DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Teror hantu datang lagi!


Terlihat pak Dahlan berlari meninggalkan pak Eko yang sedang bersenandung di bale pos kampling.


Sementara Sund.l bo.l.ng itu terbang ke arah pos kampling dan menunjukan punggung nya yang berlubang dengan belatung yang berjatuhan ke tanah.


Pak Eko terperanjat karena mencium bau busuk disertai anyir darah yang semakin dekat padanya.


Bau apa to ini busuk sekali, batin pak Eko didalam hati nya.


Lalu dia berdiri mencari asal bau busuk itu, mata pak Eko melotot dengan mulut yang menganga lebar dilihat nya hantu perempuan dengan punggung yang berlubang dipenuhi belatung diselurung punggung nya.


Badan pak Eko kaku ditempat kaki nya sudah kehilangan tenaga untuk melarikan diri, akhirnya dia kehilangan kesadaran dan pingsan di bale itu.


Braaaks...


Tubuh pak Eko tumbang membentur kursi yang ada di pos kampling, kemudian hantu sund.l bo.ong itu terbang entah kemana.


Sementara pak Dahlan yang melarikan diri mengetuk pintu rumah pak Sapri, warga yang rumahnya paling dekat dengan pos kampling.


Tok tok tok...


Terdengar pak Dahlan mengetuk pintu rumah pak Sapri berulang kali, karena dia sangat panik.


Cekleek...


"Pak Sapri toloong pak, tolong aku". Seru pak Dahlan dengan nafas yang tersengal sengal.


Lalu pak Sapri menenangkan pak Dahlan dengan memberinya air minum supaya dia sedikit tenang.


Setelah pak Dahlan sedikit tenang, dia menjelaskan pada pak Sapri jika di pos kampling ada hantu sund.l ***.ng yang menampakan wujudnya.


"Aku sudah meminta kang Eko untuk berlari tapi sepertinya dia tidak mendengarkan ucapanku, aku hawatir pak jika kang Eko kenapa kenapa". Sahut pak Dahlan dengan nafas yang berderu kencang.


"Astaga kenapa selalu ada musibah di desa kita". Seru pak Sapri dengan tatapan mata yang tajam.


"Mari pak kita lihat kondisi kang Eko, semoga saja tidak terjadi hal buruk padanya". Tukas pak Dahlan seraya berjalan menuju pos kampling.


Sesampainya mereka disana nampak pak Eko yang terkapar di pinggir pintu dan tidak sadarkan diri.


"Kang bangun kang". Ucap pak Dahlan menyadarkan pak Eko.


"Sund.l bo.ong". Pekik pak Eko yang berusaha bangkit dari duduknya.


"Tenang kang hantu itu sudah tidak ada". Jelas pak Dahlan meraih tangan pak Eko kembali.


Nampak wajah pak Eko sangat pucat karena ketakutan, badan nya gemetar seperti orang yang kedinginan.


"Ini pak diminum dulu teh hangat nya". Tukas pak Sapri yang membawakan teh hangat dari rumah nya.


Setelah pak Eko menenangkan dirinya, dia menceritakan jika hantu perempuan itu adalah sund.l bo.ong karena punggung nya berlubang dengan aroma yang sangat busuk.


"Aa aku tidak tau pak karena wajahnya sudah busuk jadi aku tidak dapat mengenalinya". Cetus pak Eko dengan nafas yang berderu.


Sementara pak Dahlan sedang mengingat wujud hantu perempuan itu, dan benar perkataan pak Eko jika wajah hantu itu tidak dapat dikenali.


"Bapak bapak sebaiknya kita sembunyikan hal ini dari semua warga, karena jika ada yang mengetahui ada hantu yang kembali gentayangan di desa ini, mereka akan sangat takut dan menimbulkan kepanikan pada semua orang". Terang pak Dahlan menatap wajah pak Eko dan juga pak Sapri.


Terlihat kedua orang itu setuju dengan pendapat pak Dahlan, mereka sepakat untuk tidak menceritakan kejadian malam ini pada semua warga.


*


*


Keesokan pagi nya Rania dan Wati akan mendaftar ke sekolah baru nya, mereka akan mendaftar ke sekolah menengah atas yang ada di pinggiran kota supaya mereka tidak terlalu jauh dari rumah.


Nampak Petter mengikuti Rania ke sekolah baru nya.


Wuuuushh...


Wati memegang tengkuk nya ada hawa dingin menyeruak di belakang kepala nya.


"Rania kok aku merinding ya". Tukas Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Tanpa berkata Rania menatap ke segala arah mencari keberadaan teman hantu nya.


"Petter keluarlah, aku tau kau mengikutiku". Seru Rania dengan berkacak pinggang.


"Ya Rania aku disini". Tukas petter yang tiba tiba menampakan wujudnya di samping Rania.


"Kau ini jangan menakuti Wati, kasihan dia". Ucap Rania menatap wajah pucat Petter.


"Maafkan aku Rania, aku mengikutimu karena aku hawatir padamu". Seru Petter dengan menundukan kepala nya.


"Aku baik baik saja Petter, pulanglah bukankah mama mu akan segera kembali setelah mencari keberadaan papamu". Teriak Rania dengan mengerucutkan bibir nya.


Nampak Wati semakin takut bulu kuduknya meremang melihat saudara perempuan nya berbicara sendiri tanpa ada seseorang di dekat nya.


Sementara Rania yang mengetahui jika Wati sedang menatap nya dengan penuh ketakutan segera mendekatinya dengan senyum kecil di wajah nya.


Lalu Rania menjelaskan pada Wati jika dia tidak perlu takut lagi karena sekarang Petter sudah tidak ada disana lagi.


*


*


...Bersambung....