
Dengan berlari tergesa-gesa beberapa warga akhirnya sampai di kebun mangga pak Sapri, mereka semua berusaha mengecoh penglihatan macan tutul itu supaya dia tidak memperhatikan pak Eko yang sudah tersungkur tidak berdaya.
Nampak pak Budi membawa tongkat panjang dan memukul-mukulkan tongkat itu ke punggung macan tutul yang masih menghadap ke arah pak Eko, sedangkan pak Sapri melempari macan tutul itu menggunakan batu.
Klotak klotak...
Batu itu berjatuhan ke tanah setelah mengenai kepala macan tutul itu, kemudian binatang buas itu terpancing juga dan berusaha mencelakai pak Budi dan juga pak Sapri, sementara warga yang lain nya berusaha membantu pak Eko untuk pergi dari sana dan membawa nya segera ke rumah sakit karena luka di tubuh nya sangat menghawatirkan.
Terlihat pak Dahlan begitu terkejut melihat keadaan pak Eko yang penuh dengan luka di tubuh nya.
"Kang tahanlah lukamu ini kami akan membawamu ke rumah sakit". Seru pak Dahlan yang berusaha membantu membopong tubuh pak Eko.
Lalu pak Dahlan menyarankan supaya salah satu dari mereka pergi ke rumah Anto dan meminjam mobilnya untuk membawa pak Eko ke rumah sakit sementara beberapa warga yang lain nya kembali ke kebun untuk membantu pak Budi dan pak Sapri menangkap macan tutul itu.
Kemudian beberapa warga itu berjalan meninggalkan pak Eko dan pak Dahlan yang sedang menunggu Anto membawakan mobilnya, dan sesampainya di kebun itu nampak salah satu dari warga yaitu pak Broto berusaha menembakan sesuatu ke tubuh macan tutul itu.
Dengan konsentrasi penuh pak Broto mengarahkan senjata nya ke tubuh macan tutul itu.
Door...
Bunyi tembakan mengenai macan tutul itu, seketika tubuh macan itu berdarah dan ambruk ke tanah.
"Cepat bawakan jaring yang ada didalam tas hitam itu, kita harus segera menangkapnya selagi binatang buas ini tidak sadarkan diri". Perintah pak Broto pada semua orang.
Lalu semua warga berusah membantu pak Broto memakaikan jaring itu ke atas tubuh macan tutul yang sedang terkapar tidak berdaya di tanah.
"Pak apakah tidak berbahaya jika kau menembaknya?". Tanya pak Budi pada pak Broto yang sedang sibuk menyimpan senapan nya ke dalam tas hitam nya.
"Kau tidak perlu hawatir, binatang buas itu tidak apa-apa aku hanya menembakan bius ke tubuh nya supaya dia bisa tertidur untuk beberapa saat". Jawab pak Broto dengan tertawa puas.
"Tapi pak tubuh macan tutul itu berdarah, bukankah binatang ini di lindungi negara". Seru pak Sapri dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sudahlah kalian tidak usah repot memikirkan nasib binatang buas itu, seharusnya kalian semua berterima kasih padaku karena aku sudah menangkap dan melumpuhkan binatang buas ini". Cetus pak Broto dengan berkacak pinggang.
Tanpa mereka semua tau, macan tutul yang sedang terkapar tidak berdaya itu adalah Ari suami dari anak penguasa alam gaib yang saat ini sedang memandang mereka semua dengan penuh amarah, terlihat Sukma melati sangat murka melihat suami nya terluka dan di tangkap oleh warga desa itu.
Lalu Sukma melati mendatangi semua warga itu dengan wujudnya sebagai siluman ular sanca, dengan suara mendesis dan badan nya yang menggeliat di tanah ular sanca itu berusaha mencelakai semua warga yang ada disana.
Nampak semua orang yang ada disana kocar-kacir tidak karuan mereka berhamburan tidak tentu arah, tapi berbeda dengan pak Broto, dia terlihat sangat berani dan berusaha mengeluarkan senapan nya yang berada didalam tas nya.
Tapi ular sanca itu merayap dengan cepat ke arah pak Broto yang masih fokus dengan resleting tas nya yang macet ditempat.
Ah kurang ajar, kenapa resleting ini macet di waktu yang tidak tepat, umpat pak Broto pada dirinya sendiri.
Dan dengan penuh amarah jelmaan ular sanca Sukma melati mematuk tubuh pak Broto berkali-kali sehingga hanya dengan sekejap saja racun-racun yang dia miliki bisa merenggut nyawa pak Broto hanya dengan hitungan menit saja.
Setelah ular sanca itu melancarkan aksinya dia melepaskan lilitan nya di tubuh pak Broto, setelah itu tubuh pak Broto tersungkur di tanah begitu saja, tubuh nya sangat lemas seakan tidak ada tulang didalam tubuh nya dan seluruh kulitnya membiru dengan mulut yang mengeluarkan busa.
Sedangkan semua warga yang bersembunyi di semak-semak dan melihat kejadian mengerikan yang pak Broto alami merasa sangat takut, terlihat beberapa dari mereka berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci dan sebagian dari mereka yang ingin menolong pak Broto mengurungkan niat nya karena melihat ular sanca yang baru saja mematuknya tiba-tiba saja berubah menjadi seorang perempuan cantik.
Terlihat perempuan cantik itu berusaha melepaskan jaring yang mengurung macan tutul yang ada didalam nya, dengan menangis terisak perempuan cantik jelmaan ular sanca tadi berusaha menyadarkan binatang buas yang masih terpejam dengan luka di bagian punggung nya.
"Kangmas bertahanlah aku akan membawamu kembali, dan tabib di pendopo akan menyembuhkanmu". Ucap Sukma melati dengan berderai air mata seraya memeluk tubuh macan tutul itu.
Setelah itu jelmaan perempuan cantik itu nampak komat-kamit membacakan sesuatu dan tiba-tiba saja mereka menghilang begitu saja bersamaan dengan asap yang mengepul di kebun mangga itu.
Wuussh...
Angin kencang berhembus diseluruh penjuru desa Rawa belatung, membuat semua warga yang bersembunyi di semak-semak menjadi menggigil karena kedinginan.
"Pak bukankah makhluk jadi-jadian itu sudah pergi, mari kita lihat keadaan pak Broto disana". Bisik pak Budi ditelinga pak Sapri.
Terlihat ada sedikit keraguan di mata semua orang, karena mereka semua belum yakin benar jika perempuan jadi-jadian itu bersama macan tutul tadi sudah pergi dari kebun mangga itu.
Kemudian pak Sapri memimpin semua orang untuk segera pergi menolong pak Broto yang sudah di patuk ular jadi-jadian tadi, dengan langkah perlahan mereka semua berhati-hati melangkahkan kaki nya dengan mata yang memandang ke berbagai arah karena takut makhluk jadi-jadian tadi datang kembali.
Setelah itu pak Sapri dan pak Budi berusaha memeriksa detak jantung dan denyut nadi pak Broto, lalu keduanya nampak saling memandang dengan membulatkan kedua mata nya.
"Bagaimana apakah pak Broto baik-baik saja". Seru beberapa warga berteriak dibelakang pak Sapri.
Nampak keduanya hanya menundukan kepala nya dan bersamaan mengatakan Inalillahi wainailaihi rojiun, ucap pak Budi dan pak Sapri bersamaan.
Terlihat semua warga terkejut mendengar ucapan kedua nya, mereka berusaha memastikan nya sendiri dengan memeriksa detak jantung pak Broto yang sudah tidak ada.
Nampak semua orang ketakutan dan bingung harus melakukan apa, karena tiba-tiba saja pak Broto meninggal dunia setelah dipatuk ular sanca jelmaan seorang perempuan cantik.
Lalu pak Sapri menyarankan agar jenazah pak Broto harus segera dibawa pulang ke rumah nya, bagaimanapun keluarga nya harus mengetahui jika kepala keluarga mereka saat ini sudah tiada.
Kemudian mereka semua bergotong royong membopong jenazah pak Broto untuk dibawa kembali ke rumah nya dan mereka semua sibuk dengan pikiran nya masing-masing akan memberikan penjelasan apa pada pihak keluarga pak Broto.
*
*
...Bersambung....