
Nampak Rania meratapi kepergian teman hantu nya, dia menyesali semua nya karena tidal mengatakan yang sebenarnya sejak awal.
Maafkan aku Petter bukan nya aku tidak ingin berkata yang sejujurnya, saat itu aku menuruti ucapan mbah Karto karena aku tidak ingin kau dan mama mu nekat memasuki dimensi gaib hutan itu hu hu hu, aku hanya ingin kalian semua bersatu dan damai di alam keabadian, gumam Rania pada dirinya sendiri.
Dan tidak jauh dari sana ternyata Petter telah kembali bersama pak Jarwo dan mendengar semua ucapan Rania tadi, lalu dia terbang menghambur ke samping Rania yang tengah duduk di tanah dengan berderai air mata.
Whuuus...
Angin dingin menerpa wajah Rania lalu dia mendongakan kepala nya ke atas, Rania mengusap air mata nya seraya bangkit dari duduknya dan tersenyum bahagia karena melihat teman hantu nya kini sudah kembali berada di dekat nya.
"Petter maafkan aku ya, lain kali aku tidak akan menutupi apapun darimu tapi tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau mama mu kecewa padaku karena aku tidak bisa menjaga anak laki-laki nya". Seru Rania dengan sesegukan.
"Iya Rania maafkan aku sempat marah padamu, aku tadi memang sangat kecewa padamu tapi setelah pak Jarwo menjelaskan maksud dan tujuanmu karena perintah mbah Karto, aku pun mengerti jika itu bukan mau mu sendiri". Tukas Petter dengan menundukan kepala nya.
Kemudian pak Jarwo datang mendekati kedua nya, dia berkata jika selama dia hidup belum pernah melihat persahabatan seperti mereka, meskipun dunia mereka berbeda tapi saling menyayangi satu sama lain.
"Ayolah nduk kita harus lekas kembali ke rumah, simbahmu sangat hawatir setelah mendengar ceritaku jika tadi kalian semua sempat tertangkap penunggu hutan angker, dan setelah aku cukup lama beristirahat kau tak kunjung sampai di rumah, karena kalian belum sampai juga aku memutuskan untuk mencari kalian tapi aku malah bertemu dengan hantu londo ini, ngomong-ngomong siapa nama kalian nak bapak sampai lupa bertanya". Tukas pak Jarwo dengan memandang keduanya.
"Namaku Rania putri sejagad pak dan ini Petter van disk". Sahut Rania dengan senyum manis nya.
"Salam kenal ya nak, mari kita segera pulang sebelum simbahmu semakin hawatir". Tegas pak Jarwo seraya berjalan bersama Rania sementara Petter terbang terlebih dulu kembali ke rumah.
Ditengah-tengah perjalanan mereka berdua sempat berhenti melihat kerumunan warga, ternyata ada seorang warga yang kerasukan dan berniat untuk mencelakai semua orang yang ada disana, beberapa warga sempat menangkapnya dan mengikat tubuh warga yang kerasukan itu, tapi ternyata tali itu tidak cukup kuat untuk mengikat dan warga itu berhasil mencelakai warga yang lain nya menggunakan gagang pacul dia menghantam bagian kepala tetangga nya.
Kondisi disana sudah tidak kondusif beberapa orang yang ingin menangkap nya mengalami kesulitan karena Pardi masih memegangi gagang pacul itu.
"Aku akan menghabisi kalian ha ha ha". Seru Pardi seorang pemuda yang mengalami kerasukan.
Sementara disana ada seorang bapak-bapak yang tengah tergeletak bersimbah darah setelah menjadi sasaran amukan Pardi, nampak disana ada pak Dahlan dan pak Eko yang berusaha menangkap Pardi dengan susah payah, tapi apalah daya tenaga Pardi tidak sepadan dengan mereka semua.
Kemudian pak Jarwo berjalan mendekati kerumunan warga itu dan meminta semua orang untuk menjauh dari sana dan membantu dengan membacakan ayat suci.
Terlihat pak Jarwo berdiri dengan memejamkan mata nya dan setelah itu terlihat di mata batin pak Jarwo bahwa raga pemuda itu telah dikuasai oleh siluman kerbau yang berusaha mencelakai warga desa itu.
"Tolong bawa bapak itu ke Rumah sakit terdekat, kondisi nya sudah sangat parah". Perintah pak Jarwo pada beberapa warga supaya menolong warga yang tengah tergeletak bersimbah darah itu.
Kemudian pak Jarwo duduk dengan menyilakan kedua kaki nya seraya menyatukan telapak tangan di depan dada lalu membacakan rapalan mantra nya.
Sang ireng jeneng muksa pangreksan, sang ening meneng jati rasane, lakune ora katon, pangrasane manusia. "Bismillahir rahmanir rahim. Car mancur cahyaning Allah sungsum balung rasaning Pangeran, getih daging rasaning Pangeran, otot lamat-lamat rasaning Pangeran, kulit wulu rasaning Pangeran, iya ingsun mancuring Allah, jatining manusa, ules putih lungguhku, Allah, nek putih rasaning nyawa, badan Allah, sang kalebut putih iya ingsun nagara sampurna.
Setelah itu tubuh Pardi tumbang dan menggeliyat di tanah seperti cacing kepanasan.
"Ampun Yai panaas". Pekik Pardi yang tubuhnya masih dikuasai siluman kerbau.
Kemudian pak Jarwo bangkit dari duduknya mendekati Pardi yang tengah terkapar di tanah.
"Aku Ki Suropati ajudan seko istana alas wingit kono (aku Ki Suropati ajudan dari istana hutan angker disana)". Jawab Pardi dengan suara berat dan serak.
"Metuo seko rogo bocah iki, nek awakmu ora manut tak musnahke sukmo mu nganggo ayat-ayat suci (keluarlah dari raga bocah ini, jika kau tidak menurut akan ku musnahkan sukma mu menggunakan ayat-ayat suci)". Tegas pak Jarwo mengancam siluman kerbau itu.
"Tulong Yai ampun". Sahut siluman kerbau itu.
Dan tidak lama kemudian tubuh Pardi bergetar hebat menandakan jika siluman tadi sudah lepas dari raga Pardi, setelah itu pak Jarwo nampak komat-kamit seraya menepuk-nepuk tubuh Pardi dan berkata "Wes lungo adoh, resik-resik no rogo iki (sudah pergi jauh, bersih-bersihkan raga ini)".
Kemudian pak Jarwo meminta warga untuk membawa Pardi ke dalam rumah di ikuti beberapa orang yang penasaran dengan kondisi laki-laki yang baru saja mengamuk itu.
"Tolong ambilkan segelas air putih". Pinta pak Jarwo dengan mengusap peluh dikening nya.
Lalu seorang perempuan datang membawa segelas air dan memberikan nya pada pak Jarwo, nampak pak Jarwo membacakan sesuatu di dalam gelas berisi air putih itu.
Setelah membacakan doa-doa untuk membersihkan aura gaib dari badan Pardi, pak Jarwo meminumkan air putih itu dan sebagian di gunakan untuk membasuh wajah Pardi.
Lalu datanglah seorang perempuan tua duduk disamping pak Jarwo dan mengucapkan terima kasih dengan berlinang air mata.
"Terima kasih banyak pak sudah membantu anakku terlepas dari makhluk gaib itu, jika kau tidak ada entah apa yang akan terjadi pada anakku ini". Ucap ibu itu memegangi tangan pak Jarwo.
Rania yang terdiam di depan teras rumah itu datang menghampiri pak Jarwo dan mengajaknya kembali ke rumah simbah nya jika semua sudah selesai.
"Lho nduk kamu kenal sama bapak ini to?". Tanya pak Dahlan yang kebetulan ada didalam rumah itu.
"Eh pak Dahlan". Jawab Rania seraya mengecup punggung tangan hansip desa nya.
"Begini pak ini adalah pak Jarwo, beliau dari desa tetangga yang akan membantu kita terlepas dari bencana di desa ini, tapi beliau tidak bisa melakukan semua ini sendiri karena pak haji Faruk akan membantu pak Jarwo untuk melawan semua makhluk gaib itu, dan Rania mohon bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian ikut mendoakan mbah Karto yang kondisi nya sedang tidak baik". Seru Rania dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat semua orang tercengang mendengar ucapan Rania, mereka semua saling memandang dan berbisik satu sama lain.
Wah pantas saja mbah Karto tidak pernah kelihatan, aku pikir beliau sedang pergi ke kota ternyata mbab Karto sedang sakit to, ucap salah satu warga dengan mimik wajah ketakutan.
"Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang". Teriak seorang warga yang ketakutan setelah mendengar jika sesepuh desa nya sedang sakit.
Kemudian pak Jarwo berkata pada mereka semua, jika semua warga ingin selamat tanpa gangguan dari makhluk gaib mereka juga harus melakukan ibadah shalat lima waktu dan perbanyak berdoa meminta bantuan dari Allah SWT karena beliau lah yang bisa membantu mereka terlepas dari gangguan makhluk gaib itu.
*
*
...Bersambung. ...