
"Gus Bagus bangun Le kenapa kau pingsan disini". Ucap bu Ani dengan cemas.
Lalu bu Ani berusaha membopong anaknya kembali ke kamar nya tapi justru dia terkejut melihat penampakan hantu yang baru saja mengejutkan anaknya sampai pingsan.
"Astaga di diaa jadi haaantuu". Seru bu Ani yang terkejut melihat penampakan bu Jamilah yang sekarang menjadi kuntilanak dan meneror keluarga nya.
Setelah itu bu Ani berjalan setengah berlari membopong Bagus kembali ke kamar nya.
"Kang lihat lah anakmu pingsan dia takut melihat penampakan hantu si lintah darat itu". Ucap bu Ani pada pak Slamet yang sedang duduk di atas tempat tidur nya.
"Apa maksudmu dek?'. Tanya pak Slamet yang belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Ternyata si lintah darat itu mati penasaran dan menjadi hantu, sekarang dia datang ke rumah kita untuk menakuti anak kita, tapi tenang saja besok pagi pagi sekali aku akan pergi ke desa orang tua ku dan mencari tolak balak supaya hantu lintah darat itu tidak dapat mengganggu keluarga kita lagi". Seru bu Ani dengan membulatkan kedua bola mata nya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang dek jika hantu itu datang kemari". Tukas pak Slamet yang hawatir dengan keselamatan anak dan istri nya.
"Tenang saja kang, kau jaga saja anak kita aku akan berusaha terjaga supaya hantu itu tidak dapat menakuti anak kita lagi". Terang bu Ani yang sedang menaruh rajah di depan pintu kamar nya.
*
*
Pagi pun tiba bu Ani berpamitan pada pak Slamet karena dia harus pergi ke desa orang tua nya, sementara Bagus anak laki laki nya yang sudah terbangun sekarang tergeletak di tempat tidur nya karena badan nya demam setelah terkejut melihat hantu bu Jamilah yang sekarang menjadi kuntilanak itu.
Peter melihat kepergian bu Ani dari depan rumah Rania tapi dia tidak mengikutinya karena bu Ani tidak berjalan ke arah rumah bu Jamilah.
Jika dia tidak pergi ke rumah itu lebih baik aku tidak mengikutinya, gumam Peter didalam hati nya.
Sementara bu Ani yang sudah sampai di desa orang tua nya meminta Harto adiknya untuk mengantarnya ke rumah mbah Sapto, tapi Harto menolak permintaan mbakyu nya itu, sehingga terjadi sedikit perdebatan.
"Apa kau tega Har melihat keponakanmu ketakutan setiap malam karena di ganggu hantu lintah darat itu, lihat lah sekarang Bagus sedang sakit setelah melihat hantu perempuan terkutuk itu". Pekik bu Ani pada adik laki laki nya yang ikut terkejut mendengar jika bu Jamilah sekarang menjadi hantu yang penasaran.
"Apa Bagus sakit mbakyu". Seru Harto dengan wajah yang cemas.
"Kau pikir kenapa aku buru buru datang sepagi ini, jika bukan karena anakku". Seloroh bu Ani dengan mata berkaca kaca.
"Mungkin mbakyu harus menyudahi dendam pada keluarga bu Jamilah cukup dia saja yang mbakyu jadikan korban supaya tidak ada hal buruk yang akan terjadi lagi". Ucap Harto menasehati mbakyu nya.
Kemudian Harto mengantar mbakyu nya kembali ke gubuk tua mbah Sapto melewati hutan angker yang ada disana.
Kreaak...
Terdengar suara pintu gubuk tua itu terbuka sendiri, kali ini Harto ikut masuk kedalam gubuk tua itu.
Bulu kuduknya meremang membuatnya mengusap belakang tengkuk nya.
"Kau tidak perlu takut masuk kedalam rumahku". Ucap mbah Sapto yang tiba tiba saja ada didepan Harto menatap ke arah nya dengan seringai kecil di wajah nya.
Astaga hampir saja jantungku mau lepas, batin Harto didalam hati nya.
Lalu mbah Sapto mempersilahkan kedua nya untuk duduk dan memberinya segelas air putih.
"Minumlah". Pinta mbah Sapto dengan memanggut manggutkan Kepal nya.
Terlihat bu Ani langsung meminum air pemberian mbah Sapto, sementara Harto yang nampak ragu meminumnya hanya menatap gelap air putih yang sudah ada didepan nya.
"Kau tidak usah takut Le, itu hanya air putih biasa". Celetuk mbah Sapto mengagetkan Harto dari lamunan nya
Dengan berat hati Harto meminum air putih itu, dan setelah meminum nya nampak Harto sedikit tenang dan tidak ada wajah cemas lagi saat berada di gubuk tua itu.
Kemudian bu Ani menjelaskan semua yang ada didalam pikiran nya, dia meminta jimat supaya keluarga nya tidak di ganggu oleh hantu bu Jamilah.
Mbah Sapto memberikan jimat berupa kalung dengan mantra yang sudah tertulis didalam bungkusan kain hitam itu, dan meminta semua keluarga nya untuk memakai kalung itu dimanapun dan melarang nya untuk melepaskan nya jika mereka tidak ingin di hantui oleh hantu bu Jamilah lagi.
"Baiklah mbah saya mengerti, terima kasih sekali lagi sudah menolongku". Ucap bu Ani dengan memberikan amplop berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
*
*
...Bersambung....