
Setelah warga itu pergi pak Rahmat dan Pardi bergegas memasuki mobil, lalu pak Rahmat mengemudikan mobilnya ke perbatasan kota dan berhenti di tempat yang sepi dengan pohon-pohon tinggi yang menutupi tempat itu.
Kemudian pak Rahmat dan Pardi menggotong mayat Bambang ke tepi sungai itu, dan terjadi sedikit perdebatan di antara keduanya.
Nampak Pardi memberi saran untuk membuang mayat Bambang di aliran sungai yang ada disana, tapi pak Rahmat menolak saran Pardi dan memintanya menggali tanah di bawah pohon mangga yang ada di dekat aliran sungai itu.
"Jika kau nekat membuang mayat Bambang ke aliran sungai itu, dan mayatnya ditemukan oleh masyarakat sekitar, identitasmu dapat terungkap ke publik secepatnya, karena itu lah kita harus menguburkan mayatnya supaya tidak ada orang yang dapat menemukan nya". Jelas pak Rahmat dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dan setelah mendengar penjelasan pak Rahmat, Pardi bergegas mengambil sekop dan alat yang lain nya, supaya mereka dapat dengan cepat menggali tanah untuk menguburkan mayat Bambang.
Terlihat keduanya sibuk menggali tanah dengan terburu-buru, mereka hawatir jika ada orang yang melihat mereka sedang menggali tanah, dan setelah tanah itu tergali dengan diameter yang tidak terlalu dalam, mereka bergegas menggotong mayat Bambang dan memasukan nya ke dalam lubang yang baru saja mereka gali.
Nampak Pardi berderai air mata, meratapi nasib buruk teman sesamanya bekerja.
"Maafkan aku Mbang, bukan aku yang telah membunuhmu tapi aku terpaksa menguburkanmu dengan cara seperti ini". Tukas Pardi berderai air mata pilu.
"Sudahlah Di, toh bukan kita yang membunuhnya, kita hanya membantu menguburkan nya, meski cara kita salah dan tidak layak". Ucap pak Rahmat dengan mengusap peluh dikeningnya.
Kemudian mereka menutupi mayat Bambang dengan tanah kembali, nampak mayat Bambang dikubur dengan diameter yang tidak terlalu dalam, meskipun begitu pak Rahmat dan Pardi nampak kelelahan.
"Apakah kita akan baik-baik saja pak setelah ini". Ujar Pardi dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kau jangan terlalu cemas, karena semua orang bisa curiga dengan gerak gerikmu, jika ada yang menanyakan Bambang padamu katakan saja jika dia sudah keluar dan tidak bekerja di warung bakso ku lagi". Terang pak Rahmat seraya berjalan memasuki mobilnya.
Lalu keduanya pergi dari tempat itu, meninggalkan mayat Bambang yang terkubur dengan tidak layak.
"Seperti itu lah akhir kisah hidupku, bisakah kau membantuku mengungkap segalanya, aku ingin jenazahku dikuburkan dengan layak". Jelas Bambang pada Rania.
Nampak Rania memandang haru wajah pucat Bambang, Rania gelisah dan bingung dengan apa yang akan dia lakukan untuk membantu Bambang.
"Lalu kenapa kau selalu mengikuti pak Rahmat, padahal temanmu Pardi juga ikut menguburkanmu dengan tidak layak". Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Karena pak Rahmat lah yang sudah menumbalkanku pada pocong itu, supaya warung bakso nya tetap ramai dan laku keras". Jelas Bambang dengan wajah sendu.
Nampak Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Rania tidak mengerti dengan penjelasan Bambang.
Bukankah dia meninggal karena kecelakaan saja, lalu apa hubungan nya dengan pak Rahmat, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Kemudian Bambang memberi tau Rania, jika pak Rahmat memang berniat menumbalkan salah satu pegawainya dan kebetulan saja Bambang lah yang bernasib malang karena membuka pintu gudang itu, padahal pak Rahmat sudah melarangnya untuk membuka pintu gudang itu, karena sebenarnya Pardi lah yang akan di tumbalkan oleh pak Rahmat, tapi kenyataan berkata lain karena itu lah Bambang mati dengan penasaran, dia mengikuti pak Rahmat kemanapun karena hawatir jika dia akan menumbalkan nyawa orang lain.
"Bisakah kau membongkar kuburanku, karena aku ingin dimakamkan dengan layak, aku sudah ikhlas menerima kematianku tapi aku tidak rela dikuburkan dengan cara seperti itu". Jelas Bambang dengan wajah sendu.
Setelah itu Rania meninggalkan Bambang diluar sana dan bergegas masuk ke dalam rumah Lala, nampak Rania menghampiri mbah Karto dan menceritakan semua yang dikatakan Bambang padanya.
"Astagfirullahaladzim, kau harus membantunya nduk kasihan keluarganya, mereka tidak tau jika salah satu anggota keluarganya telah tiada, dan dikuburkan dengan cara yang tidak layak". Seru mbah Karto dengan memejamkan kedua matanya.
Nampak di penglihatan batin mbah Karto, jika pak Rahmat tidak berniat menumbalkan Bambang, tapi semua telat terjadi dan Bambang sudah tiada, semua itu adalah faktor ketidak sengajaan, tapi yang membuat semuanya menjadi fatal adalah karena pak Rahmat dan Pardi bersekongkol untuk menguburkan mayat Bambang diam-diam.
"Aku sudah mengetahui segalanya nduk, kau bisa datangi Pardi dan katakanlah padanya untuk membongkar kuburan Bambang dan menguburkan nya secara layak". Tukas mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.
"Tapi mbah aku takut jika mas Pardi tersinggung dengan ucapanku". Sahut Rania dengan menundukan kepalanya.
"Mungkin besok kau bisa meminta bantuan sahabat tak kasat matamu, biarkan mereka menyelidiki semua dan melihat bagaimana tingkah laku Pardi saat ini, supaya kau dapat menentukan bagaimana caramu untuk berbicara dengan nya". Tegas mbah Karto.
Lalu Rania menyetujui perkataan mbah Karto dan bergegas kembali ke kamar Lala, nampak di dalam kamar itu Lala sedang melamun di atas ranjangnya, kemudian Rania berusaha menghibur Lala dan merangkul tubuhnya.
"Jadi kapan kau akan melakukan ujian susulan La?". Tanya Rania pada Lala yang melamun.
"Entahlah Ran, apakah aku masih sanggup untuk melanjutkan pendidikanku atau tidak, saat ini yang ada dipikiranku hanya anakku Senopati". Jawab Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Aku mengerti kesedihanmu La, tapi masa depanmu harus tetap berjalan, biarkanlah anakmu berada di alamnya dan kau harus melanjutkan hidupmu di dunia ini". Hibur Rania seraya memeluk tubuh Lala.
Dan terdengar di luar kamar itu jika pak Jarwo berpamitan pada Kasmi, karena dia akan melakukan ritual di puncak gunung yang berada dibelakang desa Rawa belatung.
"Aku pamit ya dek, aku harus mencari jimat suci untuk Lala supaya dia bisa terbebas dari suami gaibnya itu". Jelas pak Jarwo pada Kasmi.
"Tapi mas jika buto itu datang ke rumah ini bagaimana". Seru Kasmi dengan wajah yang cemas.
"Kau tenang saja dek, rumah ini sudah dipagari oleh pak hajj Faruk, dan lagipula mbah Karto tetap berada di desa ini selama Lala belum memutuskan hubungan nya dengan suami gaibnya". Tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Nampak di dalam kamarnya Lala meneteskan air matanya, setengah hati Lala tidak rela jika dirinya harus berpisah dengan suami gaibnya Elang, tapi kehidupan mereka berbeda dan Lala harus bisa melupakan suaminya itu.
"Bagaimana aku bisa melupakan suami ku itu Ran, dia adalah laki-laki yang sangat baik meski dia sempat kasar padaku, tapi dia berbuat seperti itu karena dia salah paham saja". Jelas Lala dengan mata berkaca-kaca.
*
*
...Bersambung....