
Setelah siluman itu menghilang nampak semua orang bersyukur karena makhluk gaib itu sudah pergi dari desa mereka, tapi berbeda dengan pak haji Faruk dan Rania, wajah keduanya masih sangat cemas untuk menghadapi berbagai hal gaib yang terjadi di desa mereka.
"Bapak-bapak ibu-ibu saya minta perhatian nya sebentar karena ada hal penting yang harus saya sampaikan". Ucap pak haji Faruk berbicara didepan mimbar masjid.
Terlihat semua orang memandang serius ke arah pak haji Faruk yang sedang ingin menyampaikan sesuatu pada mereka semua, banyak dari warga yang menerka-nerka dengan apa yang akan disampaikan.
Lalu pak haji Faruk berkata pada semua warga jika saat ini keadaan di desa Rawa belatung sedang tidak baik, karena semua makhluk gaib penunggu hutan angker bisa kapan saja menyerang semua warga desa nya, dan besok pak haji Faruk harus pergi selama beberapa hari ke kota untuk menemui guru besar nya, karena pak haji Faruk membutuhkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan semua tragedi ini.
Terlihat kedua mata pak haji berkaca-kaca beliau seakan susah melanjutkan ucapan nya, sesekali beliau menghela nafas yang panjang dengan sesekali memijat pangkal hidung nya, kemudian beliau melanjutkan perkataan nya dengan mengucapkan basmalah terlebih dahulu.
"Saya harap semua warga saling membantu dan lebih mendekatkan diri pada Allah, karena setelah besok saya pergi dari desa ini untuk mencari bantuan dan jalan keluar supaya kita semua bisa terlepas dari teror makhluk gaib, kalian semua tidak dapat meminta bantuan pada siapapun lagi kecuali pada Allah SWT karena sesepuh desa ini juga tidak dapat membantu kalian lagi". Ucap pak haji Faruk dengan suara bergetar.
Nampak wajah semua warga menjadi sangat cemas, dan salah satu dari mereka bertanya kenapa mbah Karto tidak dapat membantu lagi, karena sebelumnya beliau selalu menyelesaikan semua masalah yang berbau gaib.
Pak haji Faruk terdiam dan hanya menundukan wajah nya, beliau menjelaskan jika saat ini kondisi mbah Karto sedang tidak baik, beliau sedang tidak sadarkan diri di rumah nya.
"Kalau begitu kita serahkan saja Ari pada siluman ular itu, supaya mereka tidak mencelakai semua warga desa lagi". Seru pak Joko mewakili semua warga.
"Begini pak bu, masalah ini tidak sesederhana itu kita menyerahkan Ari dan makhluk gaib itu tidak mengganggu kita lagi, karena sejati nya iblis diciptakan memang untuk mengganggu manusia yang tidak beriman, maka dari itu kita sebagai manusia yang beriman jangan sampai menuruti kemauan makhluk gaib itu". Cetus pak haji Faruk dengan membulatkan kedua mata nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mbah Karto pak haji, kenapa beliau bisa sampai tidak sadarkan diri?". Tanya pak Sapri dengan mengkerutkan kening nya.
"Semua itu terjadi karena beliau berusaha membantu kita semua terlepas dari teror makhluk gaib itu bahkan saat ini jiwa Edi juga dalam bahaya karena seperti yang kalian tau siluman ular telah membawa Edi ke alam nya". Jelas pak haji Faruk dengan wajah cemas nya.
Lalu terdengar suara warga yang berteriak jika mereka harus menyerahkan Ari pada istri gaib nya supaya makhluk gaib penunggu hutan angker tidak mencelakai semua warga desa nya, sedikit perdebatan terjadi di masjid saat itu tapi pak haji menjelaskan dengan penuh kesabaran dan wibawa nya, itu bukanlah sebuah solusi tapi hanya menunda masalah saja karena pada akhirnya makhluk gaib itu akan tetap mencelakai warga desa Rawa belatung sesuai janji nya pada Ari suami siluman ular itu.
"Lantas apa yang harus kita lakukan pak haji?". Tanya pak Sapri dengan wajah cemas nya.
"Sesuai intruksi saya tadi, semua warga harus bersatu saling membantu dan mendekatkan diri pada Allah, insyaallah saya akan kembali bersama para pemuka agama dan sementara itu cobalah temui orang yang paham dunia gaib seperti mbah Karto yang dapat menjaga desa ini untuk sementara waktu sebelum saya kembali ataupun mbah Karto dapat sehat kembali". Seru pak haji Faruk memandang semua warga yang terlihat ketakutan.
Tanpa terasa jam sudah mendekati waktu shalat subuh, semua warga kini bersiap untuk melakukan shalat berjamaah, lalu Aldo mengumandangkan adzan subuh nampak Rania tersenyum manis memandang Aldo yang suara nya sangat merdu ketika melakukan adzan.
Kenapa Rania malah tersenyum dengan keadaan yang kacau balau seperti ini, batin Wati didalam hati nya.
Plaak...
Terlihat Wati menepuk pundak Rania, dan membuyarkan lamunan gadis yang beranjak remaja itu.
"Aww... Apa an sih Wat, sakit tau!!!", seru Rania dengan membulatkan kedua mata nya.
"Kenapa kau tersenyum sendiri hah, saat ini bukan waktu nya untuk tersenyum Rania". Tukas Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Tanpa menjawab ucapan Wati, Rania langsung bangkit dari duduknya untuk melakukan shalat subuh berjamaah.
"Pak Sapri saya titip semua warga ya, tolong di ingatkan ibadahnya jangan sampai lupa, pagi ini saya akan langsung pergi keluar kota, semoga saya tidak terlambat dan satu lagi tanyalah pada simbah Parti apakah beliau mengenal seseorang selain mbah Karto yang mengerti tentang hal gaib, untuk berjaga-jaga saja supaya semua warga aman". Ucap pak haji Faruk dengan wajah sendu nya.
"Pak haji jangan hawatir, kami semua akan saling menjaga insyaallah semua akan baik-baik saja". Tukas Rania dengan senyum manis nya.
Hmm Rania ternyata sangat cantik kalau tersenyum begitu, batin Aldo didalam hati nya dengan memandang wajah Rania dari jarak dekat.
"Ya sudah pak haji, saya pamit pulang dulu mau istirahat sebentar sebelum ke kebun nanti pagi, ayo Do kita pulang dulu". Cetus pak Sapri seraya menepuk pundak anak laki-laki nya yang sedang melamun disamping nya.
Nampak Aldo hanya terdiam dan tidak bergeming karena kedua mata nya masih sibuk memandang Rania.
"Le cah bagus itu lho di ajak pulang sama bapakmu kok malah melamun saja to". Seru pak haji Faruk seraya menepuk-nepuk pipi Aldo.
"Eh iya pak haji Aldo pulang dulu, Assalamuallaikum". Sahut Aldo seraya bangkit dari duduknya dan berjalan pulang bersama bapaknya.
Waalaikumsallam, sahut mereka bersamaan, setelah itu pak haji melanjutkan pembicaraan nya dengan Rania yang masih bersama Wati.
"Ingat pesanku ya nduk selalu ingatkan semua orang untuk ibadah, dan jelaskan semua pada simbahmu supaya beliau mengerti dan ikut membantu mencari tau tentang orang yang mengerti dunia gaib, karena aku tidak dapat membawa jiwa mbah Karto kembali tanpa bantuan orang yang paham betul tentang supranatural". Cetus pak haji Faruk dengan mengkerutkan kening nya.
"Iya pak haji Rania mengerti, nanti pak haji istirahat dulu ya sebelum pergi, semoga perjalanan pak haji lancar sampai tujuan". Ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih nduk, kau sangat membantu kami semua, lebih baik kalian berdua pulang ke rumah dan istirahat kembali, besok mintalah bantuan warga yang lain untuk membangun lagi bangunan rumah simbahmu yang terbakar". Tukas pak haji.
Kemudian Rania dan Wati melangkahkan kaki nya kembali ke rumah, ditengah-tengah perjalanan Wati selalu menempelkan badan nya pada sepupu nya yang kesulitan berjalan karena terus dipepet nya.
"Kau ini kenapa sih Wat membuatku kesulitan berjalan saja, kalau aku jatuh bagaimana, apa kau tidak lihat ini luka ditelapak kaki ku hah". Seru Rania dengan mengangkat ke atas sebelah kaki nya yang masih dibalut perban.
"Ehm anu Ran... Aku terbayang wajah siluman ular tadi yang setengah melepuh, jadinya aku takut deh". Jelas Wati dengan mengusap tengkuk nya.
Kemudian dari arah belakang mereka tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak yang rimbun, Rania dan Wati terperanjat dengan membulatkan kedua mata nya.
Ssssttsss...
Terdengar suara berdesis lalu Rania dan Wati memberanikan diri untuk membalikan badan nya...
*
*
...Bersambung. ...