DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petualangan gaib Rania ep3


Kemudian Lala memutuskan untuk mengikuti kedua perawat yang berlari ke ruang ICU, sementara Wati masih menangis di depan ruang IGD, tubuh Wati seakan kehilangan tenaganya, dia tidak sanggup berjalan mengikuti Lala, yang berusaha mencari informasi tentang keberadaan sahabatnya Rania.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari dalam ruang ICU, nampak Lala bergegas menghampiri sangat dokter dan menanyakan tentang perawat yang ada di dalam ruangan ICU, lalu Dokter mengatakan jika perawat itu masih memberikan bantuan pernafasan pada pasien korban kecelakaan yang baru saja dirujuk di Rumah Sakit itu.


"Apakah pasien nya seorang perempuan Dok?", tanya Lala dengan mata berkaca-kaca.


"Iya benar pasien itu perempuan muda, mungkin seumuran denganmu", jawab Dokter itu.


"Nama pasien itu Rania bukan Dok, karena saya mencari seorang pasien korban kecelakaan dengan nama Rania Putri Sejagad, tapi di ruang IGD tidak ada pasien perempuan Dok", seru Lala seraya mengusap peluh dikening nya.


"Silahkan menunggu perawat yang ada di ruang ICU keluar ya dik, saya buru-buru ada pasien yang harus segera ditangani", jelas sang Dokter seraya berjalan tergesa-gesa meninggalkan Lala yang belum mendapatkan kepastian.


Akhirnya Lala melangkahkan kakinya gontai kembali ke ruang ICU, beberapa menit setelahnya perawat yang dicari Lala sudah keluar dari ruangan itu, dengan terburu-buru Lala menghampiri perawat itu, dan menanyakan nama pasien yang ada didalam, tapi perawat itu justru meminta maaf dan mengatakan pada Lala, jika pasien yang ada didalam adalah korban kecelakaan yang mereka cari tadi.


"Jika saya tau pasien kecelakaan itu ada yang dibawa ke ruang ICU, maka saya sudah memberitahu kalian sejak tadi, karena perubahan jam kerja saya tidak tau jika ada pasien lainnya yang masuk ICU, tapi maaf sekali lagi pasien belum bisa dijenguk, karena kondisi nya masih kritis dan belum stabil, mohon doa nya saja ya", jelas perawat itu seraya berjalan pergi.


Untuk sesaat Lala terkejut mendengar kabar jika Rania sedang kritis, lalu dia teringat dengan Wati yang belum tau kondisi sepupunya yang sebenarnya, kemudian Lala menghampiri Wati dan memeluknya.


"Wati yang sabar ya, saat ini Rania sedang kritis di Ruang ICU, kita harus berdoa untuk kesembuhan nya, aku sudah memastikan kebenarannya, perawat tadi sudah membenarkan jika pasien korban kecelakaan dengan nama Rania, dalam kondisi kritis dan tidak dapat dijenguk", jelas Lala dengan berlinang air mata.


"Huhuhu Rania..." Tangis Wati pecah dipelukan Lala.


Setelah itu Wati memutuskan untuk memberitahu ibunya, supaya ibunya bisa memberi kabar pada kedua orang tua Rania yang berada di Kalimantan, terdengar bude Walimah tak kuasa mendengar kabar jika keponakannya dalam kondisi kritis, beliau tidak tau harus mengatakan apa pada kedua orang tua Rania, tapi Wati menguatkan ibunya, dan memintanya untuk segera memberitahu kabar itu.


"Ibu harus menyampaikan berita buruk ini, apapun bisa terjadi mengingat kondisi Rania sedang kritis di ICU bu, lebih baik ibu mengatakan yang sebenarnya, supaya kedua orang tua Rania lekas datang kesini", ucap Wati meyakinkan ibunya.


"Kebetulan mbakyu menelepon ku, dari tadi siang aku mencoba menelepon Rania, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi, minta Rania untuk segera menelepon ku ya mbak", celetuk Anggi mengagetkan bude Walimah.


"Nggi, aku akan mengatakan sesuatu padamu, tapi lebih baik kau pulang dulu ke desa ya, aku ingin mengatakan sesuatu tentang Rania", ucap bude Walimah tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


Jika aku mengatakan pada Anggi, kalau Rania serang kritis di ruang ICU, dia akan sangat cemas, dan entah apa yang akan terjadi padanya, lebih baik aku mengatakannya ketika mereka sudah sampai disini, batin bude Walimah didalam hatinya.


"Katakan yang sebenarnya mbakyu, aku tau ada yang kau sembunyikan dariku, dimana anakku mbak, apakah dia baik-baik saja", seru Anggi berderai air mata.


"Rania sedang tidak sehat Nggi, tapi InsyaAllah dia baik-baik saja, karena itulah aku meminta mu untuk datang kesini, supaya kau dapat melihat kondisi putrimu", tukas bude Walimah dengan suara yang bergetar.


Setelah itu Anggi mengatakan jika dia akan pulang tanpa suaminya, karena Dedy masih ada tugas dinas menangani bantuan pemerintah untuk warga yang terdampak bencana, sehingga suaminya tidak bisa ikut bersamanya, dan setelah menutup panggilan telepon itu, Anggi bergegas memesan tiket pesawat ke Jakarta, dan mobil travel yang akan menjemputnya di Bandara, untuk langsung mengantarkannya ke Desa Rawa Belatung.


Perjalanan udara dua jam terasa sangat lama untuk Anggi, karena dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Desa asalnya, sehingga dia tidak bisa tenang disepanjang perjalanan, bahkan turbulensi yang terjadi di pesawat sama sekali tidak dirasakan olehnya, karena hati dan pikirannya sedang tertuju pada anak semata wayangnya, sesampainya di Bandara Jakarta Anggi segera berlari keluar dengan cepat, dia sengaja tidak membawa apapun hanya tas selempang saja yang dibawanya, untuk meringankan langkahnya, untung saja mobil travel yang dipesan nya sudah datang dan menunggunya untuk berangkat, dengan nafas yang tersengal-sengal, Anggi segera duduk sesuai nomer tempat duduk nya, dan sopir travel itu memberikan Anggi sebotol minuman, karena dia terlihat berpeluh, dan wajahnya sangat kalut.


"Silahkan bu diminum dulu, supaya ibu sedikit tenang".


"Terima kasih mas, saya akan tenang ketika saya dapat melihat anak saya baik-baik saja", ucap Anggi dengan wajah sendu.


Nampak sang sopir travel iba mendengar jawaban Anggi, lalu Anggi pun menceritakan segalanya pada sopir dan penumpang yang ada di mobil travel itu, sebenarnya sang sopir harus mengantarkan semua penumpang sesuai rute terdekat dulu, tapi karena semua penumpang mengerti dengan kekhawatiran Anggi, mereka memutuskan untuk mengantarkan Anggi ke desa nya terlebih dulu, semua penumpang travel itu tidak tega melihat keadaan Anggi yang menangis disepanjang perjalanan, nampak Anggi sangat bersyukur dan berterimakasih pada semua penumpang yang ada disana, dia memberikan beberapa lembar uang sebagai kompensasi, karena dia dibolehkan di antar terlebih dulu, sebenarnya Anggi bisa saja naik pesawat lagi sampai di bandara yang ada di Jawa Tengah, tapi tidak ada jadwal penerbangan hari itu, sehingga Anggi memutuskan untuk naik travel dari Jakarta, dan setelah menempuh perjalanan darat yang sangat lama, Anggi pun sampai di Desa Rawa Belatung, terlihat wajahnya senang bercampur dengan kesedihan, karena dia tidak tau bagaimana kondisi anaknya yang sebenarnya, sampai akhirnya Anggi sampai di depan pagar sebuah rumah yang ditinggalinya semasa kecil dulu, lalu Anggi berjalan tertatih memasuki halaman rumah yang sangat dirindukan nya.


...Berikan dukungan Vote dan hadiahnya yuk kak, boleh hadiah bunga ataupun kopi, supaya Author semangat berkarya, Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....