DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mencari jari jari tangan Sasa.


Setelah jam sekolah selesai Rania dan Wati keluar dari kelasnya, mereka berjalan ke samping sekolah untuk mengambil sepedanya.


"Wati kau pulang saja dulu, aku mau pergi sebentar", ucap Rania yang sudah menaiki sepedanya.


"Kau mau kemana Rania, nanti simbah marah padaku jika aku meninggalkanmu sendirian", jawab Wati dengan cemas.


"Aku mau mengumpulkan jari jari yang berserakan di semak semak tadi pagi".


"Hah apa kau sudah gila ya, itu kan bukan tugas mu Rania".


"Aku tau Wati tapi aku sudah berjanji akan membantu untuk mengumpulkan potongan jari itu, jika kau takut pulanglah", ujar Rania yang sudah mengayuh sepeda nya.


Lalu Wati yang melihat Rania sudah mulai menjauh segera menyusul Rania dengan sepedanya, kemudian sesampainya disemak semak dekat tempat kecelakaan tadi pagi Rania segera mencari jari jari Sasa yang tertinggal disana.


Rania mencari dari satu tempat ketempat lain nya, tapi dia hanya menemukan dua jari saja.


Sasa yang melihat potongan jari nya nampak menangis, karena sekarang dia sudah meninggal dunia.


"Baiklah Sasa aku hanya bisa menemukan dua jari saja mungkin pihak polisi sudah membawa sisa nya, ayo kita bertanya pada orang disekitar sini".


Petter yang mendengar percakapan warga sekitar tentang kecelakaan yang di alami Sasa tau dimana jenazah Sasa saat ini.


"Rania kau harus membawa jari itu ke rumah sakit bina sehat karena mereka membawa mayatnya kesana", ucap Petter seraya terbang ke arah utara dimana rumah sakit itu berada.


"Tunggu Petter aku tidak tau letaknya, kau jangan buru buru", seru Rania yang dengan cepat mengayuh sepedanya.


Sementara Wati yang terburu buru mengejar Rania dengan sepedanya malah menabrak sesajen yang diletakan dibawah pohon besar.


B**ruuuukkk**...


"Awww sakit", pekik Wati dengan memegangi lutut nya.


"Entahlah tiba tiba saja sepedaku oleng dan aku terjatuh " jawab Wati yang berusaha berdiri kembali.


"Waati apa yang kau injak", seru Rania yang sedang melihat kebawah kaki Wati.


Kemudian Wati mengangkat kaki nya dan melihat kebawah ternyata tadi Wati menabrak sesajen dan menginjaknya.


Petter yang melihat kejadian itu meminta Rania segera membawa Wati pergi dari sana.


"Rania cepatlah ajak Wati pergi dari situ sebelum penunggu pohon besar itu mengetahui jika makanan nya di rusak oleh Wati", seru Petter yang melesat dengan cepat menjauhi pohon besar itu.


"Ayo Wati cepatlah kita harus segera pergi dari sini kau dalam bahaya jika terus berada disini ".


Setelah itu Rania dan Wati mengayuh sepeda nya menuju ke rumah sakit bina sehat.


"Permisi pak saya mau tanya dimana letak kamar mayat nya", tanya Rania pada seorang perawat perempuan yang sedang berjalan dengan menundukan kepalanya.


"Disana", jawab perawat itu dengan menunjukan jari telunjuk nya ke sebelah timur.


"Terima kasih suster", ucap Rania dengan melihat ke arah perawat yang sudah menghilang entah kemana.


Wati yang dari tadi melihat rania berbicara sendiri akhirnya membuka suara.


"Hei Rania kau itu sedang berbicara dengan siapa", tanya Wati dengan menoleh kesegala arah.


"Tadi aku bertanya pada suster dimana letak kamar mayat nya, ayolah kita harus segera menyerahkan ini pada petugas", jawab Wati dengan menenteng bungkusan plastik yang berisi jari jari tangan Sasa.


Rania dan Wati berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat panjang, disiang hari suasana dirumah sakit ini benar benar menyeramkan apalagi jika sudah malam gumam Wati dalam hati.


...* * * bersambung * * *...