", ucap Lala dengan menundukkan kepalanya.
Setelah itu bude Walimah menjelaskan pada Anggi, jika Lala memiliki kemampuan yang sama dengan Rania, karena dia dapat melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib.
"Sepertinya kita perlu memanggil mbah Karto, karena beliau bisa menerawang melalui mata batinnya, siapa tau Rania dalam keadaan kritis karena buto yang dilihat Lala tadi", seru Anto dengan wajah cemas.
Kemudian Anggi meminta Anto untuk menjemput sesepuh desa itu, supaya beliau dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, lalu Lala menawarkan diri untuk menemani Anto kembali ke desa, dan keduanya pergi untuk menjemput mbah Karto dirumah nya, sementara itu Anggi terlihat sangat kalut, karena dia tidak diperbolehkan untuk menemui Rania di dalam ruang ICU, bude Walimah pun menenangkan nya, setelah itu ponsel Anggi pun berdering, ternyata itu adalah panggilan telepon dari suaminya, yang menanyakan kabar anak mereka.
"Aku belum bertemu dengan anak kita mas huhuhu, dokter melarang ku untuk masuk ke dalam ruangannya, kondisi Rania kritis mas dibuang ICU, apa yang harus aku lakukan supaya Rania sadar kembali", seru Anggi dengan berderai air mata.
Dan di Desa Rawa Belatung, nampak mbah Karto seakan sudah menunggu kedatangan Anto dan juga Lala, beliau sudah duduk di teras rumahnya, lalu beliau bangkit dari duduknya seraya mengatakan jika dia memang sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Jadi rupanya kalian yang akan memberikan kabar buruk padaku, aku dapat merasakan aura kesedihan akan datang menuju rumahku, tapi aku tidak tau siapa yang datang dan untuk apa, sekarang katakan lah apa tujuan kalian datang menemuiku?", tanya mbah Karto memandangi keduanya.
Terlihat Anto dan Lala saling memandang dan terdiam, dan mbah Karto pun hanya menyunggingkan senyumnya seraya meminta mereka untuk duduk terlebih dulu, setelah mereka sedikit tenang mbah Karto meminta mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, singkat cerita Lala akhirnya menceritakan segalanya, tentang buto yang ada di jembatan tua itu.
"Jadi Rania mengalami kecelakaan di dekat jembatan tua itu, bersamaan dengan kehadiran buto penunggu tempat itu", seru mbah Karto dengan membulatkan kedua matanya.
"Iya mbah, kami jadi curiga mungkinkah buto itu yang membuat Rania jadi celaka, sebenarnya aku bisa saja meminta Senopati untuk mencari tau yang sebenarnya, tapi aku tidak ingin merepotkan nya lagi, biar saja dia tenang di alamnya", jelas Lala dengan wajah sendu.
Siapa Senopati, kenapa Lala menjadi sedih setelah menyebutkan namanya, batin Anto penasaran.
"Baiklah nduk, aku mengerti dengan posisimu saat ini, kau sedang berusaha hidup dengan menjauhi semua yang ada dimasa lalu mu, semoga kau berhasil melepaskan semua kenangan pahit itu, karena alam kalian memang berbeda, meski Senopati akan selalu berada didalam hati dan pikiranmu", ucap mbah Karto seraya menepuk pundak Lala.
Terlihat Anto mengerutkan keningnya, ketika mendengar ucapan mbah Karto tentang Senopati, Anto hanya tau Lala seorang gadis yang belum pernah menikah, karena Anto tidak mengetahui segala masa lalu perempuan yang mulai mengganggu hati dan pikiran nya.
...Sepertinya dukungan para pembaca berkurang ya, mungkin Author akan lanjutkan kisah Rania di Novel yang berbeda, tentunya harus lebih bersabar lagi, karena Author membutuhkan waktu untuk menulis lagi, karena menulis juga membutuhkan semangat yang lebih, terimakasih yang setia mendukungku 🙏...
...Bersambung....