DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Arwah Pardi terpojok!!!


Lalu Rania berjalan mendekati Luna yang sedang berbicara dengan tatapan mata yang kosong, Rania mengajak Luna berbicara di sudut ruangan, supaya arwah Pardi tidak mendengar ucapan nya, tapi arwah Pardi nampak melesat mengikuti langkah kaki Rania, dan secara tidak sengaja Rania berteriak ke arah Pardi dan memintanya untuk tidak mengikuti nya.


"Jika kau nekat mengikuti ku, akan ku bacakan ayat-ayat suci supaya kau terbakar ketika mendengar nya." pekik Rania dengan membulatkan kedua matanya.


Nampak semua orang yang ada di dalam cafe itu tercengang, karena Rania tiba-tiba berteriak dan marah pada seseorang yang tak nampak wujud nya.


Pasti Rania sedang marah pada arwah yang sering mengikuti kak Luna, batin Wati seraya mengusap tengkuk nya.


"Sudah kak tidak apa-apa jangan takut ya, sepupu ku itu memang memiliki bakat untuk berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata, anggap saja dia sedang berbicara dengan manusia, supaya kakak semua tidak takut." jelas Wati pada semua pegawai Luna.


Lalu Desi berjalan mendekati Wati dan meremas lengan nya, karena bulu-bulu halus ditubus Desi meremang, nampak Wati meringis kesakitan seraya menepis tangan Desi.


"Aduh kak sakit tau." seru Wati dengan mengusap lengan nya.


"Ma maaf dek, aku jadi takut melihat sepupu mu berbicara sendiri." tukas Desi dengan keringat dingin yang membasahi kening nya.


Terlihat Rania mengajak Luna duduk di sudut cafe nya, nampak kedua berbicara sangat serius, sedangkan arwah Pardi yang merasa terancam karena gertakan Rania, hanya bisa berdiri mengambang di pojok ruangan cafe itu.


Ternyata Rania sedang membujuk Luna, untuk mempertahankan cafe nya itu, karena Luna sudah terpengaruh oleh arwah Pardi.


"Kakak harus lebih banyak beribadah, jangan tinggalkan shalat kak, jika tidak kakak akan semakin terpengaruh oleh arwah yang selalu mengikuti kakak." jelas Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Sudahlah Rania, keputusan ku sudah final, dan ini tidak ada hubungan nya dengan mistis, tapi kakak berterima kasih karena kau sangat perduli pada usaha kakak ini." ucap Luna seraya bangkit dari duduknya.


Nampak Luna tidak mau mendengarkan perkataan Rania, Luna memerintahkan semua pegawai nya untuk membereskan semua barang-barang yang ada di cafe nya.


Sementara Wulan yang berada di rumah terlihat sangat gelisah, perempuan itu tidak tenang memikirkan anak nya yang berniat menutup bisnis nya.


Lebih baik aku menyusul Luna ke cafe, dan menghentikan niat nya, karena sepertinya dia dalam pengaruh buruk seseorang, batin Wulan didalam hatinya.


Setelah Itu Wulan memesan taksi online, dan bergegas pergi ke cafe Luna, nampak dari halaman luar jika semua pegawai anak nya tengah mengemasi barang-barang.


Kemudian Wulan bergegas masuk ke dalam cafe, nampak di dalam sana ada dua orang gadis remaja yang sedang membujuk Luna untuk tidak menutup cafe nya, lalu Wulan melangkahkan kaki nya mendekati ketiga nya, seraya bertanya pada Rania dan Wati.


"Kalian siapa nduk cah ayu?." tanya Wulan dengan menyunggingkan senyum nya.


Kemudian Rania dan Wati menjawab pertanyaan Wulan dengan sopan, keduanya berkata jika mereka adalah pelanggan di cafe itu, dan Wulan memperkenalkan diri sebagai ibu Luna.


"Kenapa kalian bersikeras meminta Luna, supaya tidak menutup cafe nya nduk." seru Wulan dengan mengkerutkan kening nya.


Tapi tiba-tiba Luna menyahuti ucapan ibu nya, Luna berkata jika Rania hanya sedang menghibur nya saja.


"Luna ke belakang dulu ya bu, mau melihat pekerjaan disana." cetus Luna seraya berjalan ke dapur di ikuti arwah Pardi yang melesat dibelakang nya.


Terlihat Rania memicingkan kedua mata nya, menatap tajam pada arwah Pardi, yang selalu mengikuti langkah kaki Luna.


"Apa yang kau lihat nduk, apa ada yang salah dengan Luna?." tanya Wulan dengan mengkerutkan kening nya.


"Tidak ada yang salah dengan kak Luna kok tante, pasti Rania ini sedang melihat arwah gentayangan yang selalu mengikuti kak Luna." jawab Wati dengan menghembuskan nafas nya panjang.


"Ehm iya tante, Rania bisa melihat makhluk seperti itu, karena itu lah Rania memperingatkan kak Luna, tapi kak Luna tidak percaya dengan apa yang Rania lihat, sebenarnya makhluk itu lah yang sengaja membuat usaha kak Luna menjadi hancur." cetus Rania dengan menundukan kepala nya.


"Sebenarnya tante juga merasakan perubahan sikap Luna, beberapa hari ini dia sedikit kasar dan malas untuk beribadah." tukas Wulan dengan menatap punggung Luna.


"Tante minta tolong saja pada sesepuh desa kami, beliau mengerti dengan hal-hal mistis macam itu." jelas Wati dengan mengkerutkan kening nya.


Kemudian Wulan mengatakan pada Rania dan Wati, jika dia memiliki kerabat yang memgerti hal mistis juga, tapi karena terkendala waktu dia belum sempat mendatangi kerabat nya itu.


"Jika tante tidak keberatan, kami bisa membantu untuk menemui kerabat tante itu." sahut Rania meyakinkan Wulan.


"Astaga nduk mulia sekali hati kalian, padahal kalian tidak mengenal Luna secara langsung, tapi kalian tulus sekali ingin membantu nya." ucap Wulan dengan mata berkaca-kaca.


"Kami senang bisa membantu, itupun jika tante berkenan." celetuk Wati dengan senyum ramah nya.


Kemudian Wulan menuliskan alamat kerabat nya diselembar kertas, dan memberikan nya pada Rania, nampak Rania dan Wati bersamaan membaca alamat yang ditulis oleh ibu Luna, dan kedua nya pun terkejut seraya membulatkan kedua matanya.


"Tante tidak salah tulis kan." seru Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Itu sudah benar kok nduk, apa kalian keberatan setelah membaca alamat yang tante berikan." ujar Wulan dengan wajah sendu.


"Kami tidak keberatan tante, justru kami sangat paham dengan alamat yang tante berikan ini, kami pasti akan menemui kerabat tante itu." cetus Rania dengan menggenggam kedua tangan Wulan yang sedikit bergetar.


Lalu Rania memeluk tubuh perempuan tua itu, dan mengatakan kepada nya jika Luna akan baik-baik saja.


"Tante jangan cemas lagi ya, sekarang tante buat kak Luna sibuk saja, dan dia menunda semua pekerjaan nya, tunggu sampai kami datang membawa kerabat tante itu." jelas Wati.


"Benar tante tidak perlu hawatir lagi, kami akan membantu kak Luna supaya arwah jahat itu tidak mengganggu kak Luna lagi." tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Nampak dari kejauhan arwah Pardi memperhatikan Rania, Pardi seakan tau jika Rania berniat buruk padanya.


Aku harus mengawasi gadis itu, jangan-jangan dia ingin membuat Luna sadar kembali, dan tidak jadi menutup bisnis cafe nya, batin Pardi didalam hati nya.


Setelah itu Rania mengatakan pada Wulan, jika Luna harus dijauhkan dari arwah Pardi, karena hantu itu menyukai Luna dan ingin memiliki Luna seutuh nya.


"Tante ajak kak Luna untuk lebih banyak beribadah ya, dan putar saja murottal didekat kak Luna, supaya arwah itu menjauh dari kak Luna, karena dia selalu mengikuti kemanapun kak Luna pergi." cetus Rania memberitau segala nya pada Wulan.


"Jika arwah itu menyukai Luna, kenapa dia berniat menghancurkan bisnis Luna nduk?." tanya perempuan tua itu dengan mata berkaca-kaca.


"Sepertinya arwah itu terpaksa melakukan nya, karena dia dalam pengaruh dukun ilmu hitam." jawab Luna dengan mengkerutkan kening nya.


Kenapa sekarang aku dapat melihat sedikit gambaran dimasa lalu, batin Rania didalam hati nya, karena ketika dia memejamkan kedua mata nya, Rania dapat melihat sekilas wajah mbah Ngatimin, yang sedang memerintahkan arwah Pardi, untuk membuat hancur usaha Luna.


*


*


...Bersambung....