
Setelah memacu kemudinya selama hampir 30 menit akhirnya Anto berhasil membawa pak Eko ke Rumah sakit terdekat, nampak beberapa perawat datang dan membawa pak Eko menuju ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Alhamdulillah To kita akhirnya bisa sampai ke Rumah sakit juga". Ucap pak Dahlan dengan seringai kecil diwajah nya.
"Iya pak untung saja kita tidak disesatkan kembali, ngomong-ngomong selagi kita menunggu pak Eko bagaimana kalau kita menjenguk bu Ema sebentar". Ajak Anto pada pak Dahlan.
Setelah itu keduanya melangkahkan kaki nya menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang sangat panjang, nampak suasana Rumah sakit itu sangat menyeramkan dimalam hari karena minim nya pencahayaan dan juga sepi nya lalu lalang membuat kedua berjalan berdempetan.
"To perasaan kita sudah melewati lorong ini tadi". Seru pak Dahlan dengan menunjukan papan nama gedung Rajawali.
"Ah masa iya pak, mungkin perasaan pak Dahlan saja bukan nya lorong rumah sakit sangat panjang, pasti ini lorong yang tembus ke tempat kita berjalan sebelumnya". Jelas Anto dengan berpikiran positif supaya tidak menimbulkan keresahan pada pak Dahlan.
Dan setelah mendengar penjelasan Anto pak Dahlan berusaha menepis pikiran buruknya dengan mempercayai jika lorong itu saling menembus jalan nya, tapi setelah mereka berjalan hampir 10 menit mereka kembali lagi ke papan petunjuk dengan tulisan gedung Rajawali.
"To apa kau yakin jalan ini tembus ke tempat awal kita berjalan, perasaan dari tadi kita hanya berputar-putar disini saja". Ucap pak Dahlan dengan memegang belakang tengkuk nya.
"Tunggu sebentar deh pak, sepertinya kali ini kau benar jika kita hanya berputar disini saja, apakah ada makhluk halus yang menyesatkan kita lagi". Tukas Anto dengan memandang ke segala arah.
"Lebih baik kita tenangkan pikiran dulu disini dengan membaca doa dan meminta pentunjuk pada Allah, supaya kita dapat menemukan jalan yang benar". Cetus pak Dahlan seraya menengadahkan tangan nya ke atas dan berdoa pada Allah.
Setelah berdoa mereka melanjutkan perjalanan nya kembali untuk mencari ruang rawat inap bu Ema, dan akhirnya mereka bisa menemui seorang perawat yang sedanv berjalan seorang diri disebuah lorong yang sedikit gelap.
"Permisi sus kami mau nanya ruang rawat inap yang biasa dipakai untuk isolasi disebelah mana ya?". Tanya Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Dan tanpa menjawab perawat itu hanya menunjukan arah dengan mengangkat jari telunjuknya ke sebelah kanan nya, sementara Anto dan pak Dahlan memalingkan wajah nya untuk melihat lorong disebelah kanan mereka.
Ketika mereka ingin mengucapkan terima kasih, perawat itu sudah berjalan lurus ke depan sementara Anto yang merasa dibantu berteriak mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut, dan nampak dari belakang dia hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh.
Dan tanpa berpikir lama lagi Anto bersama pak Dahlan melangkahkan kaki nya ke sebuah lorong yang sedikit kuno tidak seperti bangunan lorong yang sebelumnya, di lorong itu mereka berdua menjumpai banyak orang yang sedang berlalu lalang disana tapi mereka semua hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong.
Pak Dahlan yang sedikit merasa aneh disana berusaha mengingatkan Anto apakah ini benar lorong yang akan menuju ke ruang bu Ema, tapi Anto juga terlihat bimbang karena dia tidak dapat mengingat ke arah mana lagi dia harus berjalan supaya dapaf menemukan ruang rawat inap bu Ema.
"Aduh pak kok aku jadi lupa ya, waktu itu aku kesini kan bareng-bareng sama perawat jadi aku tidak begitu memperhatikan nya, lebih baik kita bertanya lagi pada orang lain". Seru Anto seraya berjalan mendekati security yang ada didepan nya.
Kemudian Anto bertanya pada security yang mengenakan seragam berwarna coklat muda yang sedang berdiri didepan pintu bangsal anak-anak.
"Selamat malam pak saya mau bertanya ruang inap isolasi disebelah mana ya". Tukas Anto dengan mengernyitkan dahi nya karena dia merasa mencium bau busuk disana.
"Lurus belok kiri setelah kamar mayat". Ucap security itu dengan suara datar dan tanpa memalingkan wajahnya.
Nampak Anto mengucapkan terima kasih seraya berjalan meninggalkan security itu, sedangkan pak Dahlan yang mulai merasa aneh membalikan badan nya dan melihat ke arah security tadi, betapa terkejutnya pak Dahlan setelah melihat wujud asli security itu karena usus diperut nya nampak terburai keluar dengan wajah menyeramkan nya.
"Ada apa pak?". Tanya Anto yang ingin membalikan badan nya dan melihat apa yang membuat pak Dahlan begitu terkejut.
Lalu dengan cepat pak Dahlan membalikan badan Anto ke depan, supaya dia tidak panik karena melihat wujud asli dari security yang dia ajak bicara tadi.
"Sudahlah To tidak ada apa-apa aku hanya kaget saja ada burung yang tiba-tiba hinggap di pohon sana". Jawab pak Dahlan membohongi Anto.
"Ah pak Dahlan ini bikin aku kaget saja, kirain ada apa sampai nyebut begitu". Tukas Anto dengan menghembuskan nafas yang panjang.
Dan tiba-tiba saja kedua nya berhenti mendadak ketika akan melewati kamar mayat, karena disana sepertinya baru saja ada yang meninggal dunia karena ada beberapa keluarga nya yang ingin membawa pulang jenazah dari kamar mayat tersebut.
"Pak lebih baik kita langsung jalan saja, karena jika kita menunggu keluarga itu selesai mengurus kepulangan jenazah nya pasti akan sangat lama". Celetuk Anto dengan menepuk pundak hansip yang ada disebelah nya membuyarkan lamunan nya.
"Kau yakin To... Tidak mau menunggu disini dulu". Ucap pak Dahlan dengan mengusap peluh dikening nya.
"Yakinlah pak, jika kita menunggu akan memakan waktu lama". Jelas Anto seraya melangkahkan kaki nya melewati kamar mayat yang sedang ramai pengunjung itu.
Lalu Anto dan pak Dahlan berjalan melewati beberapa pengunjung yang sedang ramai didepan kamar mayat, tapi keadaan disana benar-benar sunyi karena tidak ada seorangpun dari mereka yang menangis karena kematian salah satu keluarga nya.
Karena Anto sibuk dengan pikiran nya sendiri, akhirnya dia terpeleset dan menyenggol salah satu dari pengunjung itu.
"Maaf bu saya tidak sengaja". Tukas Anto yang sudah tersungkur di lantai lorong Rumah sakit itu.
Dan saat Anto berusaha bangkit dan mengarahkan pandangan nya ke seorang perempuan yang tadi dia senggol, nampak mata Anto terbelalak dan mulut nya terbuka lebar karena melihat wujud perempuan itu, dilihatnya perempuan yang dia senggol tadi memiliki wajah yang setengah hancur dengan bola mata yang nyaris terlepas dua-dua nya.
"Ssee... Se... Sseettaaan". Pekik Anto seraya berlari meninggalkan pak Dahlan yang ada di belakang nya.
Kemudian pak Dahlan yang menyadadi kejanggalan disana ikut berlari dibelakang Anto yang sedang sangat ketakutan setelah melihat wujud menyeramkan didepan lorong kamar mayat tadi, lalu dia menghentikan langkahnya dengan nafas yang tersengal-sengal sementara pak Dahlan yang mengikuti Anto dari belakang berusaha mengejarnya dan menepuk pundaknya dari belakang.
Tapi belum sampai pak Dahlan mengeluarkan kata-kata nya nampak Anto berjongkok lalu menutup kedua mata nya menggunakan tangan, dengan badan yang gemetaran dia memohon ampun supaya tidak di teror lagi.
"To sadarlah ini aku pak Dahlan". Seru pak Dahlan dengan menepuk-nepuk wajah Anto.
Setelah mendengar suara pak Dahlan Anto mulai membuka kedua tangan nya yang menutupi kedua matanya, lalu Anto menghembuskan nafas nya panjang karena merasa lega dia bisa melihat pak Dahlan lagi di situasi yang mencekam saat itu.
*
*
...Bersambung. ...