
Kemudian pak haji Faruk yang sudah selesai mengurusi jenazah bu Jamilah meminta beberapa warga untuk segera membawa jenazah nya untuk di sholatkan dan segera di kuburkan.
Terlihat semua keluarga bu Jamilah menangis histeris mengiringi kepergian jenazah bu Jamilah yang akan segera dibawa ke pemakaman.
Kedua anak laki laki bu Jamilah ikut mengangkat keranda mayat ibu nya menuju ke pemakaman yang tidak jauh dari desa.
Beberapa warga yang melayat kembali ke rumah nya masing masing, mereka melihat bu Ani dan pak Slamet yang sedang duduk santai di teras rumah nya dengan menikmati secangkir kopi dan juga ketela rebus.
"Eh kok mereka tidak pergi melayat ya mbah". Ucap bu Siti pada simbah Rania.
"Mungkin Slamet sedang sakit dan Ani tidak bisa meninggalkan nya di rumah sendirian". Cetus simbah Rania memandang ke arah rumah bu Ani.
Jika memang Slamet kenapa mereka terlihat bahagia dengan kematian Jamilah ya, batin simbah Rania dalam hati nya.
"Masa iya to mbah lihat saja ekspresi wajah mereka berdua seperti orang yang sedang bahagia lo". Seru bu Siti dengan mata melirik kedua nya.
"Entahlah Sit biarkan saja daripada kita berbicara yang belum tentu benar takut nya jadi fitnah". Tukas simbah Rania berjalan masuk ke dalam rumah nya.
Cekleek...
Simbah masuk kedalam ruang tamu yang sudah ada Rania disana berbicara sendiri dengan teman hantu nya.
"Apa yang kau lakukan nduk?". Tanya simbah seraya duduk disamping Rania.
Kemudian Rania menjelaskan pada simbah jika kemarin malam petter melihat cahaya suar berwarna hitam pekat masuk kedalam rumah bu Jamilah tapi pagi ini bu Jamilah sudah tiada.
"Apakah kematian bu Jamilah ada hubungan nya dengan cahaya hitam itu ya mbah". Ucap Rania dengan mengernyitkan dahi nya.
"Simbah tidak tau nduk, tapi mbah Karto juga berkata ada yang aneh didalam rumah bu Jamilah". Cetus simbah dengan wajah serius.
*
*
Sementara di pemakaman suasana duka begitu terasa saat jenazah bu Jamilah akan dimasukan kedalam liang kubur nya.
Meski terlihat tegar kedua anak laki laki bu Jamilah seketika lemas melihat ibu nya yang akan dikubur didalam tanah, sedangkan Rara menantunya langsung pingsan dipelukan suami nya.
Tok tok tok...
Cekleek...
Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan mbah Karto bu Ani mempersilahkan mbah Karto untuk masuk kedalam rumah nya.
Mbah Karto menemui pak Slamet dan melihat kondisi mata nya yang sudah terlalu parah, tapi disaat itu juga mbah Karto merasakan aura gaib yang ada di rumah itu.
Kenapa aku merasakan aura gaib yang sama seperti di rumah almarhum Jamilah ya, batin mbah Karto didalam hati nya.
"Nduk kondisi suami mu sudah sangat parah kau harus membawa nya ke Rumah sakit, karena ini hanya bisa di obati oleh tenaga medis". Cetus mbah Karto menatap bu Ani.
"Iya mbah terima kasih saran nya, tapi saya akan mencoba membawa suamiku berobat di desa orang tua ku saja". Seru bu Ani melirik suami nya.
"Nduk apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?". Tanya mbah Karto dengan suara berat.
"Mau tanya apa to mbah". Jawab bu Ani dengab cemas.
"Apa kau masih memiliki dendam pada keluarga Jamilah". Cetus mbah Karto dengan mengernyitkan dahi nya.
Kenapa mbah Karto bertanya seperti itu padaku ya, jangan jangan dia tau jika aku yang sudah membuat si lintah darat itu mati, gumam bu Ani didalam hati nya.
Sementara mbah Karto yang sedang menunggu jawaban dari bu Ani merasa ada yang disembunyikan oleh pasangan suami istri itu.
"Oalah mbah aku sudah tidak perduli lagi dengan keluarga mereka, jangan tanyakan apapun lagi padaku tentang mereka". Seru bu Ani dengan wajah kesal nya.
"Baiklah nduk aku pamit pulang dulu". Ucap mbah Karto berjalan keluar dari rumah bu Ani.
*
*
...Bersambung....