DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mencurigai Bima???


Terdengar suara pak Bagio berteriak histeris dengan memegangi kedua matanya, lalu pak Jarwo bergegas keluar dari dalam rumahnya menghampiri pak Bagio yang sedang berdiri dengan menutup kedua matanya.


Kemudian pak Jarwo memegang pundak pak Bagio dan membalikan tubuh nya, nampak kedua mata pak Bagio sudah berdarah dan kedua bola matanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang sangat tajam.


"Astagfirullahaladzim, ada apa ini pak". Pekik pak Jarwo dengan membukatkan kedua mata nya.


...🍃 Flashback on 🍃...


...Setelah mbah Karto berjalan masuk ke dalam rumah untuk menolong mbah Sumi, buto ireng yang sedari tadi bersembunyi dari penglihatan mbah Karto segera melesat mendekati pak Bagio yang berada di bawah kolong meja, buto ireng itu merubah wujudnya menyamar sebagai mbah Karto dan memintanya keluar dari dalam kolong meja itu, setelah pak Bagio keluar dari kolong meja nampak buto ireng itu merubah wujudnya yang sebenarnya lalu membungkam mulut pak Bagio dan mengarahkan kuku-kuku panjang nya ke kedua bola mata nya sehingga kedua mata pak Bagio terluka parah dan mengalami pendarahan yang banyak....


...🍃 Flashback off 🍃...


"Sakit... Mataku sakit toloong aku". Seru pak Bagio dengan darah yang mengucur deras dari dua matanya yang terluka.


Kemudian mbah Karto dan Kasmi pun berjalan keluar rumah dan sangat terkejut ketika melihat pak Bagio sudah berdiri dengan memegangi kedua matanya yang terluka, nampak Kasmi bergidik ketakuran dan memeluk suaminya erat, nampak mbah Karto berusaha menghentikan pendarahan yang di alami oleh pak Bagio, mbah Karto menggunakan ramuan pak Jarwo yang ada di rumah mbah Sumi tapi pendarahan yang di alami pak Bagio tidak kunjung berhenti.


"Jika seperti ini terus dia akan meninggal karena infeksi dan kehabisan darah kita harus membawanya ke rumah sakit". Tukas mbah Karto dengan wajah cemasnya.


"Tapi mbah jika kalian pergi mengantarkan pak Bagio ke rumah sakit, bagaimana dengan Lala dan juga simbok?". Tanya Kasmi dengan wajah sendu nya.


Belum sampai mbah Karto menjawab pertanyaan Kasmi, nampak Bima datang dan berkata jika dia akan menjaga Lala dan juga mbah Sumi, terlihat mbah Karto mengkerutkan keningnya seakan memikirkan sesuatu, tapi keadaan pak Bagio sudah sangat memghawatirkan, nyawa pak Bagio bisa saja melayang jika mereka terlambat membawanya ke rumah sakit.


"Mbah Karto di rumah saja ya, biar kangmas Jarwo saja yang membawa pak Bagio ke rumah sakit". Pinta Kasmi dengan menggigit bibir bawahnya.


"Tidak bisa nduk, nyawa Bagio sedang terancam bisa saja buto ireng itu datang kembali dan mencelakai Bagio ditengah perjalanan, karena kesehatan suamimu belum pulih sepenuhnya aku tidak bisa membiarkan nya pergi berdua saja dengan Bagio, karena Jarwo tidak akan sanggup melawan buto itu seorang diri". Tegas mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.


Baguslah kangmas Karto akan pergi bersama Jarwo dengan begitu aku bisa bebas melakukan ritual pernikahan gaib antara Lala dengan Ki Ageng sedo setelah itu Lala dan juga bayi nya akan dibawa ke alam gaib, dan aku akan mendapatkan imbalan yang besar dari Ki Ageng sedo, batin Bima didalam hatinya dengan menyeringai.


*


*


Sedangkam di desa Rawa belatung nampak Rania yang masih termenung di teras rumahnya, gadis itu sangat gelisah memikirkan teman-teman hantunya yang pergi entah kemana.


Wuuush...


Terasa angin dingin menerpa wajah Rania yang sedang bermuram durja, Rania nampak tertunduk dengan meneteskan air matanya.


Biasanya jika ada angin dingin yang menerpa wajahku itu pertanda Petter ada di dekatku, tapi sekarang dia tidak disini lagi, gumam Rania pada dirinya sendiri dengan mengerucutkan bibirnya.


Setelah itu Rania menundukan wajahnya dengan berlinang air mata, terasa di telinga nya jika ada angin dingin yang berhembus ditelinga sebelah kirinya.


Kemudian Rania berusaha memberanikan dirinya dan mendongakan kepalanya ke atas mencari tau siapa yang meniupkan udara dingin di telinga nya.


"Petter, kau kemana saja bersama mama dan papamu, aku takut kau meninggalkanku tanpa berpamitan hu hu hu". Ucap Rania berderai air mata.


"Maafkan aku Rania, tadinya aku ingin memberitau mu tapi mama dan papa melarangku". Sahut Petter yang sedang berdiri mengambang disamping Rania.


"Memangnya kalian darimana tanpa berpamitan padaku". Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Petter menceritakan pada Rania jika dia bersama kedua orang tuanya pergi ke rumah Lala untuk mencari tau ada misteri apa dibalik musibah yang di alami Lala, Petter dan kedua orang tua nya curiga pada seorang laki-laki muda yang selalu berada didekat Lala.


"Aku mencium aroma negatif dari tubuh laki-laki itu Ran, dan saat ini kedua orang tuaku sedang mengawasi laki-laki itu di rumah Lala, tapi mama dan papa melarangku membawamu kesana, seperti yang aku bilang kau bisa celaka jika berada di rumah temanmu itu, ada sesosok buto yang selalu menjaga Lala, sepertinya ada yang sengaja menyerahkan temanmu itu pada mbah buto sebagai tumbal". Tukas Petter mengkerutkan keningnya.


"Jika memang benar begitu, aku harus pergi ke rumah Lala dan memberi tau semua keluarganya". Seru Rania bangkit dari duduknya.


"Kau tenang saja Ran, disana ada mbah Karto yang akan menolong Lala temanmu itu, tapi mama dan papa sangat curiga dengan laki-laki muda yang selalu ada didekat Lala, sepertinya dia punya niat buruk karena tingkah lakunya mencurigakan, dan manusia itu tinggal di pinggir hutan, bukankah manusia muda sepertinya lebih suka tinggal di tempat yang ramai tapi dia berbeda Rania, kebiasaan nya seperti orang tua yang suka bertapa dan melakukan ritual". Jelas Petter dengan wajah yang serius.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, tidak semua manusia muda suka di tempat ramai, kalau mengenai buto itu baru aku percaya padamu". Tukas Rania seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Evana dan Jansen yang masih berada di sekitar rumah mbah Sumi nampak mengawasi Bima dari kejauhan, supaya Bima tidak menyadari kehadiran nya, terlihat Bima sedang menata sesajen dengan adat ritual jawa dan Lala duduk di tengah-tengahnya.


INGSUN AMETIK AJIKU KI AGENG SEDO,INGSUN DATOLLOH, LAN SEBALANE KABEH,SIRO PODO INGSUN KONGKON AWAKMU MORO TEKO MRENE.


Ternyata Bima sedang membaca mantra untuk memanggil buto ireng sesembahan nya, malam itu Kasmi sedang sibuk merawat simboknya yang terbaring tidak berdaya di kamarnya sedang bapaknya yang menunggu Lala di depan kamarnya nampak tidur terlelap setelah Bima mencampurkan ramuan obat tidur di teh hangat yang tadi diminumnya.


Nampak asap mengepul membumbung tinggi di dalam kamar Lala, seketika kepulan asap itu berubah menjadi wujud buto ireng yang menyeramkan.


"Ki Ageng bukankah kau harus merubah wujudmu menjadi laki-laki tampan yang ada di pikiran Lala saat ini, karena dulu kau telah menyetubuhinya menggunakan wujud laki-laki itu, dengan begitu dia akan menerima mu sebagai suaminya". Tukas Bima dengan menundukan kepalanya.


Lalu buto ireng itu menjelaskan jika dia akan berubah menjadi laki-laki tampan setelah jam dua malam dimana bulan purnama sudah tidak terlalu bersinar, karena di setiap bulan purnama semua makhluk sepertinya tidak dapat menyamar menjadi siapa pun.


*


*


Di hari terakhir berpuasa Author mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin ya akak pembaca semuanya, mohon maafkan Author jika ada salah apapun didalam penulisan novel ini, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Amin YRA 😇🙏


...Bersambung....