
Anto mengatakan segalanya pada pak Jarwo dan juga mbah Karto, dia menjelaskan apa yang dilihatnya, jika Lala berbicara sendiri dengan seseorang yang tak terlihat.
"Aku takut jika Lala diganggu makhluk gaib mbah." seru Anto dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Dimana Lala sekarang?." tanya mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Dia ada di rumah Rania mbah." jawab Anto dengan mengusap peluh dikening nya.
Kemudian mbah Karto meminta pak Jarwo, untuk menemui adik ipar nya itu, dan dengan tergesa-gesa pak Jarwo berlari kesana, nampak Elang menyadari kehadiran pak Jarwo, tapi Elang nekat bertahan disana, sampai akhirnya Lala mengancam Elang jika dia akan memakai jimat suci lagi, supaya Elang tidak bisa mendekatinya kembali.
"Pergilah kangmas jika kau masih ingin bertemu denganku, karena jika kangmas ku sampai tau keberadaanmu disekitarku, maka dia akan lebih ketat lagi menjagaku." ucap Lala dengan mengkerutkan keningnya.
"Baiklah La aku akan pergi tapi satu yang ku minta darimu, jika aku didekatmu jangan kau pakai jimat suci itu, aku tidak ingin berjarak lagi denganmu, aku mohon La." tukas Elang dengan wajah sendu.
Tanpa menjawab ucapan suami gaib nya itu, nampak Lala hanya menganggukan kepala nya, dan setelah itu Elang pun melesat pergi meninggalkan Lala seorang diri.
"Nduk apa yang kau lakukan disini, Anto mengatakan padaku jika kau berbicara dengan seseorang yang tak kasat mata, apakah mereka datang lagi mengganggumu." seru pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
"Ehm tidak ada mas Jarwo, aku tadi sedang menerima panggilan telepon, lagipula aku mengenakan jimat suci, bagaimana mungkin makhluk gaib bisa mendekatiku." ucap Lala berdalih.
Apakah Lala mengatakan yang sebenarnya, atau dia sedang menyembunyikan sesuatu, batin pak Jarwo didalam hati nya.
Karena pak Jarwo tidak melihat kehadiran makhluk gaib disana, dia memutuskan kembali ke rumah Anto, dan meminta Lala untuk segera masuk ke dalam rumah itu, kemudian pak Jarwo melangkahkan kaki nya gontai, dia berusaha melihat kejadian sebelum dirinya datang menemui Lala, dan betapa terkejut nya pak Jarwo, karena dia melihat Lala sedang berbicara dengan suami gaib nya, nampak kedua nya saling memeluk dan mengatakan sesuatu.
Kenapa Lala berbohong padaku, sebenarnya apa yang dia sembunyikan, batin pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Dan disaat pak Jarwo akan memasuki rumah Anto, nampak Rania dan Wati akan kembali ke rumah nya, mereka berpas-pasan di depan pintu rumah Anto, lalu pak Jarwo menegur Rania, dan menanyakan apakah Lala mengatakan sesuatu padanya tentang suami gaib nya.
"Sebenarnya kemarin Lala mengatakan padaku, tentang salah satu istri suami gaibnya, dia datang dan mengancam Lala untuk menjauhi suami nya, meski sebenarnya Lala sudah tidak berhubungan lagi dengan mereka, tapi terkadang suami gaibnya masih sering menengoknya, karena keduanya masih terikat secara batin, apalagi mereka sudah memiliki seorang anak, dan itu akan selalu membuat keduanya terhubung." jelas Rania pada pak Jarwo.
Nampak Wati menggaruk kepala nya yang tidak gatal, karena dia mendengar percakapan pak Jarwo dan juga Rania, lagi-lagi mereka menyebut Lala sudah memiliki anak.
Sebenarnya apa yang selalu mereka katakan tentang Lala, anak yang mana ya, aku jadi penasaran, batin Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Setelah menjelaskan pada pak Jarwo tentang apa yang diketahuinya, Rania mengajak Wati untuk bergegas pulang, karena besok di kampus mereka akan ada acara besar, di adakan nya perayaan ulang tahun universitas mereka, dan mereka adalah salah satu panitia nya.
Sesampainya di rumah nya, nampak Lala sedang bersandar di atas ranjang tempat tidur, gadis itu nampak memikirkan sesuatu, lalu Wati datang menghampirinya dan bertanya kenapa dia belum tidur juga.
"Tadi kau berpamitan karena tidak enak badan, kenapa masih terjaga disini La, besok pagi kita semua harus ke kampus lebih cepat dari sebelumnya, ayolah kita tidur saja." tukas Wati seraya merebahkan tubuhnya.
"Kau duluan saja Wati, aku belum bisa memejamkan mataku." jelas Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Kenapa Lala terlihat cemas begitu ya, mungkin lebih baik aku bertanya padanya, batin Rania seraya berjalan mendekati Lala.
"La apakah ada yang sedang mengganjal didalam hatimu, berbagilah dukamu padaku, aku tidak mau melihatmu murung seperti ini." ucap Rania seraya merangkul Lala.
"Rania aku mulai merasakan sesuatu didalam hatiku, perhatian mas Anto padaku sangat tulus, aku mulai tidak tega padanya, aku tidak ingin mengecewakan nya, pasti dia tidak akan bisa menerima jika aku sudah pernah melahirkan anak, mungkin lebih baik aku menjauhinya supaya dia tidak terlalu berharap padaku, apalagi suami gaibku sudah mengetahui segalanya, dia bisa melihat jika mas Anto tertarik padaku, aku takut jika mas Anto dalam bahaya, karena dia mendekatiku, bahkan tadi dia hampir celaka karena tertimpa pohon besar, untung saja aku mendorongnya jika tidak mungkin dia sudah ada di rumah sakit." jelas Lala dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi maksudmu pohon tumbang itu jatuh karena ulah suami gaibmu?." tanya Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Iya Ran aku melihatnya sendiri, kangmas Elang sengaja menjatuhkan pohon besar itu, supaya mas Anto tertimpa dan celaka, karena itu lah Ran aku tidak mau memberikan harapan yang lebih padanya, aku tidak mau hal yanga buruk menimpanya, mas Anto adalah lelaki yang baik, dia pantas mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku." tukas Lala berlinang air mata.
Nampak Rania memeluk Lala dan mengusap air matanya, Rania tidak tega melihat kesedihan Lala yang berlarut, gadis itu meminta sahabatnya untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya tanpa menghawatirkan masalah yang berlebihan.
"Percayalah semua akan jauh lebih baik La, suami gaibmu itu bisa saja mencelakai mas Anto, tapi tenang saja ada mbah Karto dan juga pak Jarwo yang akan menolongnya, kau harus menjalani hidupmu selayaknya manusia normal, kau masih bisa bertemu dengan anakmu meski dunia kalian berbeda, tapi untuk suami gaibmu, itu satu hal yang berbeda La, dia tidak bisa selalu mencampuri hidupmu, kau berhak bahagia dengan manusia lain nya, bukankah kau sudah memiliki jimat suci pemberian pak Jarwo, jangan pernah kau lepaskan jimat suci itu, jika kau ingin segera terlepas dari hubunganmu dengan suami gaibmu itu." ucap Rania dengan menyunggingkan senyumnya.
Apakah aku harus mengikuti nasehat Rania, tapi aku takut jika kangmas Elang murka dan menyakiti mas Anto, batin Lala resah didalam hatinya.
"Sudah kita istirahat saja, besok kita semua harus bangun pagi dan berangkat ke kampus La, tapi aku agak gelisah harus ke kampus besok, karena aku merasakan akan ada sesuatu yang menungguku disana." ujar Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Sebenarnya aku teringat dengan almarhum teman Wati yang bunuh diri itu, aku takut jika arwahnya masih gentayangan di kampus, batin Rania seraya berbaring di atas tempat tidurnya.
*
*
...Bersambung....