DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Rahasia yang terbongkar!!!


"Eh pak hansip to, ada perlu apa pak?". Tanya bu Ema dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ini bu saya mau mengembalikan koin emas milik Ari yang terjatuh di jalan tadi". Jawab pak Dahlan seraya menyerahkan koin emas itu pada bu Ema.


Terlihat bu Ema bingung setelah melihat koin emas itu, karena sepertinya koin emas itu bukanlah koin sembarangan, sementara itu pak Dahlan dan pak Eko langsung berpamitan pulang karena ingin langsung beristirahat.


Dan setelah kedua nya pergi bu Ema menutup pintu rumah dan masuk kedalam kamarnya menyerahkan koin emas itu pada Rara.


"Ini nduk berikanlah pada suamimu tadi kedua hansip itu datang untuk mengembalikan koin emas milik Ari yang terjatuh". Tukas bu Ema dengan seringai kecil di wajah nya.


"Darimana mas Ari mendapatkan koin emas seperti ini bu". Ucap Rara dengan menggaruk rambut nya yang tidak gatal.


"Entahlah nduk kau tanya saja pada suami mu". Ujar bu Ema seraya mengajak Rara kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar nya Rara duduk di atas ranjang nya dengan memperhatikan koin emas yang sedang dia pegang.


Ceklek...


Terdengar Ari membuka pintu kamar mandi nya dan berjalan menghampiri istri nya yang berada di atas ranjang nya.


"Kau sedang apa sayang". Seru Ari seraya mengecup kening Rara.


"Ini punyamu mas?". Tanya Rara dengan menunjukan koin emas yang ada di telapak tangan nya.


"Kau dapat darimana dek". Jawab Ari dengan membulatkan kedua mata nya.


"Jadi benar ini punyamu". Selidik Rara dengan tatapan mata yang tajam.


"Ehm iya sayang, besok aku akan menjualnya ke kota". Tukas Ari seraya mengambil koin emas itu dari genggaman tangan Rara.


Terlihat Rara begitu curiga melihat koin emas itu dan membuatnya menatap suaminya dengan penuh curiga, lalu Rara terkejut melihat seluruh tubuh Ari yang melebam berwarna keunguan.


"Mas apa yang terjadi padamu kenapa badanmu lebam lebam". Seru Rara dengan wajah cemas nya.


"Aku hanya kelelahan bekerja saja sayang, nanti juga sembuh sendiri". Tukas Ari dengan memeluk Rara.


"Apa kau mau ku pijit mas". Ucap Rara dengan mengernyitkan dahi nya.


"Tidak apa apa sayang, kita istirahat bersama saja, aku dengar dari ibumu jika semalaman kau terjaga menungguku pulang". Ujar Ari seraya merebahkan tubuh nya ke atas ranjang empuk nya.


Kemudian keduanya berbaring bersama dan nampak Ari sudah terlelap di dunia mimpi, tapi tidak dengan Rara yang masih terjaga di samping suami nya.


Pikiran Rara berkelana kemana mana bagaimanapun juga dia adalah makhluk halus jadi dia bisa merasakan aura gelap yang ada di koin emas yang tadi dia pegang.


Terlihat Rara begitu gelisah memikirkan sesuatu yang disembunyikan suami nya.


Apa yang mas Ari lakukan di belakangku ya, batin Rara didalam hati nya.


Sedangkan di rumah simbah Parti nampak semua orang cemas ketika simbah mulai resah menunggu kedatangan mbah Karto dari kota, karena sudah hampir satu bulan beliau tinggal bersama anaknya di kota karena istri nya sedang sakit dan dirawat disebuah rumah sakit yang ada di kota.


"Bagaimana nduk apakah mbah Karto bisa kembali ke desa secepatnya?". Tanya simbah Parti pada bude Walimah.


"Belum bisa mbah mungkin minggu depan, karena anaknya belum bisa menggantikan nya menjaga istri nya yang habis di operasi ginjal nya". Jawab bude Walimah dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Terlihat guratan cemas di wajah tua simbah Parti membuat cucu nya Rania menjadi gelisah.


"Simbah ada masalah apa to, kok sepertinya gelisah sekali". Ucap Rania dengan memeluk simbah nya.


"Tidak apa apa nduk, ini masalah orang tua kau tidak perlu memikirkan nya". Tukas simbah Parti membalas pelukan cucu nya itu.


"Astaga aku lupa jika ada upacara bendera hari ini". Seru Rania dengan menepuk jidat nya.


Lalu Rania dan Wati berpamitan pada simbah dan juga bude Walimah dengan mencium punggung tangan kedua nya, setelah itu mereka berdua bergegas berangkat ke sekolah nya.


Nampak Petter ingin mengikuti Ranja ke sekolah nya tapi simbah meminta nya untuk tinggal di rumah saja untuk membantu Evana mama nya mencari tau tentang Rara yang kembali hidup di dunia ini.


"Petter kau temanilah mama mu mencari tau apa yang sedang terjadi di rumah Ari". Perintah simbah dengan wajah cemas nya.


Kemudian mereka berdua terbang menghilang menuju rumah Ari yang sedang sepi hanya terlihat bu Ema yang sedanv menyapu di teras, sedangkan Anto yang akan berangkat bekerja terlihat sibuk merapikan diri nya.


Lalu Evana mendengar jika Anto berbicara sendiri tentang kakak iparnya yang menjadi manusia kembali, tapi Anto masih belum yakin dan tidak berani mencari tau lebih lanjut dan memilih untuk diam saja.


Setelah Anto berangkat bekerja, terlihat Rara mulai berani keluar dari dalam kamar nya.


"Bu apakah Anto sudah pergi?". Tanya Rara dengan suara pelan.


"Sudah kok nduk, kenapa kau tidak istirahag bersama suamimu". Jawab bu Ema dengan merangkul anak perempuan nya itu.


"Bu aku merasa ada yang mas Ari sembunyikan dariku, apa dia bermain dengan dunia gaib karena aku". Tukas Rara dengan membulatkan kedua mata nya.


"Tentu saja nduk, suami mu harus melakukan ritual gaib supaya kau dapat hidup kembali ke dunia ini". Cetus bu Ema dengan mata berkaca kaca.


"Tapi bu apakah mas Ari mempunyai perjanjian gaib dengan makhluk gaib lain nya". Selidik Rara dengan wajah cemas.


"Kenapa kau berbicara seperti itu nduk". Ucap bu Ema dengan menggenggam kedua tangan Rara.


"Aku curiga setelah melihat koin emas tadi bu, dan melihat kondisi badan mas Ari yang penuh dengan lebam yang tidak wajar". Seru Rara dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Kau tidak usah hawatirkan suamimu itu nduk, apapun yang dia lakukan hanya untukmu". Ujar bu Ema menenangkan anak perempuan nya itu.


"Jadi ibu tau apa yang dilakukan mas Ari dibelakangku". Seru Rara menatap tajam ibu nya.


Sementara Petter dan Evana yang mendengar percakapan kedua nya nampak terkejut karena mengetahui jika Ari mempunyai perjanjian gaib dengan makhluk gaib lain nya untuk menghidupkan Rara kembali.


"Ibu seharusnya tidak mendukung perbuatan mas Ari bu, seharusnya kalian biarkan saja aku tenang di alamku". Seru Rara dengan mata berkaca kaca.


"Tapi nduk kami merindukanmu". Ucap Bu Ema dengan berderai air mata.


Kemudian kedua nya saling memeluk dan menenangkan, karena mereka saling merasa bersalah dengan keadaan nya saat itu.


Setelah itu Petter dan Evana kembali ke rumah simbah Parti dan menceritakan semua yang mereka dengar.


"Jadi semua ini karena perbuatan Ari dan juga ibu mertua nya, kasihan Rara harus merasakan siksa di dunia fana sekali lagi". Tukas simbah Parti dengan wajah cemas nya.


Sementara di rumah Ari, nampak bu Siti yang mengintip dari balik jendela melihat bu Ema dan Rara sedang berpelukan dengan berderai air mata.


Kenapa setiap kali aku melihat mereka seperti sedang bersedih ya, gumam bu Siti dengan menggaruk rambut nya yang tidak gatal.


Setelah itu bu Siti tersandung batang kayu yang ada didepan nya membuat bu Ema dan juga Rara terperanjat dari tempat duduk nya memandang bu Siti dengan tatapan dingin membuat bu Siti semakin ketakutan karena dirinya ketahuan sedang menatap kedua nya dari balik jendela.


*


*


...Bersambung....