
Tidak terasa perjalanan sore itu cukup cepat, mereka hampir sampai di desa Rawa Belatung setelah melewati hutan angker yang menjadi perbatasan antara desa mereka.
Sayu-sayu Rania mendengar suara auman macan, Rania terperanjat dari tempat duduknya mata nya menyelidik ke luar kaca mobil mencari-cari keberadaan binatang buas itu.
Ternyata dugaan Rania benar ada seekor macan tutul yang sudah menghadang mobil yang ditumpangi nya.
Chiiitt...
Pak Budi mengerem mobilnya mendadak karena melihat seekor binatang sedang menghalangi laju mobil yang di kemudikan nya.
"Ada apa to Bud, kok nginjek rem mendadak". Seru pak Sapri dengan nafas yang berderu kencang.
"I itu pak ada macan tutul". Ucap pak Budi dengan suara bergetar.
Nampak semua orang yang berada didalam mobil itu sangat terkejut karena mobil yang mereka naiki dihadang binatang buas itu, sedangkan mbah Karto yang mengkerutkan kening nya nampak memikirkan sesuatu, tanpa berkata apapun mbah Karto memejamkan kedua mata nya dan mulai membaca rapalan mantra.
Lalu Rania mengajak pak Budi dan pak Sapri untuk berdoa memohon perlidungan pada Allah karena menurut Rania binatang buas yang sedang menghadang mereka saat ini adalah binatang jadi-jadian.
Dan ketika semua orang yang berada didalam mobil itu sibuk dengan kegiatan nya masing-masing nampak Jansen datang menghampiri macan tutul itu, terlihat Jansen sedang berusaha mengusir binatang buas itu.
Sedangkan mbah Karto yang sudah membuka kedua mata nya, sudah mendapatkan petunjuk jika ternyata macan tutul itu adalah jelmaan Ari yang sudah mengabdikan hidupnya untuk penunggu hutan angker itu dengan tujuan membalaskan dendam.
"Tuan Jansen". Pekik Rania terkejut mengetahui hantu Belanda itu sudah tidak ada disamping nya.
"Tenang nduk biar aku yang akan menghadapinya, kalian semua tetap didalam mobil saja". Perintah mbah Karto seraya berjalan menghampiri Jansen yang sedang menghadapi macan tutul itu.
Terlihat Jansen berusaha mengusir macan tutul itu dengan kekuatan yang dia miliki tapi tiba-tiba saja seekor ular raksasa datang dan melilit tubuh hampa Jansen, lalu mbah Karto berusaha melepaskan Jansen dari lilitan ular raksasa itu, disaat mbah Karto ingin melawan ular raksasa itu macan tutul yang ada dibelakang mbah Karto berusaha mendekat ke arah mobil dan mengoyakan ban mobil nya.
Duuaar...
Band mobil itu meletus membuat mobil yang Rania tumpangi oleng dan akan terbalik, dengan cepat pak Sapri meraih tangan Rania dan segera melompat dari dalam mobil itu sementara pak Budi yang terjebak didalam sana terlihat sangat kebingungan.
Macan tutul itu kini sudah berdiri dihadapan pak Budi dan menggigit betis pak Budi yang terjebak didalam mobil "aaa tolooong", pekik pak Budi yang kesakitan saat macan tutul itu berusaha mengoyakan kulit yang menempel di betis nya.
Sedangkan mbah Karto yang kebingungan mau menolong Jansen ataupun pak Budi lebih memilih menolong pak Budi dan membiarkan Jansen menjadi sasaran amukan ular raksasa itu.
"Le aku weruh nek kui awakmu, sadaro Le ojo gawe cilokone wong ndeso melas keluargane, saiki sadaro tak tulungi awakmu Le (nak aku tau jika itu kau, sadarlah nak jangan membuat celaka orang desa kasihan keluarganya, sekarang sadarlah akan aku bantu dirimu nak)". Ucap mbah Karto berusaha menyadarkan Ari.
Setelah itu mbah Karto membacakan rapalam mantra yang membuat sosok jelmaan macan tutul itu tidak dapat bergerak lagi, dengan langkah tertatih mbah Karto mendekati macan tutul itu menyiramkan air dari botol yang dia bawa didalam tas nya.
Tidak lama kemudian sosok macan tutul itu berubah menjadi manusia lagi.
Sementara pak Sapri dan Rania yang terbelalak mengetahui jika wujud asli macan tutul itu adalah orang yang mereka kenal hanya bisa terdiam dengan mulut yang terbuka lebar.
"Wes Le nduk ora usah do kaget ayo tulungono kui Budi sak durunge Ari njelmo dadi macan maneh ( sudah nak tidak usah pada kaget ayo tolonglah itu Budi sebelum Ari menjelma menjadi macan lagi)". Perintah mbah Karto seraya berjalan ke arah Jansen yang sedang dililit ular raksasa itu.
Nampak ular raksasa itu tidak memperdulikan ucapan mbah Karto dia menghempaskan tubuh hampa Jansen kedalam hutan angker itu dan disana sudah banyak pengawal dari kerajaan gaib Romo nya, lalu ular raksasa itu berubah menjadi seorang perempuan yang cantik.
Pak Sapri berteriak dari belakang dan berkata jika perempuan itu adalah perempuan yang sama yang telah membunuh pak Broto, karena Rania sangat ketakutan dia mengajak pak Sapri untuk segera pergi dari hutan itu tapi melihat kondisi pak Budi dengan luka yang terkoyak oleh gigitan macan tutul itu tidak mungkin jika mereka bisa pergi jauh dari sana.
"Sukma melati karepmu iku opo ojo sampe koe gawe cilokone warga ndeso ku meneh, wes cukup semene wae (Sukma melati mau mu itu apa jangan sampai kau membuat celaka warga desa ku lagi, sudah cukup sampai sini)". Gertak mbah Karto seraya mengeluarkan butiran-butiran mutiara dari dalam kantong celana nya dan melemparkan nya ke arah Sukma melati.
"Tidaaak jangaaan...". Pekik Sukma melati kepanasan.
Terlihat butiran mutiara yang mbah Karto lemparkan kepada Sukam melati berubab menjadi bola-bola api yang membakar kulit putih mulus nya, dan membuat wujud cantiknya berubah menjadi mengerikan dengan luka bakar yang melepuh di sekitar tubuh dan wajah nya.
Nampak Sukma melati sangat murka dengan perlakuan mbah Karto, dia membulatkan kedua mata nya menatap tajam ke arah sesepuh desa Rawa belatung itu.
"Dasar manusia rendahan berani sekali kau membuatku menjadi buruk rupa seperti ini, lihat saja aku akan mencelakai semua warga desa mu". Seru Sukma melati yang berusaha mendekati Ari dan membawa nya kembali.
Lalu mbah Karto menghalangi nya sekali lagi dengan melempari Sukma melati menggunakan butiran mutiara yang masih tersisa didalam kantong celana nya.
Whuuut...
Butiran mutiara itu terpental karena Sukma melati menghindar dan butiran mutiara yang berubah menjadi bola api itu membakar pohon yang ada di tepi jalan sana.
"Balekno Sukmo wong londo mau, nek awakmu pengen Ari bali nyang alam mu maneh". Perintah mbah Karto dengan suara berat nya.
Sementara pak Budi yang berhasil ditolong oleh pak Sapri dan juga Rania terlihat sangat kesakitan dan pingsan ditempat, membuat suasana disana semakin tidak karuan.
Dan belum sampai Sukma melati mengatakan sesuatu dia terlihat menggeliat semakin kepanasan karena mendengar suara ayat-ayat suci dari Masjid yang ada di desa Rawa belatung.
Kemudian Sukma melati menghilang bersama hembusan angin yang datang dari arah hutan, nampak semua orang tertergun melihat kejadian janggal yang ada didepan mata nya.
Terlihat mbah Karto menghembuskan nafas nya panjang karena dia lega istri gaib Ari sudah pergi dari sana, tapi Rania justru terlihat sangat murung wajahnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Uwes nduk tenangno awakmu ndisik, seng penting awak e dewe iso selamet ndisik, mengko londo kui mbah wae seng nulungi (sudah nak tenangkanlah dirimu dulu, yang penting diri kita semua bisa selamat dulu, nanti Belanda itu mbah saja yang akan menolong)". Ucap mbah Karto menepuk pundak Rania.
"Tapi mbah apa yang akan ku katakan pada Petter dan mama nya?". Tanya Rania dengan menundukan kepala nya.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka, lagipula mereka belum tau apapun tentang Jansen, biarlah mbah Karto membawanya kembali dulu setelah itu kau bisa menceritakan pada mereka". Cetus mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
*
*
...**Bersambung....
...Besok author akan mengundi semua nama yang sudah mengikuti rules, tiga nama yang beruntung akan mendapatkan pulsa dan akan di umumkan disini, setelah itu author akan menghubungi kalian satu persatu yang belum beruntung jangan putus asa ya pantengin terus novel desa Rawa belatung siapa tau kalian yang akan menjadi pemenang berikut nya, sampai jumpa besok lagi semua kesayanganku 💕**...