DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Bangkit dari kubur!


Beberapa hari setelah tragedi itu terjadi, keadaan di desa Rawa belatung sudah kembali normal seperti semula.


Beberapa warga melakukan aktifitas nya di ladang dan juga kebun nya masing masing, warga yang bergunjing tentang kejadian gaib tempo hari mulai mereda.


Tapi tanpa ada yang menyadari nya kedua orang tua Rara berniat membalaskan dendam pada bu Ani karena anak semata wayang nya sudah meninggal dunia.


Sementara Anto sedang menemani Ari berobat di kota, kedua orang tua Rara bebas melakukan apa saja di rumah nya.


Kedua orang tua Rara mendalami ilmu hitam dan berniat membangkitkan jasad anak perempuan nya untuk balas dendam pada orang yang telah membuatnya meninggal dunia.


Terlihat ayah Rara melakukan ritual disebuah ruangan yang sangat gelap, pak Sugeng adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putri semata wayang nya, dia tidak rela jika putri nya tiada begitu saja sehingga dia mendalami ilmu hitam yang di ajarkan oleh kakeknya dulu.


...🍃 Flashback on 🍃...


Dahulu kala sewaktu pak Sugeng masih muda dia mempunyai kakek yang sangat sakti di desa nya, kakeknya adalah seorang dukun sakti yang terkenal bisa mengobati berbagai macam penyakit medis maupun non medis, selain itu beliau juga ahli di dunia ilmu hitam.


Karena kakeknya sudah tua dan sakit sakitan, beliau berniat mewariskan ilmu nya pada anak tertua nya yaitu ayah dari pak Sugeng, tapi sangat di sayangkan sebelum kakek nya sempat mewariskan ilmu hitam nya ayah pak Sugeng sudah meninggal dunia karena sebuah kecelakaan lalu lintas.


Dan kakeknya terpaksa mewariskan semua ilmu hitam dan kesakstian pada cucu tertua nya yaitu pak Sugeng, tapi karena pak Sugeng muda tidak mau menggunakan ilmu yang di wariskan kakeknya itu, dia tidak pernah menggunakan semua kesaktian nya sampai saat dia kehilangan putri semata wayang nya.


Pak Sugeng kehilangan arah kebenaran dia bertekad akan membalaskan dendam pada orang yang telah membuat anak perempuan nya meninggal dunia.


...🍃 Flashback off 🍃...


Sementara bu Ema yang membantu suami nya melakukan ritual, dia berpuasa mutih selama satu minggu berturut turut supaya tujuan nya dapat terlaksana dengan lancar.


Pak Sugeng mengorbankan sepasang kerbau untuk penunggu hutan keramat yang diminta nya untuk membangkitkan jasad putri nya.


Malam itu suasana di Desa Rawa belatung berubah menjadi sangat sunyi, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar sama sekali.


Simbah Rania menatap bulan dari jendela rumah nya, perasaan nya mendadak tidak enak karena suasana malam itu berbeda dari malam sebelum nya.


Ya Tuhan kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini, apa akan ada hal yang buruk terjadi di desaku, batin simbah Rania didalam hati nya.


Whuut whuut whuut...


Angin kencang datang tiba tiba merubuhkan sebuah pohon tua yang ada didepan rumah nya, simbah Parti terperanjat dari lamunan nya memandang ke halaman depan rumah nya terlihat pohon tua yang tumbang karena hembusan angin yang sangat kencang.


"Kenapa ada guncangan di rumah ini Rania?". Tanya Wati pada Rania yang sedang terbelalak melihat angin kencang yang merubuhkan sebuah pohon tua didepan rumah nya.


"Wati lihatlah pohon disana tumbang karena diterpa angin kencang". Ucap Rania dengan mengarahkan jari telunjuknya ke depan rumah nya.


"Kok aneh ya Ran, pohon sebesar itu bisa diterpa angin dan tumbang". Seru Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Tanpa menjawab pertanyaan Wati, Rania berlari menemui simbahnya ternyata simbah juga sedang menatap heran pohon yang tumbang didepan sana.


Simbah berkata pada Rania jika firasatnya sangat buruk, entah apa yang akan terjadi di desa itu karena tidak biasa nya suasana malam sehening itu.


"Nduk kau jangan keluar kemana mana dulu, sepertinya akan ada hal yang buruk terjadi setelah ini". Ujar simbah dengan memijat pangkal hidung nya.


"Aku juga merasakan ada sesuatu yang aneh malam ini mbah". Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Sedangkan di rumah Anto nampak suasana sangat mencekam, pak Sugeng sudah selesai melakukan ritualnya.


Pak Sugeng berjalan bebas tanpa bertemu siapapun di perjalanan, sepertinya semesta sedang mendukung niat buruk nya.


Setelah dia sampai didepan makam Rara putri semata wayang nya, dia duduk menyilakan kedua kaki nya dan menaruh sajen dan dupa didepan nya.


Nampak mulutnya bergumam membaca rapalan mantra disembahkan nya dua kepala kerbau untuk penunggu hutan keramat seketika makhluk tinggi besar dengan gigi yang mencuat keluar itu melahap habis kedua kepala kerbau yang sudah ada dihadapan nya.


Setelah selesai dengan persembahan nya makhluk itu memberikan imbalan pada pak Sugeng dan membangkitkan jasad Rara yang ada didalam kubur nya.


Seketika tanah kubur itu terbelah menjadi dua dan sosok perempuan menyeramkan keluar dari dalam liang lahat itu.


Aroma busuk tercium disana, bagaimana tidak wujudnya yang sudah membusuk dengan punggung berlubang yang mengeluarkan belatung yang berjatuhan di sertai bau anyir darah yang masih menetes di belakang punggung nya.


Rara bangkit dari kubur nya menjadi hantu sund.l ***.ng.


"Nduk Rara manuto karo romo mu iki (anakku Rara menurutlah pada ayahmu ini)". Seloroh pak Sugeng menatap wajah pucat putri nya yang menjadi arwah penasaran saat ini.


Kemudian pak Sugeng membacakan mantra dan meletakan bungkusan kain hitam didalam kuburan Rara, supaya arwah Rara menuruti perintahnya untuk membalaskan dendam pada orang yang telah membuatnya tiada.


Terlihat hantu Rara menuruti perintah ayah nya untuk menemukan siapa yang sudah mengirimkan santet pada nya, sund.l ***.ng itu terbang di kegelapan malam meninggalkan pak Sugeng yang masih berada di depan kuburan nya.


Aku harus segera merapikan kuburan ini jika tidak semua orang akan curiga jika putriku bangkit dari kuburnya, batin pak Sugeng didalam hati nya.


Setelah selesai merapikan kuburan Rara seperti semula, pak Sugeng berjalan gontai kembali ke rumah.


Terlihat tenaga nya sudah hampir habis karena sudah hampir seminggu dia hanya makan nasi putih dan minum air putih saja sama seperti istri nya.


Braaakk...


Badan pak Sugeng tersungkur di tengah jalan dengan baju kotor yang dipenuhi tanah kuburan.


Kemudian karena jam sudah sangat larut malam pak Dahlan dan pak Eko memutuskan untuk berpatroli keliling desa, tapi keduanya terkejut melihat seorang laki laki terbaring ditengah jalan.


Mereka menghambur berlari ke arah pak Sugeng yang sedang tidak sadarkan diri itu, kedua hansip itu membalikan badan laki laki itu dan dilihat mertua Ari yang sedang pingsan di tengah jalan itu.


"Mari Lan kita pindahkan dulu ke pinggir jalan, takutnya ada mobil yang melintas dan menabrak pak Sugeng". Seru pak Eko meminta pak Dahlan membantunya mengangkat pak Sugeng ke pinggir jalan.


Setelah mereka memindahkan pak Sugeng ke pinggir jalan mereka menatap heran melihat baju pak Sugeng yang sangat kotor dengan tanah yang menempel di sekujur tubuh nya.


Pak Dahlan memberikan minum dari botol air yang dia bawa, tidak berselang lama pak Sugeng sadar dan membuka kedua mata nya.


Terlihat pak Sugeng terkejut menyadari jika ada dua orang yang sedang berada disamping nya, dia berpikir apakah kedua hansip ini mengetahui jika dia baru saja pergi dari makam putri nya.


Aku harus berpura pura jika tadi ada orang yang menodongku dan membuatku tidak sadarkan diri karena berusaha melawan mereka, gumam pak Sugeng didalam hati nya.


*


*


...Bersambung....