DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kondisi mbah Karto kritis!!!


Dengan bersusah payah pak Jarwo bangkit dan berdiri sekuat tenaga nya untuk membawa jiwa mbah Karto keluar dari dimensi gaib itu.


"Sudah Le tinggalkan saja aku disini, lagipula aku sudah tua tidak banyak lagi waktu ku di dunia ini". Ucap mbah Karto lirih.


"Tidak mbah, aku sudab berjanji pada mbah Darmi untuk membawamu kembali, beliau tidak ingin melihat dirimu berakhir seperti ini karena mbah Darmi ingin menghabiskan masa tua nya bersama mu, untuk itu aku rela melakukan apapun". Tukas pak Jarwo dengan nafas tersengal-sengal.


Dan setelah mendengar ucapan pak Jarwo nampak Jansen dan Evana saling memandang, kedua hantu belanda itu berniat membantu Ki Seno menghalangi pengawal hutan angker itu, dan dengan segala energi kekuatan yang Jansen dan Evana miliki mereka berusaha melawan beberapa pengawal gaib itu, sedangkan Ki Seno sedang menghadapi penguasa gaib itu.


Tidak berapa lama Evana melesat membantu pak Jarwo memapah mbah Karto untuk meninggalkan dimensi gaib itu, terdengar Jansen mengatakan pada Evana jika dia harus pergi terlebih dulu karena dia harus menghadang pengawal siluman kuda itu.


Wuuush...


Jiwa pak Jarwo berhasil keluar dari dimensi gaib itu bersama mbah Karto dan juga Evana, sesaat kemudian pak Jarwo memasuki raga nya dan membuka kedua mata nya lalu beliau segera berlari ke kamar mbah Karto untuk memastikan jiwa mbah Karto sudah memasuki raga nya kembali.


"Mbah sadarlah". Seru pak Jarwo dengan nafas tersengal-sengal memeriksa denyut nadi mbah Karto.


Terlihat mbah Karto belum membuka kedua mata nya meski jiwa nya telah kembali ke dalam raga nya.


"Apa yang terjadi Le?". Tanya mbah Darmi dengan wajah cemas.


"Entahlah mbah aku juga tidak mengerti, kondisi mbah Karto masih tetap lemah meski jiwa nya sudah kembali ke dalam raga nya". Jawab pak Jarwo dengan mengusap peluh di kening nya.


Sementara Evana yang berada disamping tubuh mbah Karto nampak membulatkan kedua mata nya, Evana merasa aneh kenapa mbah Karto belum sadarkan diri, padahal dia melihat sendiri ketika jiwa mbah Karto memasuki raga nya.


Kemudian pak haji Faruk datang dan memeriksa detak jantung mbah Karto yang mulai normal tapi deru nafas nya masih berat.


"Mungkin saja kondisi mbah Karto kali ini berhubungan dengan medis, lebih baik kita membawa mbah Karto ke Rumah sakit untuk mengetahui kondisi beliau yang sebenarnya". Jelas pak haji Faruk memandang semua orang.


"Iya pak haji, kondisi seperti itu bisa saja terjadi, mengingat fisik beliau yang sudah berumur dan selama beberapa minggu ini dia tidak sadarkan diri dan susah makan atau pun minum". Sahut pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.


"Ya sudah kalian tunggu apalagi lekaslah bawa kang Karto ke Rumah sakit di kota". Seru simbah Parti seraya berjalan memasuki kamar mbah Karto yang sudah penuh orang.


Terlihat wajah lelah mbah Darmi hanya bisa berurai air mata, beliau terlalu hawatir dengan keadaan suaminya itu.


"Yu jika kau hawatir dengan keadaan suami mu lebih baik kau ikut menemani nya ke Rumah sakit, maafkan aku tidak bisa ikut". Cetus simbah Parti yang sedang memeluk tubuh tua mbah Darmi.


"Iya Par terima kasih, kau di desa saja jagalah keselamatan warga desa kita". Ujar mbab Darmi dengan menggenggam kedua tangan simbah Parti.


Kemudian Anto datang dengan membawa mobilnya, lalu beberapa warga bergotong royong membopong tubuh tua mbah Karto ke dalam mobil Anto yang sudah siap di depan rumah mbah Karto.


Lalu pak Jarwo berjalan dengan terburu-buru menemui pak haji Faruk karena ada yang ingin beliau sampaikan.


"Assalamuallaikum pak haji, aku ingin menyampaikan jika tugas ku di alam gaib belum selesai karena masih ada manusia disana dan ada satu jiwa bersama Ki Seno yang mungkin membutuhkan bantuan ku, jadi aku minta tolong temanilah mbah Darmi dan mbah Karto sampai ke Rumah sakit karena aku akan kembali ke dimensi gaib". Tegas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Waalaikumsallam, kau tidak perlu meminta tolong padaku pak Jarwo, justru kami semua yang harus berterima kasih karena kau telah berhasil membawa jiwa sesepuh desa ini kembali". Tukas pak haji Faruk menjabat tangan pak Jarwo.


Dan setelah perbincangan itu pak haji Faruk bersama Anto segera membawa mbah Karto ke Rumah sakit, sedangkan Evana yang telah kembali ingin membantu pak Jarwo dan kembali ke dimensi gaib itu namun pak Jarwo menolak bantuan Evana dan memerintahkan nya untuk menemui Petter yang telah bersedih selama beberapa hari.


Astaga Petter maafkan mama meninggalkanmu sendiri lagi, batin Evana di dalam hati nya.


Wuuushh...


Angin dingin menerpa sebelah wajah Rania membuat gadis yang beranjak remaja itu tersadar dari lamunan nya.


"Ah Petter kau jangan beterbangan disaat seperti ini dong, aku tuh masih panik tau!!!". Seru Rania seraya bangkit dari ayunan tali nya.


Dan belum sempat Petter menjawab perkataan Rania, terlihat Evana melesat di tengah-tengah mereka.


"Mamaaa...". Pekik Petter melesat menghambur ke dalam pelukan Evana.


Terlihat Rania berderai air mata dan mengucapkan syukur karena Evana telah kembali lagi, namun Petter yang sudah mengetahui tentang papa nya bertanya dimana keberadaan nya.


"Mama waar is mijn papa, heb je hem daar niet ontmoet (mama dimana papaku, apa kau tidak bertemu dengan nya disana)". Ucap Petter dengan mata berkaca-kaca.


"Ja lieve mama heeft je papa ontmoet, maar hij kan op dit moment niet terugkomen omdat er een klein probleempje is (ya sayang mama bertemu papa mu, tapi dia tidak bisa kembali sekarang karena ada sedikit masalah)". Jelas Evana seraya memeluk tubuh hampa anak laki-laki nya.


Terlihat Rania hanya mengaitkan kedua alis mata nya karena dia tidal memgerti bahasa Belanda yang anak dan ibu itu gunakan, tidak lama kemudian simbah Parti pulang dan meminta Evana untuk berbicara dengan nya empat mata.


Apa yang simbah dan Aunty ingin bicarakan ya, kenapa harus di dalam kamar, batin Rania di dalam hati nya.


Plaakk...


Wati datang dan menepuk pundak Rania dari belakang, membuat Rania sedikit berjingkat karena terkejut.


"Ada apa sih Wat, suka nya ngagetin orang aja". Gertak Rania dengan berkacak pinggang.


"Ya maaf Ran, aku kira kau sudah melihat kedatanganku". Sahut Wati dengan mengerucutkan bibir nya.


"Memangnya ada apa kau sampai mengagetkanku?". Tanya Rania dengan mengkerutkan kening nya.


"Tadi kan aku lewat di depan rumah mbah Karto dan disana banyak warga yang berkumpul membicarakan mbah Karto yang katanya sedang dibawa ke Rumah sakit, berarti pak Jarwo sudah berhasil membawa jiwa mbah Karto pulang". Jawab Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Alhamdulillah jika mbah Karto sudah kembali". Ucap Rania dengan menghembuskan nafas nya panjang.


Kemudian Rania memandangi Petter yang ada di samping nya dan bertanya apa yang dia bicarakan dengan mama nya menggunakan bahasa Belanda, lalu Petter menjelaskan jika dia menanyakan keberadaan papa nya.


"Lalu apa yang mama mu katakan tentang papa mu". Ucap Rania dengan mengkerutkan kening nya.


Terlihat Wati mengusap tengkuk nya karena bulu-bulu halus nya meremang ketika melihat Rania berbicara sendiri, tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah nya, membuat Wati jatuh tersungkur ke lantai karena kaki nya tersandung sudut meja.


Braaaks...


*


*


...Bersambung....