
Kemudian mbah Karto berjalan tertatih, dengan di gandeng Rania disamping nya, nampak Anto bangkit dari duduknya menghampiri sesepuh desa itu, seraya memohon bantuan padanya.
"Mbah tolong lakukan apapun supaya kangmas Ari sadar, dia sama sekali tidak merespon ucapanku, bahkan tubuhnya sangat dingin seperti mayat, padahal detak jantung nya masih berdetak." jelas Anto dengan wajah sendu.
"Aku mengerti kehawatiranmu To, tapi sepertinya kali ini, tidak dapat yang bisa ku lakukan, Ari sudah berbuat sesuatu dibatas kedudukan nya sebagai manusia normal, bahkan dia sudah mengetahui konsekuensi, jika dirinya melakukan perbuatan nekat nya itu, tapi dengan sadar diri Ari melakukan semua larangan itu, sehingga dia kehilangan jiwa nya, mungkin saat ini jiwa Ari sedang berada di suatu tempat yang tak bisa kita ketahui, hanya Alloh saja yang dapat mengembalikan jiwa Ari pada raga nya, lebih baik kita semua membacakan doa, supaya jiwa Ari di alam gaib sana tetap baik-baik saja." tukas mbah Karto dengan menghembuskan nafas nya panjang.
Lalu sesepuh desa itu duduk disamping tubuh Ari, yang tergeletak tanpa ada nya tanda-tanda kehidupan, nampak mbah Karto memegang pergelangan tangan nya, seraya membacakan rapalan mantra.
Sayu-sayu terdengar suara mbah Karto yang membaca mantra dengan memejamkan kedua mata nya.
Bismillahir rahmanir rahim. Sir eling jatining urip, iku ingsun sejatining urip, sira sejatining Allah, ya ingsun sejatining Allah, sir iku Rasulullah pangucap iku Allah, jasad Allah badan putih tanpa getih, sir Alla rasa Allah, sir rasa jatining Allah, iya ingsun jatining Allah.
Setelah itu nampak di penglihatan batin mbah Karto, jika Ari nekat memasuki alam gaib yang ada di hutan wingit, nampak Ari dengan berani berusaha memasuki pagar gaib alam itu, karena dia ingin bertemu dengan Sukma melati, tapi naas bagi Ari karena yang datang menemui nya adalah penguasa alam gaib hutan itu, dengan amarah yang menguasai dirinya, raja itu menghisap jiwa Ari sampai terlepas dari dalam raga nya, sepertinya penguasa itu sengaja mengambil jiwa Ari, supaya dia tidak berhubungan dengan putri nya Sukma.
Memang semua ini kesalahan Ari, dia dengan sadar menantang maut nya sendiri, jika sudah begini aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku dan Jarwo sudah pernah berjanji pada pangeran Asopati, jika kelak Ari berulah kami tidak akan menyelamatkan nya kembali, janji adalah janji yang harus ditepati, aku tidak bisa ikut campur lebih dalam lagi, batin mbah Karto didalam hatinya, dengan berlinang air mata kesedihan.
Setelah itu terlihat mbah Karto membuka kedua mata nya, beliau hanya tertunduk diam seribu bahasa, dipandangi nya Anto yang nampak cemas menatap kangmas nya yang seperti mayat hidup, hati sesepuh desa itu tak kuasa menahan pilu, lalu beliau meminta Anto untuk menjemput pak Jarwo di rumah nya, karena mbah Karto memerlukan bantuan nya.
"Saat ini kondisi tubuh ku sedang tidak sehat Le, aku tidak bisa berbuat banyak, untuk menolong kangmas mu, pergi dan bawalah Jarwo kemari, karena setelah ini aku akan ke dokter bersama Rania, tubuh tua ku memerlukan pengobatan dari dokter." tukas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
Sementara mbah Karto dan Rania pergi ke dokter, untuk mengetahui kondisi kesehatan sesepuh desa itu, Anto menitipkan kangmas nya pada pak Dahlan dan warga lain nya, Anto mengendarai sepeda motor nya ke desa Randu garut, di teras rumah itu nampak adik ipar pak Jarwo Lala tengah duduk, dengan menyulam beberapa tumpukan kain yang ada dihadapan nya.
"Assalamuallaikum." seru Anto seraya berjalan menghampiri Lala.
"Waalaikumsallam, ada apa ya mas?." tanya Lala dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Saya di utus mbah Karto untuk menjemput pak Jarwo mbak." jawab Anto dengan menatap kagum gadis cantik nan santun yang ada dihadapan nya.
"Silahkan duduk dulu ya mas, saya ambilkan minum dulu, mas Jarwo nya sedang keluar sebentar dengan istri nya." jelas Lala seraya berjalan masuk ke dalam rumah nya.
Siapa gadis cantik itu, beberapa kali aku datang ke rumah ini, tidak pernag bertemu dengan nya, batin Anto didalam hati nya penasaran.
Tidak berselang lama Lala datang, dengan menyuguhkan secangkir teh manis, gadis itu melemparkan senyum menawan nya pada Anto, dan mengatakan jika dia sudah menelepon mbakyu nya supaya segera pulang.
Berani sekali lelaki itu memandang Lala dengan mata nya, akan ku lepas bola mata mu dari tempat nya, gumam sosok tinggi besar itu yang ternyata adalah Elang yang datang untuk melihat Lala.
Sejak kepergian nya dari istana hutan wingit, pikiran Elang selalu teringat oleh bayangan Lala, yang mengusik pikiran dan juga hati nya, lelaki gaib itu merindukan kehadiran istri manusia nya, nampak hati nya yang dulu dipenuhi amarah perlahan sirna, tapi setiap kali sosok Elang ingin melesat mendekati Lala, tubuh nya selalu terpental keluar dari rumah itu, dan Elang pun baru teringat jika rumah itu sudah dikelilingi pagar suci, supaya makhluk gaib sepertinya tidak dapat masuk kesana.
Nampak Elang sangat murka melihat tatapan mata Anto, yang memandang Lala penuh kekaguman, tapi Elang tidak bisa berbuat apa-apa selain bersembunyi di dalam pohon besar, yang berdiri menghadap rumah Lala, dan dari kejauhan terlihat pak Jarwo bersama istri nya sedang berjalan ke arah rumah nya.
"Assalamuallaikum." seru pak Jarwo.
"Waalaikumsallam." sahut Anto dan Lala bersamaan.
Setelah itu Anto bergegas mengatakan maksud dan tujuan nya kesana, sementara pak Jarwo yang mengkerutkan kening nya nampak gelisah untuk menyetujui permintaan Anto.
"Bagaimana ya To, malam ini ada acara seratus hari meninggal nya ibu mertua ku, karena itu lah aku mengatakan pada Rania jika aku akan kesana besok." tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tapi pak kondisi nya saat ini sangat mendesak, karena kesehatan mbah Karto menurun, sehingga beliau memintaku untuk menjemput pak Jarwo sekarang juga." cetus Anto dengan wajah yang cemas.
Sebenarnya ada apa ini, tidak biasa nya mbah Karto sampai mengutus seseorang kesini, pasti kondisi beliau benar-benar sedang tidak baik, batin pak Jarwo didalam hati nya.
Kemudian pak Jarwo meminta Anto untuk beristirahat sejenak disana, karena dia akan berbicara terlebih dulu dengan istri nya, lalu pak Jarwo menghampiri istri nya yang masih sibuk menyiapkan bahan masakan di dapur, dengan perlahan pak Jarwo meminta ijin pada istri nya, karena malam nanti sepertinya dia tidak bisa mengikuti pengajian untuk memperingati seratus hari meninggalnya ibu mertua nya.
"Apakah masalah disana sangat pelik to mas, sampai kau diminta kesana sekarang juga." seru perempuan itu dengan wajah sendu.
"Sepertinya mbah Karto sedang tidak sehat dek, dan masalah disana tidak dapat ditunda sampai besok, karena itu lah Anto diminta untuk menjemputku, aku harap kau mengerti dengan semua ini, aku akan segera kembali jika masalah disana sudah selesai, kau jaga semuanya baik-baik di rumah, dan ingatkan Lala untuk tidak melepaskan jimat suci yang dipakai nya, supaya dia tetap aman dari makhluk gaib yang ingin menyakiti nya." ucap pak Jarwo berpesan pada istri nya.
*
*
...Yuk kak panjangkan List Vote dan hadiah nya, berikan dukungan kalian untuk Author, karena Hadiah dan Vote dari kalian sangat berharga untuk Author makasi all 💕...
...Bersambung....