
"Wati apakah kau tau, baru saja aku bisa melihat wajah dukun yang menjadikan arwah Pardi sebagai peliharaan nya, arwah Pardi di ancam oleh dukun itu, sebenarnya arwah Pardi sudah melupakan dendam nya pada pak Rahmat, tapi dia terpikat oleh kecantikan kak Luna, dan dia melupakan tugas dari dukun itu, untuk menghancurkan usaha kak Luna." jelas Rania dengan nafas yang berderu kencang.
Nampak dibelakang Rania dan Wati, ada Wulan yang mendengar perkataan Rania, lalu Wulan melangkahkan kaki nya mendekati Rania, dia menanyakan apa yang dikatakan Rania itu benar atau tidak.
"Ehm Rania juga tidak tau tante, ini pertama kali nya Rania bisa melihat wajah seseorang didalam batin, karena sebelumnya Rania hanya bisa melihat wujud makhluk tak kasat mata saja, tapi tiba-tiba penglihatan itu muncul." seru Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Tante jadi semakin hawatir nduk, bisakah kalian lebih cepat menemui kerabat tante itu?." tanya Wulan dengan wajah sendu.
"Besok kami akan segera kembali kesini, tante jaga kak Luna baik-bajk ya, kami berdua pamit pulang dulu." jawab Rania seraya mengecup punggung tangan Wulan disusul dengan Wati.
Kemudian kedua nya mengendarai sepeda motor kembali ke desa Rawa belatung, nampak di desa itu baru saja ada warga yang meninggal, karena disepanjang perjalanan desa itu, banyak bunga tujuh rupa yang tersebar di jalanan.
Inalillahi siapa yang meninggal ya, kenapa aku tidak tau, batin Rania didalam hati nya.
Plaak...
Nampak Wati menepuk pundak Rania yang sedang mengendarai sepeda motor, lalu Wati mengatakan pada Rania jika dia mencium aroma bunga tujuh rupa, dan Rania mengatakan pada Wati jika disekitar jalan itu memang ada bunga tujuh rupa yang bertebaran.
"Astagfirullohaladzim kenapa kau tidak mengatakan padaku Rania, pasti ada orang yang meninggal tadi." seru Wati dengan menghembuskan nafas nya panjang.
"Kau saja yang tidak memperhatikan, kenapa menyalahkanku Wati." celetuk Rania dengan mengerucutkan bibir nya.
Tidak lama setelah itu kedua nya sampai di rumah, nampak Rania menghentikan laju sepeda motor nya di halaman rumah simbah nya.
Rumah ini nampak sepi semenjak simbah tiada, apalagi setelah mama dan papa kembali ke Kalimantan, batin Rania seraya melangkahkan kaki nya ke dalam rumah.
"Assalamuallaikum." seru Rania dan Wati bersamaan.
Ceklek...
Terlihat Wati membuka pintu rumah nya, dan tidak ada orang disana karena bude Walimah tidak menjawab salam mereka.
"Sepertinya ibu tidak di rumah Ran, karena tidak ada yang menjawab salam kita." tukas Wati dengan memandang ke segala arah.
"Mungkin saja bude sedang melayat ke warga yang meninggal tadi." ucap Rania seraya melangkahkan kaki nya ke gudang belakang.
Aku ingin menemui Petter dulu lah, sudah beberapa hari ini aku sibuk dengan tugas kuliah, sehingga aku jarang berbicara dengan nya, batin Rania didalam hati nya.
Sesampainya di gudang belakang nampak ruangan itu sunyi, sahabat tak kasat mata nya tidak ada disana, lalu Rania berjalan ke kamar nya dengan pikiran nya yang menerka-nerka dimana ketiga hantu itu.
Tidak lama setelah itu terdengar suara bude Walimah, nampak nya dia baru saja pulang dari melayat, karena aroma jenazah dapat tercium oleh hidung Rania.
"Ibu darimana to baru pulang?." tanya Wati memandang wajah letih ibu nya.
"Tadi ibu membantu di rumah bu Siti nduk, suami nya kan baru saja meninggal." jawab bude Walimah seraya berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan nya.
"Loh bukan nya suami bu Siti jarang pulang karena bekerja di luar kota, kapan pulang nya bu kok tau-tau sudah meninggal." seru Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Suami bu Siti menjadi korban tabrak lari, dan pelaku nya melarikan diri, padahal suami bu Siti pulang ke desa karena ingin menikahkan anak gadis nya, yang dua minggu lagi akan menjadi pengantin, tapi nasibnya sangat malang." tukas bude Walimah dengan menggelengkan kepala nya.
"Apakah kau yakin yang dimaksud ibu kak Luna adalah mbah Karto yang kita kenal." ucap Wati dengan mengkerutkan kening nya.
"Sebenarnya aku juga tidak tau Wati, tante itu hanya menuliskan nama desa dan nama kerabatnya Sukarto, mungkin saja itu nama panjang mbah Karto." ujar Rania dengan mendongakan kepala nya ke atas.
"Kalian ngomongin apa to nduk, di desa ini yang nama nya mbah Karto ya hanya satu orang saja." cetus bude Walimah yang sedang duduk di kursi goyang peninggalan simbah Parti.
Kemudian Rania menceritakan pada bude Walimah, tentang teman mereka yang berada di kota, dan pesan ibu Luna tentang kerabat nya.
"Jadi kalian dimintai tolong oleh seseorang, lebih baik kalian tanyakan dulu pada mbah Karto, apakah beliau memiliki kerabat di kota yang bernama Wulan." tukas bude Walimah pada keduanya.
"Baiklah kami pergi dulu ke rumah mbah Karto." sahut Wati seraya berjalan keluar rumah nya.
Lalu bude Walimah berjalan setengah berlari, untuk memberitau mereka jika mbah Karto ada di rumah bu Siti.
"Mbah Karto masih berada di rumah bu Siti, karena keadaan bu Siti memburuk setelah suami nya dimakam kan, dan anaknya belum datang dari luar kota, karena terjebak kemacetan di jalan tol, jadi tidak ada yang membantu disana selain tetangga terdekat saja termasuk mbah Karto juga." jelas bude Walimah di depan pintu rumah.
Kemudian Rania dan Wati berpamitan pada bude Walimah seraya mengecup punggung tangan nya, kedua gadis itu ingin menemui mbah Karto, dan menanyakan kejelasan apakah beliau mempunyai hubungan keluarga, dengan Wulan dan juga Luna atau tidak.
Kedua gadis itu berjalan gontai ke rumah bu Siti yang masih ramai warga melayat, dan ditengah keramaian itu nampak Rania sangat terkejut dan menutupi kedua mata nya dengan tangan.
Astagfirullohaladzim kenapa wujud nya berantakan seperti itu, batin Rania didalam hati nya.
Terlihat Wati mengkerutkan kening nya dan memandang ke segala arah, Wati sangat tau jika Rania sudah melihat sesuatu yang tidak biasanya dia lihat.
"Apa kau melihat hantu yang menyeramkan disini, kenapa kau menutup kedua mata mu Rania." ucap Wati dengan suara bergetar.
"Wati aku tunggu disini saja ya, kau masuk saja sendiri dan carilah mbah Karto di dalam, kita bicara di luar sini saja." jelas Rania yang membalikan tubuh nya.
Apakah hantu dengan wujud hancur berantakan itu adalah almarhum yang baru saja meninggal, batin Rania dengan jantung yang berdegup kencang.
Sedangkan di dalam rumah bu Siti nampak pelayat yang berdatangan sangat ramai, mereka membicarakan kondisi jenazah yang susah dikenali, karena tubuh nya terlindas truk dan hancur.
"Kasihan bu Siti ya padahal dia jarang bertemu dengan suami nya, sekalinya bertemu malah sudah menjadi mayat." ucap seorang perempuan yang melayat disana.
Jadi benar dugaanku tadi adalah arwah suami bu Siti, kenapa dia menampakan diri dengan wujud yang seperti itu sih, batin Rania dengan mengusap peluh dikening nya.
Dan dari dalam rumah itu terlihat mbah Karto sedang berjalan bersama Wati, mereka keluad dari rumah duka itu dan menghampiri Rania, nampak Rania sedang berdiri di depan rumah bu Siti dengan wajah yang pucat pasi, karena dia baru saja melihat penampakan hantu yang menjijikan, karena tubuh nya hancur dengan aroma anyir darah yang mengganggu pernafasan nya.
*
*
...Terus dukung Author ya dengan memberikan Vote atau hadiah nya, dan berikan pendapat kalian, apakah kalian setuju jika Author membuat Novel ini menjadi dua season, terima kasih semua pembaca tercinta sehat selalu ya amin 🙏...
...Bersambung....