DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Azab dan karma buruk!!!


Setelah pak Sugeng menerima syarat yang diberikan penunggu hutan angker, nampak asap mengepul didalam ruangan, makhluk gaib itu lenyap begitu saja.


*


*


Sementara di desa Cimacan nampak mbah Sapto sedang bersemedi didalam gua ngerogo sukmo.


Tapi tiba tiba hantu sund.l bo.ong Rara sudah berdiri didepan gua itu, tapi dia tidak dapat memasuki gua gelap yang ada didepan nya.


Kemudian makhluk gaib sesembahan pak Sugeng pun datang membantu Rara memberinya kekuatan untuk dapat memasuki gua itu.


Wuuussh...


Sund.l bo.ong itu memasuki gua gelap yang didalam nya sudah ada mbah Sapto, nampak Rara mencekik leher mbah Sapto dengan tatapan mata yang menyeramkan.


Tapi mbah Sapto bukanlah orang sembarangan yang dengan mudah dapat dikalahkan, lalu mbah Sapto mengeluarkan sesuatu dari kantong baju nya dan melemparnya ke arah sund.l bo.ong yang sedang mencekiknya.


Whuutt...


Taburan garam berhamburan di wajah hantu perempuan itu membuat wujud nya semakin hancur dengan darah yang mengaliri wajah pucat nya.


"Aaaaa". Pekik hantu Rara menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya.


Setelah itu makhluk gaib pujaan pak Sugeng datang melawan mbah Sapto yang sudah mengalahkan sund.l bo.ong yang ada dibelakang nya.


Pertempuran gaib terjadi di antara kedua nya, mbah Sapto mendatangkan berbagai makhluk gaib peliharaan nya untuk melawan makhluk sesembahan pak Sugeng.


Nampak wanita setengah ular datang melilit tubuh tinggi besar itu, meski awalnya makhluk itu tidak dapat bergerak karena lilitan wanita ular yang saat ini mengunci tubuh perkasa nya, akhirnya dia dapat membinasakan nya hanya dengan sekali terkaman.


Tubuh wanita setengah ular itu dilumat habis oleh sesembahan pak Sugeng, sementara mbah Sapto yang terkejut dengan apa yang dia lihat tidak mau kalah begitu saja.


Mulutnya nampak komat kamit membacakan rapalan mantra kali ini mbah Sapto memanggil siluman macan kumbang peliharaan nya.


"Hahaha kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan mudah makhluk rendahan". Seru mbah Sapto dengan berkacak pinggang.


Terlihat kedua makhluk gaib itu bertarung dengan ilmu yang sama tinggi nya membuat dada mbah Sapto kembang kempis karena hawatir jika macan kumbang peliharaan nya akan kalah.


Karena mbah Sapto sudah sangat kelelahan untuk melawan makhlub gaib yang akan membunuhnya itu, dia melarikan diri kedalam hutan angker yang ada di desa nya.


"Wahai penguasa hutan ngerombo keluarlah aku sedang membutuhkan bantuanmu". Cetus mbah Sapto dengan menengadahkan kedua tangan nya ke atas langit.


Lalu angin berhembus kencang membuat tubuh mbah Sapto terlempar kembali ke dekat gua tadi.


Sund.l bo.ong Rara mencabik perut mbah Sapto dengan sekali terkaman saja kemudian dia mengeluarkan organ dalam mbah Sapto mencampakan nya ke sembarang tempat.


Nampak jantung dan usus besar mbah Sapto berserakan di tanah yang masih becek karena hujan, tubuh tua nya terpelanting ke tanah begitu saja.


Setelah puas membalaskan dendam nya hantu Rara pun pergi meninggalkan mbah Sapto yang sedang sekarat seorang diri.


*


*


Keesokan pagi nya di rumah bu Ani jenazah nya akan segera di kuburkan, para pelayat mengantarkan jenazah bu Ani ke pemakaman tapi tiba tiba hujan deras datang di tengah perjalanan.


Byuur...


Semua pelayat terkejut melihat jenazah bu Ani kotor berlumuran lumpur, lalu pak kades meminta semua orang untuk mengangkat jenazah bu Ani dari kubangan lumpur, terlihat Harto begitu sedih melihat kondisi jenazah mbakyu nya itu.


Mereka semua ingin mensucikan kembali jenazah bu Ani tapi pak modin (orang yang mengurusi jenazah) memberitahu jika mereka harus segera menguburkan jenazah itu karena semakin lama kondisi nya akan semakin membusuk.


Setelah sampai di pemakaman liang lahat pun sudah disiapkan terlihat beberapa warga ingin memasukan jenazah kedalam liang lahat, dan tiba tiba saja lubang kuburan itu sudah terisi dengan air yang entah darimana datang nya.


"Astagfirullah air darimana ini". Seru pak Dahlan dengan membulatkan kedua mata nya.


Nampak Harto semakin bersedih dan meminta maaf atas nama mbakyu nya jika dia pernah berbuat salah pada semua warga desa


"Sudah Har, tenangkan dirimu biar mbakyu mu bisa tenang di alam sana". Tukas pak Dahlan merangkul pundak Harto.


Sementara beberapa warga dan juga tukang gali kubur berusaha mengeluarkan air yang ada didalam liang kubur itu, tapi meski sudah di kuras air yang ada didalam lubang kuburan itu tidak berkurang sama sekali membuat semua orang keheranan dengan kejadian itu.


"Waduh pak modin kami menyerah jika harus menguras habis air ini, karena semakin dikuras bukan nya berkurang malah air nya datang kembali". Cetus pak Budi yang sedang berdiri didalam lubang kuburan itu.


Terlihat wajah cemas dari semua orang yang ada disana, lalu pak modin dan pak kades meminta persetujuan Harto untuk menguburkan bu Ani meski dalam genangan air.


Karena akan membutuhkan waktu yang lama jika mereka harus menyiapkan lubang kuburan yang baru, terlihat Harto begitu terpukul dengan semua kejadian janggal yang terjadi di hari pemakaman mbakyu nya itu.


"Baiklah pak saya ikuti saran bapak bapak sekakian, jika memang jenazah mbakyu saya harus segera dikuburkan dengan cara seperti ini saya akan menyetujui nya". Tukas Harto dengan suara bergetar.


"Maafkan kami Har, semua orang sudah melakukan yang terbaik untuk menguburkan jenazah bu Ani tapi ternyata Tuhan berkehendak lain". Ucap pak Kades dengan menundukan kepala nya.


Terdengar beberapa pelayat bergunjing membicarakan almarhum bu Ani yang mengalami berbagai musibah sebelum di kuburkan.


"Jangan jangan almarhum pernah menyengutukan Tuhan di waktu hidup nya sehingga di akhir hidup nya dua mendapatkan azab". Ucap bu Siti menatap bu Ratih yang ada disebekah nya.


"Entahlah bu saya juga tidak terlalu mengenal almarhum, tapi jika dilihat dari berbagai kejadian hari ini mungkin saja dugaanmu itu benar". Seru bu Ratih dengan bergidik mengusap tengkuk nya.


Lalu semua orang mengangkat jenazah bu Ani memasukan nya kedalam lubang kuburan yang terisi air itu, nampak semua orang memandang kejadian yang tidak biasa yang ada didepan mata nya dengan rasa ketakutan.


Setelah proses pemakaman selesai semua pelayat meninggalkan perkuburan itu satu persatu, yang tersisa hanyalah Harto dan keluarga nya yang lain.


Terlihat orang tua bu Ani berdiri lemas menatap nisan anaknya yang dikuburkan dengan cara yang tidak biasa itu.


"Sudah bu yang ikhlas jangan bersedih lagi atas kepergian mbakyu". Ucap Harto memeluk tubuh tua ibu nya itu.


"Tapi nak apa yang mbakyumu lakukan semasa hidupnya, sehingga dia harus mengalami nasib yang buruk di akhir hidup nya". Tukas ibu Harto dengan berderai air mata.


Tanpa menjawab ucapan ibu nya Harto mengusap lembut air mata ibu tersayang nya, dan memapah orang tua itu meninggalkan pemakaman mbakyu nya.


Sedangkan pak Sugeng yang mengintip dibalik pohon menatap bahagia berbagai kejadian yang terjadi di kuburan itu, dia menyeringai penuh kebahagiaan mengetahui jenazah perempuan yang telah membuat puteri nya tiada seperti tidak diterima bumi dengan berbagai azab yang diterima nya di hari pemakaman nya.


*


*


...Bersambung....