DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Arwah Ayu menghantui Dudung.


"Maaf pak, saya sedang terburu-buru". Ucap Dudung pada pak Jarwo.


"Iya tidak apa-apa pak". Sahut pak Jarwo seraya melangkahkan kakinya kembali.


Ternyata Dudung dan Yati mendapat telepon dari polisi untuk datang ke rumah sakit hari itu, sesampainya di sebuah ruangan nampal pak polisi meminta Yati untuk menandatangani surat persetujuan untuk melakukan autopsi pada mayat Ayu dan akan dilakukan pembongkaran makam.


"Kami menemukan hal janggal dalam kematian anak ibu, karena ditemukan sidik jari orang lain selain sidik jari tersangka yang saat ini mendekam dalam tahanan, jadi kemungkinan ada orang lain yang mungkin terlibat dalam kasus pembunuhan ini". Tukas pak Ponco polisi yang bisa melihat arwah Ayu.


"Jadi ada orang lain yang masih bebas berkeliaran setelah mengambil nyawa anakku pak". Seru Yati dengan berderai air mata.


"Maka dari itu kami pihak kepolisian meminta keterangan dari dokter, supaya ibu dapat mengetahui kebenaran nya". Jelas pak Ponco.


Nampak wajah Dudung berubah panik dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya, dan dia membisikan sesuatu di telinga Yati.


Ternyata Dudung mengatakan pada Yati jika dia ingin bicara empat mata dengan istrinya itu.


"Sebentar pak saya ingin berbicara dengan suami saya dulu". Tukas Yati seraya berjalan meninggalkan ruangan itu.


Lalu Dudung mengajak Yati berbicara agak jauh dari ruangan tadi, nampak arwah Ayu bersama Petter dan Jansen melesat mengikuti mereka, dan terdengar Dudung menghasut Yati untuk tidak menandatangani surat persetujuan autopsi itu.


"Sudahlah buk kau ikhlaskan saja jika Ayu telah tiada dan biarkan dia tenang di tempat peristirahatan terakhirnya, kenapa kita harus membongkar makamnya, yang terpenting pelaku pembunuhan Ayu sudah mendekam di dalam penjara". Tukas Dudung menghasut Yati.


Nampak Yati mengkerutkan keningnya, dia terbawa perasaan nya sebagai seorang ibu, Yati tidak tega untuk menandatangani surat pesetujuan autopsi itu, lalu Yati berjalan kembali menemui polisi tadi, dan mengatakan jika dia tidak bersedia menandatangani surat itu.


"Maafkan saya pak, saya tidak bersedia jika makam anak saya harus dibongkar, biarkan saja dia tenang di tempat peristirahatan terakhirnya". Ucap Yati berderai air mata.


"Apakah ibu yakin anak ibu tenang disana, karena misteri kematian nya belum terungkap, bisa saja arwah anak ibu sedang gentayangan untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya". Jelas pak Poncon dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Beri saya waktu pak, saya belum siap melakukan pembongkaran makam itu". Sahut Yati terisak seraya berjalan meninggalkan ruangan itu.


Sementara Dudung yang menunggu diluar ruangan terlihat sangat ketakutan, dia berkeringat dingin dengan wajah yang panik.


Semoga Yati mau mendengarkan ucapanku, dan dia menolak menandatangani surat itu, batin Dudung cemas didalam hatinya.


Tidak berselang lama Yati datang mengajak Dudung untuk pulang, dan disepanjang perjalanan keduanya pun hanya terdiam tanpa kata, lalu Dudung membuka pembicaraan dengan menanyakan apa keputusan Yati tentang autopsi itu.


"Aku belum bisa memutuskan nya mas, tadinya aku sempat menolaknya, tapi polisi itu mengatakan sesuatu yang membuatku bimbang dan akhirnya aku meminta waktu untuk memikirkan semuanya". Jelas Yati membuat jantung Dudung berdegup kencang.


Apa yang harus aku lakukan, jika Yati sampai menyetujui tindakan autopsi itu, maka semua akan tau jika akulah pelaku yang sebenarnya, batin Dudung dengan mengkerutkan keningnya.


Sesampainya di rumah Yati bergegas membantu bude Lasmi mempersiapkan suguhan untuk acara tahlilan malam nanti, sedangkan Dudung sedang merenungi nasibnya di dalam kamar.


Wuuush...


Jansen melesat dan menampakan wujudnya dihadapan Dudung, terlihat wajah Dudung berubah pucat dan dengan sigap Dudung berlari keluar dari kamarnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Oalah Dung ngapain to lari-lari di dalam rumah, itu loh bantuin Yati angkat piring di dapur". Seru bude Lasmi yang sedang menggelar karpet.


"Masak to Dung, perasaan aku tidak pernah melihat apapun di rumah ini". Tukas bude Lasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Lalu Ayu pun melesat dan menampakan dirinya dihadapan Dudung yang sedang berdiri disamping bude Lasmi, Ayu membulatkan kedua matanya memandang penuh marah, seketika Dudung sangat ketakutan dan berteriak memohon ampun supaya tidak diganggu lagi.


"Ampun tolong jangan ganggu aku, biarkan aku hidup dengan tenang Yu". Pekik Dudung merundukan tubuhnya ke bawah meja.


Nampak bude Lasmi mengkerutkan keningnya, memandang aneh Dudung yang ketakutan dengan menyebut nama Ayu.


"Loh Dung kau itu kenapa". Seru bude Lasmi dengan menepuk lengan Dudung.


Kemudian Dudung mendongakan kepalanya ke atas memandang bude Lasmi lalu mengatakan jika arwah Ayu menakutinya.


"Astagfirullahaladzim Dung, nyebut to Dung mana mungkin orang yang sudah tiada kembali ke dunia ini, apa jangan-jangan kau punya salah pada Ayu". Tukas bude Lasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Mbakyu ini ngomong apa to kok malah menuduhku yang bukan-bukan, aku melihat arwah Ayu bukan berarti aku ada salah padanya". Seru Dudung menyangkal semuanya.


"Ya sudah cepat bantu Yati". Ujar budr Lasmi seraya berjalan ke dapur.


Dan malam itu acara tahlikan terkahir Ayu, lebih banyak warga yang datang untuk mendoakan Ayu, sementara Ayu sendiri hanya bisa menangis dengan meratapi nasib buruknya.


Ternyata suara tangisan Ayu dapat terdengar oleh pak haji yang sedang ikut membacakan doa disana, lalu pak haji memandang ke segala arah mencari sumber suara itu berasal, dan nampak arwah Ayu sedang berdiri di depan pintu rumahnya, dalam pikiran pak haji menerka-nerka kenapa arwah Ayu masih berada di sekitar rumahnya, tapi pak haji tidak dapat mengatakan apapun.


Setelah hampir satu jam acara tahlilan itu pun selesai, pak haji menghampiri Yati dan mengatakan apa yang dia lihat tadi, pak haji memberi tau Yati jika arwah Ayu masih ada di rumah itu, dan mengatakan jika mungkin Ayu mati penasaran sehingga jiwa nya tidak tenang, mendengar cerita pak haji tentang anaknya itu, nampak Yati terisak karena tidak terima menerima kenyataan.


"Ya Alloh gusti Yu huhuhu, kenapa kau mengalami nasib buruk seperti ini nduk". Pekik Yati berderai air mata.


Kemudian bude Lasmi datang menenangkan Yati, sementara pak haji berpamitan untuk pulang, nampak Dudung terdiam dengan wajah yang ketakutan karena ternyata pak haji dapat melihat arwah Ayu.


Jangan sampai arwah Ayu mengatakan yang sebenarnya pada pak haji itu, karena jika itu sampai terjadi hidupku bisa dalam bahaya, batin Dudung dengan mengkerutkan keningnya.


"Dung Ayo bawa Yati ke kamar, biarkan dia istirahat dulu". Tukas bude Lasmi mengagetkan Dudung.


Kemudian Dudung membawa Yati ke dalam kamarnya, dan memintanya untuk istirahat lebih dulu karena dia harus membantu bude Lasmi membereskan rumah setelah acara tahlilan tadi selesai.


Sementara Yati yang terbaring di atas tempat tidur, nampak memejamkan kedua matanya, lalu Jansen meminta Ayu untuk memasuki alam mimpi ibu nya, dan mengatakan jika ayah tirinya yang telah membuatnya meninggal.


Dan tidak berselang lama Ayu pun masuk ke dalam mimpi Yati, dan mengatakan padanya untuk menanda tangani surat persetujuan autopsi itu, karena dengan begitu polisi dapat mengungkap misteri yang sebenarnya, dan pelaku pembunuhan itu dapat tertangkap secepatnya.


*


*


...Bersambung....