
Malam itu banyak warga yang datang melayat ke rumah mbah Warni, banyak dari mereka yang ketakutan jika anak cucu mereka mengalami nasib yang sama seperti Beni, lalu mereka semua nampak berbincang dengan mbah Wongso dan membujuknya supaya menetap saja di desa mereka dan melindungi semua warga disana.
Baguslah mereka sudah sangat percaya padaku, dengan begitu aku akan semakin mudah menumbalkan nyawa warga desa ini, batin mbah Wongso didalam hati nya.
"Aku akan mempertimbangkan permintaan kalian, yang terpenting adalah saat ini aku harus mengalahkan kalong wewe itu supaya dia tidak semakin menjadi, mungkin lusa aku akan melakukan ritual pemagaran dan pengusiran makhluk itu". Tukas mbah Wongso mempermainkan perasaan warga.
"Baiklah mbah jika memang itu keputusanmu, kami semua sangat berharap mbah Wongso bersedia tinggal di desa ini, apapun yang mbah butuhkan kami akan menyediakan nya". Ucap pak Manto.
Lebih baik aku memanggil salah satu hantu peliharaanku untuk menampakan diri dan menakuti warga yang lain nya, kemudian aku akan datang menolong mereka, supaya mereka menganggapku benar-benar ingin menolong mereka semua, dengan itu semua warga desa akan mendengarkan semua ucapanku, batin mbah Wongso didalam hati nya.
Setelah itu nampak mbah Wongso memejamkan kedua mata nya dan mulai membaca rapalan mantra untuk memanggil hantu peliharaan nya.
Syamhohirin syamkhohirin.
Kemudian datanglah sesosok kuntilanak yang beterbangan di langit malam dan mengitari wilayah desa itu, kuntilanak itu sudah mendapat perintah untuk meneror dan menakuti warga disana.
Dan tidak jauh dari rumah mbah Warni yang masih banyak warga melayat tiba-tiba terdengar suara teriakan bu Asti yang terkejut setelah melihat hantu kuntilanak tadi tengah berdiri mengambang di depan pintu kamar nya, dengan tatapan mata yang nanar dan suara cekikikan yang khas membuat bulu kuduk bu Asti meremang.
"Toloong toloong ada setaaan!". Seru bu Asti seraya berlari keluar rumah dan meninggalkan anaknya yang masih balita seorang diri didalam kamar.
Lalu beberapa warga yang berada di luar rumah mbah Warni berhamburan berlari ke rumah bu Asti.
"Ada apa to dek?". Tanya pak Manto suami bu Asti.
"Ada setan mas di dalam, tolong anak kita dia masih di dalam mas, aku takut". Jawab bu Asti dengan nafas tersengal-sengal.
Setelah itu nampak pak Manto dan dua warga lain nya memasuki rumah pak Manto untuk melihat keadaan anak nya Adel, tapi sesampainya mereka di depan kamar itu mereka semua terkejut karena kuntilanak yang di maksud bu Asti tidak ada disana bersamaan dengan anaknya yang masih balita pun hilang entah kemana.
"Adel kau dimana to nduk, Del ini bapak keluarlah nduk". Pekik pak Manto mencari keberadaan anak perempuan nya.
Lalu dua warga yang berada dibelakang pak Manto pun saling berbisik, mereka mengatakan jika anak pak Manto telah diculik oleh kuntilanak.
"Aku bisa dengar kalian bicara apa, jangan asal ngomong kalau kalian masih mau hidup!'. Seru pak Manto seraya mengeluarkan golok yang ada di dalam laci meja kamar nya.
"Lho kang jangan emosi gitu to kami kan niat nya mau membantu saja". Jelas pak Surip dengan mengkerutkan kening nya.
Setelah itu mereka bertiga bergegas keluar dari dalam rumah pak Manto untuk menemui mbah Wongso yang masih berada di rumah mbah Warni, terlihat bu Asti jatuh pingsan setelah mengetahui anak perempuan nya hilang dibawa kuntilanak tadi.
Terlihat wajah cemas semua warga ketika mendengar kabar hilangnya anak bu Asti dan pak Manto, sehingga satu persatu warga memutuskan untuk kembali ke rumah nya karena takut anak atau cucu nya akan dibawa kalong wewe ataupun kuntilanak tadi.
"Kalian tidak perlu takut satu persatu aku akan menyelesaikan semua masalah di desa ini, jika kalian semua pergi dari sini kasihan mbah Warni tidak ada yang menemani menunggu jenazah cucu nya". Bujuk mbah Wongso berusaha mengambil simpati warga.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan nyawa seorang anak kecil menjadi korban kekejaman makhluk halus di hutan ini". Tukas mbah Wongso seraya duduk di tanah dengan menyilakan kedua kaki nya.
Tidak berselang lama sosok kuntilanak itu datang bersama hantu-hantu yang lain nya membuat semua warga yang ada disana bergidik ketakutan, tapi mbah Wongso dengan kekuatan nya berhasil memasukan semua hantu-hantu itu ke dalam sebuah botol kaca yang didalam nya ada bunga tujuh rupa.
Semua warga berhasil diperdaya oleh mbah Wongso, karena sebenarnya mbah Wongso hanya menyimpan semua peliharaan nya ke dalam sebuah botol dan kapan saja dia bisa melepaskan nya, tapi karena sekarang dia butuh pembuktian untuk meyakinkan para warga pada dirinya, terpaksa mbah Wongso harus sedikit bersandiwara.
Setelah itu mereka semua diminta mbah Wongso untuk mencari anak pak Manto di dekat pohon-pohon yang tinggi karena biasa nya kuntilanak suka menyembunyikan sesuatu disana, dan benar saja akhirnya anak perempuan pak Manto ketemu dibalik pohon asem.
Bocah perempuan itu hanya diam duduk meringkuk seperti orang linglung, lalu mbah Wongso membacakan mantra dan mengusap wajah bocah itu dengan air yang sudah dia bawa di sebuah botol kayu, baru setelah itu anak pak Manto tersadar dan menangis minta pulang.
Nampak mereka semua sangat berterima kasih pada laki-laki tua licik itu, dan dengan enteng nya beliau meminta syarat untuk dapat membebaskan warga desa itu dari teror makhluk halus.
"Apa yang harus kami lakukan mbah". Ucap para warga.
"Cukup sediakan sepasang kerbau satu jodoh setiap malam bulan purnama selama lima kali saja, jika kalian ingin desa ini aman". Tukas mbah Wongso menyeringai penuh ketamakan.
Dan keesokan pagi nya jenazah Beni sudah siap untuk dibawa ke pemakaman, tapi kedua orang tua Beni masih belum sampai juga di desa itu untuk melihat jenazah anak nya yang terakhir kali nya.
Wah bisa celaka aku jika mayat bocah itu tidak segera dikuburkan, mereka semua akan tau jika mayat itu hanyalah batang pisang, batin mbah Wongso didalam hati nya.
"Lebih baik kita segera menguburkan jenazah ini, kasihan sudah terlalu lama menunggu". Saran pak modin pada mbah Warni.
Dan mbah Wongso tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, beliau ikut mengatakan jika jenazah Beni tidak segera dikuburkan akan memancing kedatangan kalong wewe itu untuk kembali menculik anak-anak yang ada di desa itu, dan dengan sangat terpaksa mbah Warni menuruti saran pak modin dan bergegas menguburkan jenazah cucu nya itu.
Pagi itu suasana harus semakin terasa disaat jenazah Beni akan dimasukan kedalam liang lahat, karena mbah Warni nampak histeris dan berderai air mata meratapi kepergian cucu nya untuk selama nya.
"Sudah mbah yang ikhlas dan legowo". Ucap Kasmi menenangkan mbah Warni seraya memeluk tubuh janda tua itu.
Sedangkan Kasmi yang merasa banyak kejanggalan di desa orang tua nya berniat untuk menghubungi pak Jarwo suami nya, dan menceritakan berbagai kejadian gaib yang terjadi di desa orang tua nya itu.
"Mbok nanti aku akan meminta kangmas Jarwo untuk segera datang kesini, supaya dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di desa ini". Cetus Kasmi pada ibu nya yang sedang membantu memapah mbah Warni kembali ke rumah nya.
*
*
...Bersambung....
...Yuk kak beri semangat author dengan memberikan Vote atau hadiah nya, karena sekecil apapun dukungan kalian sangat berarti untukku, terima kasih sudah selalu memberikanku dukungan dengan terus membaca ceritaku ini, salam sayang untuk kalian semua Love u all 💕...