
"Jadi begini bu Jamilah tadi malam beberapa warga desa ini ada yang didatangi hantu pocong yang meminta tolong tali pocong nya dilepaskan, jadi kami semua berpikir jika hantu pocong itu adalah almarhum pak Kasmuri, Karena sebelum beliau meninggal tidak ada hantu pocong yang gentayangan di desa ini". Tandas pak Dahlan memberitahu bu Jamilah.
"Tapi itu semua tidak membuktikan jika suamiku lah yang menjadi hantu pocong nya". Seru bu Jamilah yang masih meneteskan air mata nya.
"Kami paham bu tapi tolong mengertilah keresahan warga Desa Rawa Belatung ini, kami semua hanya tidak ingin ada teror hantu pocong dimalam hari". Ucap bu Siti.
Kemudian bude Walimah menenangkan bu Jamilah yang masih menangis ditengah kerumunan warga, dan mengajaknya kembali kerumah.
Sesampainya di rumah bu Jamilah, kedua anaknya menghampiri dan bertanya pada bude Walimah kenapa ibu nya terlihat bersedih dan menangis.
Lalu bude Walimah menceritakan semua kejadian di kebun rambutan tadi tentang perdebatan warga mengenai hantu pocong yang gentayangan.
Kedua anak bu Jamilah tidak terima karena bapaknya dibilang sebagai hantu pocong, mereka terlihat sangat marah dan ingin menghampiri warga yang tadi ada di kebun rambutan, tapi bu Jamilah melarang anaknya untuk kesana.
"Sudahlah Le jangan membuat masalah yang baru, temani saja ibu di rumah hu hu hu". Ucap bu Jamilah yang terlihat lemas karena belum makan apapun sejak meninggalnya pak Kasmuri.
"Le tolong ambilkan makan untuk ibumu pasti dia belum makan sejak kemarin". Perintah bude Walimah.
Setelah itu bu Jamilah makan beberapa suap karena anaknya memaksa menyuapi ibunya supaya makan dan tidak jatuh sakit karena terlalu bersedih ditinggal pergi almarhum suami nya.
"Saya permisi pulang dulu ya bu, sudah tengah hari saya belum sempat memasak". Ujar bude Walimah seraya berjalan meninggalkan rumah bu Jamilah.
Sesampainya di rumah bude Walimah menceritakan semua pada simbah tentang bu Jamilah yang tidak terima jika suaminya disebut sebagai hantu pocong yang gentayangan.
Dan semua warga tidak ada yang berani menyarankan untuk membongkar kembali makam pak Kasmuri, lalu simbah meminta bude untuk ke rumah pak Jarwo meminta saran apa yang sebaiknya dilakukan supaya hantu pocong itu tidak gentayangan lagi di Desa Rawa belatung.
Kemudian bude Walimah mengendarai motornya ke kampung sebelah untuk menemui pak Jarwo.
Tok tok tookk...
Cekleek...
"Permisi bu, apa pak Jarwo nya ada di rumah?". Tanya Bude Walimah pada istri pak Jarwo.
"Bapaknya sedang pergi ke kota bu tadi ada tamu yang datang menjemput bapak". Jawab istri pak Jarwo.
"Kalau pak Jarwo pulang tolong sampaikan untuk kerumah saya secepatnya ya bu". Pinta bude Walimah.
"Iya bu nanti akan saya sampaikan ke suami saya, mari bu masuk dulu mampir". Ajak istri pak Jarwo.
Ketika bude Walimah sudah sampai di rumah, dia menjelaskan pada simbah jika pak Jarwo tidak ada di rumah nya, simbah semakin gelisah karena orang-orang yang bisa dimintai tolong tidak berada di rumahnya.
Karena kondisi desa saat ini sedang genting ketika malam sudah tiba, karena hantu pocong itu akan bergentayangan kembali untuk meminta tolong pada orang supaya tali pocong nya dilepaskan.
Tanpa terasa hari sudah sore dan sebentar lagi akan gelap, suasana di desa Rawa belatung ini semakin sunyi tidak seperti biasa nya.
Karena beberapa warga yang sudah mendengar desas desus tentang pocong yang gentayangan tidak ada yang berani keluar dari rumahnya.
Hanya ada beberapa warga yang masih beraktifitas diluar rumah karena mereka belum mendengar tentang pocong yang gentayangan itu.
Terlihat beberapa warga yang datang kerumah pak Kasmuri untuk melakukan pengajian sampe tujuh hari, tapi bu Jamilah merasa sangat sedih karena hanya ada beberapa orang saja yang datang untuk mendoakan almarhum suaminya itu, karena dihari sebelumnya lebih banyak warga yang datang.
Malam semakin gelap suara suara binatang malam mulai terdengar, simbah meminta semua orang untuk melakukan ibadah dan berdoa supaya tidak ada gangguan lagi di malam ini.
Bleek bleek bleek...
Suara itu terdengar lagi, simbah yang baru pertama kali mendengar suara pocong yang sedang melompat itu meminta semua orang untuk tenang dan membaca ayat ayat suci supaya pocong itu segera pergi dari rumah mereka.
Tuloooong congculi...
Bleek bleek bleekk...
Terdengar langkah pocong itu menjauh dari rumah simbah berpindah ke rumah tetangga sebelah, dan tiba-tiba terdengar suara bu Siti berteriak minta tolong.
Simbah dan bude yang mendengar teriakan bu Siti ingin datang ke rumahnya, tapi ketika mereka mengintip dari tirai jendela terlihat pocong pak Kasmuri tengah berdiri di depan pintu rumah bu Siti dan di depan nya ada bu Siti yang telah jatuh pingsan dilantai karena ketakutan.
Setelah menunggu sampai pocong itu pergi, simbah dan bude datang ke rumah bu Siti untuk menolong nya.
Dan terlihat beberapa warga yang mendengar teriakan bu Siti datang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
*
*
* Bersambung *