
Tapi batin Elang tiba-tiba buyar ketika Sekar tiba-tiba melesat ke arah nya, dan memberitau jika dirinya sedang tidak sehat.
"Kangmas bisakah kita kembali ke istana sekarang juga, sepertinya aku terlalu lelah." tukas Sekar berdalih supaya Elang tidak memikirkan Lala kembali.
Tapi Elang menatap bingung istri nya itu, dan dia berkata jika dirinya tidak bisa meninggalkan tempat itu sampai acara selesai, namun penguasa gaib disana sangat mengerti dengan kondisi Sekar, terdengar dia mempersilahkan Elang kembali ke istana nya, bersama semua keluarga nya.
"Mungkin lain waktu kita bisa melanjutkan pertemuan ini, dan satu lagi pangeran Elang, tolong sembunyikan hal tadi dari putriku Sukma." ucap penguasa gaib itu dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Baiklah raja, ucapanmu adalah perintah untukku, kami semua pamit undur diri." jelas Elang seraya melesat pergi.
Sementara di alam manusia, nampak pengawal kerajaan itu, meletakan tubuh Ari di pinggiran jalan hutan, mereka melesat pergi meninggalkan tubuh Ari, nampak seluruh badan nya pucat, raga nya semakin melemah karena jiwa Ari sudah tidak bersemayam di dalam nya.
Selang beberapa menit kemudian, ada pengendara yang menghentikan laju sepeda motor nya, karena dia melihat sesosok tubuh manusia, yang tergeletak di semak-semak belukar, nampak pengemudi itu kebingungan berusaha menolong Ari, yang tidak sadarkan diri tanpa luka disekujur tubuh nya, dan tidak membutuhkan waktu lama, pengguna jalan yang melewari tempat itu, ikut menghentikan kendaraan nya, tubuh Ari yang tergeletak tak sadarkan diri, akhirnya menjadi tontonan para pengguna jalan.
Sampai pada akhirnya Anto yang baru saja dari kota, membeli obat untuk kangmas nya itu, ikut terpancing perhatian nya, Anto menghentikan laju motor nya, menepikan nya di pinggir jalan, lalu dia berjalan santai ke arah kerumunan orang, dan betapa terkejutnya Anto, ketika dia melihat dengan mata dan kepala nya sendiri, jika kangmas nya Ari tengah tergeletak tidak sadarkan diri disana, terlihat Anto terjatuh lemas dengan membulatkan kedua mata nya, dia berusaha membangunkan kangmas nya itu, dengan menggoncang-goncangkan tubuh nya, tapi Ari tetap memejamkan kedua mata nya, tanpa respon apa pun, dan beberapa orang disana menenangkan Anto, lalu seorang pengemudi mobil menawarkan diri untuk mengantar kangmas nya ke rumah nya, nampak Anto sangat berterima kasih pada mereka, Anto bergegas mengendarai sepeda motor nya, untuk menunjukan jalan yang benar ke rumah nya.
Sesampainya di gapura desa Rawa belatung, nampak beberapa warga kebingungan melihat Anto dengan berderai air mata mengendarai sepeda motor nya, mereka pun akhir nya mengikuti Anto kembali ke rumah nya.
Begitu sampai di depan rumah Anto, nampak beberapa orang sedang membantu Anto, untuk membopong Ari yang masih tidak sadarkan diri, nampak kabar ditemukan nya Ari di pinggir hutan, dengan keadaan yang tidak sadarkan diri, tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru desa Rawa belatung, mbah Karto yang masih menemani keponakan nya di rumah pak haji Faruk sangat terkejut, sesepuh desa itu nampak memegangi dada nya yang terasa nyeri, di usia nya yang sudah senja kabar buruk seperti itu, dapat membuat jantung nya terguncang.
Terlihat Luna bangkit dari duduknya, menopang tubuh tua pakde nya yang nampak berkeringat dingin, lalu Wulan dan mbah Darmi yang baru saja tiba di rumah pak haji Faruk, bergegas berlari menahan tubuh tua mbah Karto, yang seakan lemas tak berdaya.
"Astagfirullahaladzim mbah Karto kenapa?." tanya pak haji Faruk yang baru saja menyelesaikan shalat nya.
"Luna tidak tau pak haji, tiba-tiba pakde berkeringat dingin dengan memegangi dada nya." jawab Luna dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian pak haji Faruk memberikan segelas air minun pada mbah Karto, dan pak haji meminta mbah Darmi dan juga Wulan untuk menunggu mbah Karto disana, karena pak haji Faruk akan melakukan ruqiah pada Luna.
Beberapa saat kemudian mbah Karto mulai bernafas teratur, beliau bangkit dari tidur nya, seraya mengusap peluh dikening nya.
"Bu kau disini saja menemani Luna dan juga Wulan, aku ada urusan sebentar." celetuk mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Sebenarnya ada apa to pak, ceritalah padaku jangan sembunyi-sembunyi seperti ini." tukas mbah Darmi menahan kepergian suami nya.
"Aku sebagai orang yang ditua kan di desa ini, tidak bisa tinggal diam jika ada warga desa, yang sedang membutuhkan bantuan." cetus mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
"Aku mengerti pak tapi apa yang sebenarnya terjadi, katakanlah padaku supaya aku mengerti alasanmu sampai sehawatir ini." seru mbah Darmi dengan wajah yang cemas.
Lalu mbah Karto mengatakan jika dirinya melihat keramaian warga di depan sana, karena penasaran mbah Karto melihat melalui mata batin nya, dan saat itu beliau melihat dengan jelas, jika jiwa Ari sudah tidak bersemayam lagi didalam raga nya, dan entah dimana keberadaan jiwa Ari sekarang.
"Aku belum tau apa yang dilakukan Ari sebelumnya, sampai jiwa nya tidak bersemayam diraga nya, aku harus mencari tau kejadian yang sebenarnya bu." tukas mbah Karto seraya bangkit dari duduknya.
"Astaga mbakyu sepertinya kangmas Karto sedang sakit, apa lebih baik kita membawa nya ke dokter dulu." seru Wulan dengan wajah cemas.
"Sudahlah aku tidak apa-apa, Wulan jika kau ingin membantuku, tolong kau telepon Rania mintalah dia kesini untuk mengantarkanku ke rumah Anto." pinta mbah Karto berbicara setengah meringis menahan sakit didada nya.
Lalu Wulan bergegas menghubungi Rania, melalui panggilan telepon dan meminta nya untuk segera datang menjemput mbah Karto, hanya dalam waktu sepuluh menit Rania datang, dengan mengendarai sepeda motor, gadis itu nampak memicingkan kedua mata nya, menatap mbah Karto yang nampak kesakitan.
"Astagfirullohaladzim mbah Karto sakit apa, mari Rania antar ke puskesmas terdekat." ucap Rania dengan wajah sendu.
"Nanti saja nduk, lebih baik kau antarkan aku ke rumah Anto, ada hal yang lebih penting, yang harus segera ku ketahui." cetus mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
"Baiklah Rania akan mengantar mbah Karto kesana, tapi setelah itu mbah Karto harus berjanji padaku, jika mbah Karto harus periksa ke dokter, karena Rania merasa mbah Karto sedang tidak sehat." tukas Rania dengan menghembuskan nafas nya panjang.
"Iya nduk aku berjanji akan menuruti ucapanmu, mari kita bergegas ke rumah Anto." tegas mbah Karto seraya berjalan tertatih dipapah oleh mbah Darmi.
Setelah itu Rania mengendarai sepeda motor nya perlahan, karena dia sangat tau jika sesepuh desa nya itu sedang tidak sehat.
Kasihan mbah Karto di usia nya yang sudah sangat tua, dia harus menjaga semua warga desa, sementara pak Jarwo baru bisa datang kesini besok, aku tidak tega melihat mbah Karto seperti ini, batin Rania didalam hati nya dengan meneteskan air mata.
Chiit...
Terdengar Rania menginjak rem motor nya, berhenti tepat di depan rumah Anto, yang sudah ramai warga berkerumun, mereka semua kebingungan mencari cara, supaya Ari tersadar dan membuka kedua mata nya, tapi mbah Karto yang baru saja tiba mengatakan pada mereka jika itu mustahil, dan tidak akan ada yang bisa membuat Ari tersadar, karena saat ini jiwa nya sudah tidak bersemayam didalam tubuh nya.
*
*
...Bersambung....
...Yuk mampir baca ke novel Author kece badai yg satu ini, sedikit cuplikan novel nya....
...Seperti namanya yang berarti 'Elang', Aara ingin terbang tinggi layaknya Elang di angkasa. Melesat hebat bak anak panah....
...Namun, apa jadinya bila ia harus bertahan dalam diam dengan topeng kebahagian dan berjuang melawan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang terus menggerogoti jiwanya?...
...Simak kisah hidup Aara selanjutnya di novel 'Aara Bukan Lara' karya pertama Hana Hikari. ...