DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Terbongkarnya jati diri Bima!!!


Rania gelisah menanti mbah Karto dan pak Jarwo di depan pintu, tidak berselang lama pintu itu terbuka, nampak mbah Karto dan pak Jarwo tertunduk dengan wajah yang sendu.


"Mbah aku sudah mengetahui semuanya, mas Bima itu pelakunya". Cetus Rania dengan wajah cemas.


"Iya nduk kami sudah melihat semuanya, disaat kami menyatukan kekuatan sangat jelas di penglihatanku jika Bima lah yang menyembah buto ireng itu, tapi satu yang belum terpecahkan, Bima melakukan semua itu tidaklah sendiri, ada sosok bapaknya di balik semua ini, dan yang membuatku semakin terkejut adalah nama bapaknya adalah Wongso, bukankah itu suatu kebetulan jika bapak Bima bernama Wongso juga". Tukas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


"Apa mbah, bapaknya mas Bima bernama Wongso". Seru Rania dengan membulatkan kedua matanya.


Kemudian mbah Karto mengajak pak Jarwo untuk mencari Bima di pondoknya, dan tidak lupa berpesan pada Rania jika dia harus tetap berada di rumah, karena mbah Karto sudah tau jika tadi Rania sempat mengikutinya ke pondokan Bima.


"Maafkan Rania ya, tadi Rania sempat membuat kebodohan dengan mengikuti mbah Karto dan pak Jarwo diam-diam kesana, untung ada aunty Evana yang memintaku pergi dari sana". Jelas Rania dengan menundukan kepalanya.


"Lalu dimana Petter dan Jansen nduk?". Tanya pak Jarwo yang menyadari jika kedua hantu itu tidak terlihat disana.


Kemudian Evana melesat mendekati pak Jarwo dan mengatakan jika sejak mencari Rania di hutan tadi, keduanya belum terlihat sama sekali.


Lalu nampak mbah Karto mengkerutkan keningnya dan membaca rapalan mantra untuk melihat dimana kedua hantu itu.


INGSUN AMETIK AJIKU SI MOYONGGOSETO, INGSUN DATOLLOH, MALAIKAT PAPAT, JIBRAIL, NGISROPIL, NGIZROIL, MIKAIL LAN SEBALANE KABEH, SIRO PODO INGSUN KONGKON DUDOHNO NEG ENDI PARANE DEMIT LONDO KAE, ASTAGHFIRULLOOHAL ADZIIM.


Kemudian mbah Karto memejamkan kedua matanya, dan melalui mata batin nya mbah Karto dapat melihat dengan jelas jika Petter sudah ditangkap oleh seseorang di hutan sana, sedangkan Jansen yang mengetahui jika anaknya dikurung seseorang, saat ini dia sedang berusaha menyelamatkan anaknya.


Nampak guratan cemas di wajah tua mbah Karto, Evana yang merasa ada kejanggalan berusaha bertanya pada mbah Karto dimana keberadaan Petter saat ini.


"Evana kau harus tenang dulu, aku curiga jika Bima sudah menangkap Petter dan mengurungnya di suatu tempat, Jansen sedang mencari Petter di hutan, mari kita bantu dia sekarang". Tukas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Setelah itu mereka bergegas ke hutan untuk mencari Bima dan menyelamatkan Petter, nampak Evana melesat terlebih dulu karena dia sangat ingin menyelamatkan jiwa anaknya yang sedang terancam bahaya, meskipun Petter adalah jiwa tanpa raga, sesuatu hal yang buruk tetap bisa menyakitinya dan yang terburuk Petter tidak akan bisa kembali ke alam keabadian selamanya, karena itulah Evana sangat cemas dan mencari Petter ke berbagai penjuru hutan itu.


Sampai pada akhirnya Jansen dan Evana saling bertemu, mereka bersama-sama mencari Petter ke dekat air terjun itu tapi yang mereka jumpai hanya Bima yang sedang sibuk menata perlengkapan untuk sesajen nya.


Nampak Evana sudah tidak bisa menahan amarahnya, lalu dia berusaha menyerang Bima dari belakang, tapi ternyata serangan Evana tidak berhasil mengenai Bima, karena Bima membawa pusaka yang pernah Ki Ageng sedo berikan padanya.


Bima yang terkejut ada kilatan cahaya dengan sepercik api yang melewatinya membalikan badan nya, dia menatap tajam ke arah Evana dan Jansen yang sedang berdiri mengambang dibelakangnya.


"Dasar setan rendahan, ilmu kalian itu sangat rendah, berani sekali kalian melawanku, akan ku buat nasib kalian sama dengan setan kecil itu". Seru Bima dengan membulatkan kedua matanya.


"Dimana anakku, lepaskan dia". Pekik Evana yang melakukan perlawanan pada Bima.


Tapi seperti yang terjadi sebelumnya, kekuatan Evana tidak dapat menyentuh Bima.


Ternyata benar ucapan Ki Ageng sedo suatu saat aku akan membutuhkan pusaka ini, batin Bima dengan seringai diwajahnya.


Lalu Bima yang merasa di atas angin karena serangan yang ditujukan padanya selalu menembus dirinya, dia melakukan penyerangan balik pada Evana dan Jansen.


"Akan ku buat kalian berdua berkumpul bersama setan kecil itu". Seru Bima dengan membacakan mantra-mantra seraya membuka tutup botol itu.


Dan tidaj berselang lama jiwa Evana dan Jansen seperti tersedot ke dalam botol yang dipegang Bima, bersamaan dengan itu nampak mbah Karto dan pak Jarwo tercekat karena melihat kedua hantu yang dikenalnya akan ditangkap oleh Bima.


"Bima hentikan perbuatanmu itu". Pekik pak Jarwo dengan membulatkan kedua matanya.


Tapi Bima tidak memperdulikan ucapan pak Jarwo dan terus membacakan mantra untuk menarik kedua hantu itu ke dalam botol yang dipegang nya.


Wuuuuhsh...


Akhirnya jiwa kedua hantu itu sudah tersedot ke dalam botol ajaib yang dibawa Bima, nampak mbah Karto mengkerutkan keningnya dan menatap kedua mata Bima yang sedang memandangnya dengan angkuh dan sombong.


Tatapan mata itu, itu adalah tatapan mata adikku Wongso, aku tidak pernah salah menilai, aku mengenali sorot mata adikku itu, bagaimanapun Wongso adalah adik kandungku, dan aku sangat mengenali tatapan matanya, batin mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Setelah itu pak Jarwo melakukan perlawanan dengan kekuatan yang dimilikinya, tapi sama seperti Evana dan Jansen serangan pak Jarwo selalu gagal mengenainya, dan dengan sekali hempasan saja Bima mendorong tubuh pak Jarwo hingga terjungkal ke tanah dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.


Terlihat mbah Karto hanya menghembuskan nafasnya panjang dan membantu pak Jarwo untuk bangkit, lalu mbah Karto meminta pak Jarwo untuk duduk diam disana karena mbah Karto akan membicarakan sesuatu pada Bima.


Dengan langkah yang gontai mbah Karto berjalan menghampiri Bima, keduanya saling memandang dengan tatapan mata yang tajam.


"Adikku Wongso, aku tau kau adalah adik kandungku, dulu aku sering mengajarimu ilmu kebatinan dan kau salah jalan, tatapan matamu itu tidak pernah berubah, selalu dingin dan penuh dengan ketidakpuasan, apa yang kau lakukan selama ini itu salah, bertobatlah Wongso". Ucap mbah Karto dengan menatap kedua mata Bima.


Gawat kangmas Karto mengenaliku, karena terlalu emosi aku sampai lupa jika dia akan mengenaliku dari tatapan mataku ini, batin Bima dengan mengkerutkan keningnya.


"Aku bukanlah adikmu lagi tua bangka, apa kau tidak melihat jika sekarang aku sudah jauh lebih muda, bahkan sekarang kesaktian ku sudah melebihi dirimu, jadi jangan pernah berharap untuk bisa mengalahkanku". Pekik Bima dengan tertawa lepas.


"Bagaimanapun kau saat ini, kau tetaplah adik kandungku Wongso, dan aku tidak pernah berharap untuk mengalahkanmu, hanya satu yang aku minta sejak dulu, kau bisa berubah menjadi manusia yang beriman dan tidak serakah harta dan tahta, bertaubatlah adikku selagi kau masih bisa menghembuskan nafasmu". Cetus mbah Karto menatap sendu Bima.


"Sudahlah kau tidak usah berbasa-basi padaku, bukankah kau kesini untuk bertarung denganku". Seru Bima dengan mendongakan kepalanya ke atas.


Sementara pak Jarwo yang sedang terluka nampak terkejut dengan apa yang didengarnya, pak Jarwo tidak pernah menyangka jika mbah Karto memiliki seorang adik yang selama ini ada didekatnya.


*


*


...Yuk tinggalkan jejak Vote dan hadiahnya untuk author, karena Vote dan hadiah dari kalian sangat berharga bagiku, sebagai penambah semangat disaat kondisi ku sedang down untuk menulis bab baru, ditunggu dukungan dari kalian semua ya para pembaca tercinta 💕...


...Bersambung....