DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kesempatan emas Bagaskara.


"Jadi maksudmu Senopati sendiri yang mengirim Lala pergi dari alam kita, lalu dimana manusia laknat itu?". Tanya Sekar memandang Bagaskara penasaran.


"Lala sudah di tempat yang aman dari jangkauan kangmas Elang, jadi kau tenang saja mbakyu suamimu itu akan kembali padamu lagi". Jawab Bagaskara menyeringai.


"Apa kau yakin jika Lala tidak akan kembali lagi, karena jika itu benar aku seharusnya bersyukur karena bocah tengik itu, aku tidak perlu susah payah menyingkirkan Lala". Tukas Sekar dengan mendongakan kepalanya.


"Aku akan melihat keadaan Senopati mbakyu, aku harus memastikan jika bocah itu tidak berkata yang sebenarnya pada romo nya". Tukas Bagaskara seraya melesat ke kamar Senopati.


Dan sesampainya disana ternyata ada tabib istana yang sedang memberikan ramuan obat untuk Seno, dan Bagaskara pun mengulur waktu dengan berpura-pura menanyakan keadaan Seno pada tabib itu, dan tabib pun mengatakan jika Senopati telah meminum racun yang sangat berbahaya dan nyawa sangat terancam.


Siapa yang telah meracuni anak ini, bukankah dia hanya kehabisan energinya saja, seharusnya dia hanya perlu beristirahat saja dan meminum ramuan penambah kekuatan saja, malang sekali nasibnya, apa mungkin racun itu ada hubungan nya dengan mbakyu Sekar, karena hanya dia yang tidak menyukai ibu dan anak itu, batin Bagaskara dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Setelah itu tabib istana pergi dari kamar Senopati dan hanya Bagaskara dengan Seno, lalu Bagaskara mendekati Seno dan membisikan sesuatu tentang ibundanya, nampak Senopati langsung merespon dengan membuka kedua matanya lebar.


"Paman bagaimana kondisi ibundaku". Ucap Senopati lirih.


"Ibundamu baik-baik saja, aku sudah memindahkan nya ke tempat yang aman, kau lekaslah sembuh ya No, supaya kau bisa menjenguk ibundamu". Tukas Bagaskara memandang haru wajah Seno yang pucat.


"Aku baik-baik saja paman, berjanjilah padaku untuk selalu menjaga ibundaku selagi aku tidak ada disampingnya". Pinta Senopati dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah kau tidak mengatakan sesuatu pada romo mu?". Tanya Bagaskara.


"Aku tidak mengatakan apapun tentang ibundaku, bahkan romo tidak tau jika aku yang telah mengirim ibundaku pergi dari alam ini". Jawab Senopati dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Terlihat wajah sendu Bagaskara melihat penderitaan bocah sekecil Senopati yang harus menanggung semua duka ibunya, meski Bagaskara seorang makhluk gaib tapi dia sangat penyayang dengan makhluk disekitarnya.


Lalu tiba-tiba Elang datang sehingga Bagaskara dan Senopati segera menghentikan pemnicaraan mereka begitu saja, Elang yang tanpa curiga dengan Bagaskara hanya tersenyum datar pada adik tirinya itu.


"Anakku apakah kau sudah merasa lebih baik, lihatlah ternyata ibunda Sekar juga sangat menyayangimu, baru saja dia meminta ijinku untuk pergi mengembara selama beberapa hari untuk mencarikan penawar racun untukmu, romo tidak pernah menyangka jika dia perduli padamu". Jelas Elang dengan wajah sendu.


"Apakah benar ibunda Sekar perduli padaku, atau dia hanya menginginkan imbalan yang romo janjikan". Ucap Senopati mengaitkan kedua alis matanya.


"Kau tidak boleh berburuk sangka padanya anakku, bagaimanapun kau harus menghargainya karena dia juga istri romomu". Tegas Elang mengusap lembut rambur Senopati.


Kemudian Elang mengajak Bagaskara keluar dari kamar Senopati karena ada yang ingin dia bicarakan.


"Bagaskara kita harus berbicara hal yang penting, mari ke pendopo istana saja". Tukas Elang seraya melesat meninggalkan kamar Senopati.


Sesampainya di pendopo istana nampak Elang memberikan perintah pada Bagaskara untuk mencari Lala di alam manusia, karena Elang curiga jika ada makhluk gaib yang sengaja menyembunyikan Lala entah dimana.


"Aku tidak bisa pergi ke alam manusia, karena Senopati sedang membutuhkanku, apalagi dia tidak tau jika ibundanya tidak berada disini lagi, aku harus selalu bersamanya karena nyawa anakku itu sedang dalam bahaya". Tegas Elang menatap tajam pada Bagaskara.


Ini kesempatan yang bagus, dengan perintah darinya aku bisa leluasa pergi ke alam manusia tanpa harus sembunyi-sembunyi meskipun begitu aku harus tetap berhati-hati, karena bisa saja ini adalah jebakan, batin Bagaskara dengan mengkerutkan keningnya.


"Baiklah kangmas keinginanmu adalah perintah untukku, saat ini juga aku akan berusaha mencari istrimu itu". Sahut Bagaskara dengan menundukan kepalanya.


Kemudian Bagaskara melesat meninggalkan Elang yang masih termenung di pendopo itu.


Setelah memastikan semua aman Bagaskara membuka gerbang gaib alamnya untuk segera menemui Lala di alam manusia.


Wuuusshh...


Bagaskara sudah memasuki alam manusia, dan dia mengubah jati dirinya sebagai Satria.


Dan tidak jauh darinya nampak ada kedua hantu londo yang sedang melesat di seluruh hutan itu, Satria berpura-pura tidak melihatnya tapi Evana dan Jansen merasakan aura kuat di dekat Satria.


*Siapa laki-laki itu, kenapa aku merasakan aura negatif dan positif yang sangat kuat didekatnya, batin Evana menolehkan pandangan nya pada Satria yang sedang berjalan kaki seraya memetik buah-buahan yang ada di hutan itu.


Apakah kedua hantu itu mengetahui siapa aku yang sebenarnya, kenapa mereka melihatku dengan tatapan seperti itu, batin Satria berpura-pura tidak bisa melihat hantu Evana dan Jansen*.


Kemudian Jansen mengajak Evana pergi dari tempat itu karena masih banyak tempat yang belum mereka datangi, dan setelah Evana dan Jansen pergi nampak Satria sangat lega, dia menghembuskan nafasnya panjang.


Baguslah mereka sudah pergi, aku akan menemui Lala sekarang juga, dan aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang Senopati.


Nampak Satria melesat pergi ke rumah yang ditempati Lala, Satria berjalan perlahan dan mencari tau dimana keberadaan Lala.


Satria menggunakan mata batin nya untuk melihat dimana keberadaan Lala, ternyata saat itu Lala sedang mandi dengan tubuh polosnya yang menantang naluri kejantanan Satria.


Aah tubuh sintal yang menggoda itu membuatku tidak tahan, kenapa aku harus datang disaat yang tidak tepat, batin Satria dengan menelan ludahnya kasar.


Kemudian Satria menutup mata batin nya kembali karena dia sudah tidak tahan menahan gejolak yang ada didalam dirinya.


Dan tiba-tiba saja Lala keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan rambut yang masih basah, membuat jantung Satria berdetak kencang karena melihat pemandangan indah yang ada didepan matanya.


"Eh mas Satria, sebentar ya aku mau ganti baju dulu". Tukas Lala seraya berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Terlihat Satria hanya berdiri mematung dengan miliknya yang sudah mulai sesak didalam sana, tapi langkah kaki Lala terhenti karena ada seekor tikus yang sedang berjalan melewatinya.


Lala yang merasa jijik dengan tikus itu reflek berteriak dan belari menghambur ke arah Satria, nampak Lala memeluk tubuh Satria yang sedang mematung itu.


"Aku aku takut mas ada tikus disana". Seru Lala seraya memeluk erat Satria.


Dan tanpa sadar Satria membalas pelukan Lala seraya mengecup lembut bibir mungil Lala, tubuh Lala yang sintal menempel pada tubuh Satria yang sudah menegang, membuat kejantanan Satria semakin memuncak.


Sebelah tangan Satria membuka paksa handuk yang menutupi tubuh Lala, nampak Lala sedang hanyut dalam kecupan lembut Satria dan Lala tidak sadar jika tubuh polosnya sudah terbuka lebar dihadapan Satria.


Satria terus mengecup lembut bibir mungil Lala dengan memainkam salivanya, membuat Lala mengeluarkan suara-suara anehnya.


*


*


...Bersambung....