
Malam itu simbah Parti nampak berkumpul dengan keluarga nya, tidak ada yang bergurau malam itu, semua terdiam dengan pikiran nya masing-masing, entah apa yang mereka semua pikirkan, dan tiba-tiba simbah mengeluh jika dada nya terasa sakit.
Terlihat semua orang sangat panik dan meninggalkan aktifitasnya, nampak Dedy membopong tubuh simbah Parti ke ranjang nya, di ikuti bude Walimah yang membawakan obat-obatan simbah.
"Ini mbah obat nya diminum dulu, simbah jangan banyak pikiran, masa anak cucu berkumpul simbah malah kambuh sakitnya". Ucap bude Walimah dengan wajah sendu nya.
"Aku tidak apa-apa nduk, sudah kalian ngobrol-ngobrol saja di luar, jangan hawatirkan aku". Ujar simbah Parti yang memejamkan kedua matanya.
Nampak mereka semua keluar dari kamar simbah, hanya ada Rania yang masih berdiri mematung dan memandang ke segala arah.
Dimana bayangan hitam yang dimaksud Petter, aku ingin melihatnya sendiri, dan aku yang akan memintanya menjauh dari simbahku, batin Rania didalam hatinya.
Wuush...
"Kau mencari siapa Rania?". Tanya Petter yang melesat menghampirinya.
"Bukankah kau bilang ada bayangan hitam didekat simbahku, karena itu lah aku sedang mencarinya". Jawab Rania dengan mengkerutkan keningnya.
"Aku memang mengatakan nya Rania, tapi bayangan hitam itu tidak selalu ada didekat simbah, hanya di saat-saat tertentu saja, jadi tidak ada guna nya kau berjaga disini". Jelas Petter yang melesat meninggalkan Rania.
Kemudian Rania berjalan gontai ke kamarnya, tapi mama Rania menghentikan langkah anak gadisnya itu.
"Rania sayang sudah lama kita tidak duduk bersama dan berbagi cerita, apa tidak ada yang ingin kau sampaikan pada mama nak". Ucap Anggi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu Rania memeluk mama nya dengan erat seraya membisikan kata rindu pada mama nya.
"Rania kangen sama mama papa, tapi maafin Rania ya tidak bisa ikut pindah ke Kalimantan". Bisik Rania ditelinga mama nya.
"Tidak apa-apa jika Rania tidak mau pindah ke Kalimantan, yang terpenting Rania bisa fokus belajar dimanapun tempatnya". Jelas Anggi seraya mengecup kening anak gadisnya.
"Terima kasih mama, sekali lagi maafkan Rania ya". Tukas Rania mendekap mama nya dengan penuh cinta.
Kemudian papa Rania datang dan mengatakan, jika dia ingin berbicara dengan semua orang.
"Ayo sayang kita ke ruang tamu, ada yang ingin papa sampaikan pada kalian semua". Tukas Dedy seraya menggandeng kedua perempuan yang sangat dicintainya.
"Ada apa papa mengumpulkan semua orang disini?". Tanya Rania dengan mengkerutkan keningnya.
"Tadi siang simbah mengatakan sesuatu yang membuatku hawatir, simbah berbicara tentang kematian dan pergi jauh, bahkan simbah berpesan padaku untuk menjaga mbakyu Walimah dan juga Wati, jujur aku sangat takut mendengar ucapan simbah, entah kenapa aku memiliki firasat yang buruk". Cetus Dedy dengan memijat pangkal hidungnya.
"Papa jangan hawatir lagi ya, Rania akan menjaga simbah dari bayangan hitam itu". Celetuk Rania membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu tercekat.
"Apa kau melihat sesuatu Ran". Seru bude Walimah dengan membulatkan kedua matanya.
Nampak Rania menghembuskan nafasnya panjang, dia tidak sengaja mengucapkan itu dihadapan semua keluarganya.
Aduh bagaimana ini, apa yang harus ku katakan pada mereka, sebenarnya kan Petter yang melihatnya, batin Rania didalam hatinya.
"Begini bude, sebenarnya Petter yang melihatnya dan dia memberi tau ku tentang bayangan hitam itu, bude tau kan siapa Petter itu". Tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku belum melihatnya bude, justru tadi aku sedang mencari bayangan hitam yang dimaksud Petter, tapi aku tidak melihatnya di kamar simbah". Jawab Rania dengan menundukan kepalanya.
Terlihat Anggi dan Dedy saling memandang, mereka tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rania dengan bude Walimah, lalu Anggi pun membuka pembicaraan, menanyakan tentang Petter yang di sebut-sebut Rania dan bayangan hitam apa yang dilihatnya.
"Mama tau kan semenjak Rania pindah ke desa ini, tiba-tiba saja Rania memiliki bakat untuk melihat makhluk yang tak kasat mata, nah Petter itu adalah sahabat Rania sejak pertama kali pindah ke sekolah". Jelas Rania pada mama nya.
Lalu Rania mengatakan pada semua keluarganya, jika bayangan hitam yang dimaksud Petter adalah bayangan kematian yang sering mengikuti seseorang sebelum ajal menjemputnya.
Terlihat semua orang terkejut dan berlinang air mata, hanya Dedy saja yang nampak tegar dengan wajah sendu nya.
"Sudah ya Rania jangan diteruskan lagi ceritanya, mungkin itu hanya bayangan hitam biasa yang tidak sengaja melintas, besok pagi papa dan mama akan membawa simbah kontrol ke dokter yang ada di kota". Jelas Dedy dengan memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah Ded mungkin lebih baik kita semua istirahat saja, supaya besok kita bisa bangun pagi dan membawa simbah periksa ke dokter". Tukas bude Walimah dengan mata berkaca-kaca.
Nampak Wati menenangkan ibu nya dan mengajaknya kembali ke kamar untuk istirahat, sedangkan Rania yang masih sangat cemas nampak bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar simbah Parti.
Kreeaaak...
Rania mendorong pintu kamar simbah yang tidak tertutup rapat, nampak disana hanya ada simbah Parti yang sedang terlelap di atas ranjang nya.
Mungkin lebih baik aku menemani simbah di kamarnya, jadi aku bisa melihat bayangan hitam yang dimaksud Petter, batin Rania didalam hatinya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Wuush...
Terasa udara dingin menerpa tengkuk Rania, lalu Rania membalikan tubuhnya, ternyata ada Evana dan juga Jansen yang baru saja datang dari warung bakso pak Rahmat.
"Rania aku tidak tau harus bagaimana lagi untuk membantu Bambang, bahkan hari ini Pardi juga tidak terlihat di warung bakso pak Rahmat, dan pak Rahmat sendiri sudah meminta jimat pada dukun langganan nya, supaya kami tidak bisa mendekatinya lagi". Ucap Evana yang berdiri mengambang dengan wajah cemas.
"Apa kau yakin aunty jika Pardi tidak terlihat di warung bakso itu, jangan-jangan dia melarikan diri karena ketakutan". Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu Evana mengatakan pada Rania, jika pagi tadi arwah Bambang masih melihat Pardi di rumah mess nya, tapi semenjak Pardi pergi bersama pak Rahmat, Pardi tidak terlihat lagi disana, dan Bambang memiliki firasat buruk tentang Pardi yang tiba-tiba menghilang.
"Mungkin Pardi pulang ke kampungnya aunty". Sahut Rania.
Kemudian Evana mengatakan pada Rania, jika semua pakaian dan barang-barang Pardi masih ada disana termasuk ponsel yang masih di isi daya batrei nya.
"Jadi ponsel Pardi masih ada di rumah mess nya, pantas saja Bambang jadi curiga, jangan-jangan pak Rahmat berbuat yang tidak-tidak pada Pardi". Tukas Rania dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu Evana mengatakan pada Rania, jika dia tidak bisa leluasa membantu Bambang, karena jimat yang dipakai pak Rahmat membuatnya kesakitan setiap kali Evana berusaha mendekatinya.
*
*
...Yuk panjangkan list Vote dan hadiahnya, supaya author lebih semangat lagi....
...Bersambung....