
Dan disaat Elang sudah membuka mulutnya lebar, nampak semua kenangan nya bersama Lala terlintas dipikiran nya.
Aku tidak bisa melakukan ini, dia adalah istriku dan aku sangat mencintainya meski dia sudah menghianatiku, batin Elang seraya memundurkan tubuhnya menjauh dari Lala yang masih tidak sadarkan diri disana.
Kemudian Lala menenangkan dirinya sampai naluri nya sebagai sesosok buto menghilang, Elang berdiri jauh menjaga jarak dari Lala yang terkapar dilantai.
Dan setelah gigi runcingnya menghilang, Elang nampak menghembuskan nafasnya panjang dan berjalan menghampiri Lala lalu membopongnya ke atas tempat tidur, dengan penuh kasih sayang Elang membersihkan luka dan mengobati luka dikening Lala.
Dari luar kamar itu terlihat Sekar sedang menggunakan kesaktian nya untuk melihat apa yang terjadi di kamar Lala, tapi Sekar nampak terkejut setelah mengetahui Elang sedang merawat Lala yang sedang terluka.
Kenapa kangmas Elang masih memperdulikan nya, bukankah tadi dia sangat marah pada Lala, batin Sekar dengan membulatkan kedua matanya.
Sedangkan Lala yang sudah mulai mendapatkan kesadaran nya kembali, nampak meringis menahan sakit di kepalanya.
"Aww... Kepalaku sakit sekali". Ucap Lala seraya memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Apakah kau baik-baik saja La". Tukas Elang yang berjalan mendekati Lala.
Tapi nampak Lala menatap Elang dengan wajah ketakutan, Lala berteriak dengan kencang supaya Elang jangan mendekatinya.
"Baiklah aku tidak akan mendekatimu, lebih baik aku tidak bertemu denganmu dulu, aku belum bisa menahan amarahku jika mengingat semua yang kau lakukan padaku". Cetus Elang seraya memalingkan wajahnya dan meninggalkan Lala dikamar itu.
Lalu Elang berjalan gontai menuju taman di istana nya, nampak Elang meluapkan amarahnya disana dengan menghancurkan segala yang ada didekatnya, Sekar yang mengetahui jika Elang seorang diri dan terlihat masih sangat marah berusaha mengambil kesempatan itu.
Sekar membawa minuman dengan ramuan yang memabukan, dan dia memberikan minuman itu untuk Elang.
"Kangmas, kau tidak perlu meluapkan amarahmu seorang diri disini, kau bisa berbagi duka mu padaku, aku memang tidak begitu suka pada Lala, tapi aku lebih tidak suka jika dia membuatmu menderita seperti ini". Ucap Sekar yang berusaha mengambil hati Elang.
Kemudian Elang nampak menundukan kepalanya, dia terlihat sangat kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih, lalu Sekar memberikan segelas minuman yang sudah dicampurnya dengan ramuan yang memabukan, dan tanpa curiga Elang langsung meneguk habis minuman itu.
Setelah itu Elang mulai kehilangan kesadaran nya, dia seperti orang yang sedang mabuk dan berjalan sempoyongan, Sekar sengaja memanfaatkan situasi itu supaya dia bisa menghabiskan malam bersama Elang.
Lalu Sekar mengajak Elang ke dalam kamarnya, dan dia memanfaatkan kondisi Elang untuk mendapatkan sentuhan dari Elang malam itu.
Kedua mata Elang buram dia memandang Sekar seakan dia adalah Lala.
"Lala istriku, aku sangat mencintaimu tapi kenapa kau menghianatiku". Ucap Elang yang kehilangan kesadaran nya.
Sialan, manusia itu tetap saja mengganggu pikiran kangmas Elang, meskipun dia sedang tidak sadar begini, dia tetap teringat manusia laknat itu, batin Sekar dengan membulatkan kedua matanya.
Kemudian Sekar mengecup lembut bibir Elang dan terus menggoda jiwa laki-laki Elang, sampai akhirnya kejantanan Elang terbangun dan mereka melakukan penyatuan nya.
Malam itu terasa sangat panjang untuk Lala yang berada dikamarnya seorang diri, dia merasa kesepian tanpa Elang didekatnya.
Kemudian dia berjalan keluar dari kamarnya, Lala berjalan tertatih untuk melihat Seno di kamarnya, tapi pendengaran nya terganggu dengan suara-suara aneh yang tidak asing ditelinga nya.
Suara itu, bukankah suara kangmas Elang, batin Lala didalam hati nya.
Kemudian Lala mengikuti dimana suara itu berasal, ternyata suara-suara aneh itu datang dari kamar Sekar, nampak Lala sangat terkejut karena mengetahui suara aneh dan lenguhan Elang berasal dari kamar Sekar, karena Lala sangat penasaran dia berusaha mengintip melalui jendela kamar yang sedikit terbuka.
Denyut jantung Lala berdetak sangat kencang setelah melihat pemandangan yang ada didepan matanya, di atas ranjang sana terlihat Elang sedang melakukan permainan panas nya dengan Sekar.
Aku tidak menyangka kangmas Elang masih berhubungan badan dengan Sekar, bukankah dia sudah berjanji padaku, jika dia hanya akan melakukan nya denganku, batin Lala dengan berderai air mata.
Setelah itu Lala berjalan tergesa-gesa menuju kamar Seno, dia langsung memeluk anaknya yang sedang terlelap, nampak Seno terperanjat dengan kehadiran ibundanya ditengah malam seperti itu.
"Ibu kenapa kau datang ke kamarku larut malam begini". Tukas Senopati dengan memandang ibunya yang berderai air mata.
Nampak Senopati menyeka air mata ibundanya seraya memeluk erat tubuh ibunya yang penuh luka.
"Nak bukankah kau masih memiliki darah manusia dariku, apakah bisa kita kembali saja ke alam manusia dan hidup berdua disana". Ucap Lala dengan sesegukan.
"Tapi ibu di malam bulan purnama jati diriku sebagai buto akan terlihat, dan semua manusia disana akan mengetahui jati diriku yang sebenarnya, memang ada apa ibunda mendadak ingin kembali kesana?". Tanya Senopati dengan mengkerutkan keningnya.
"Ibunda dan romo mu sudah tidak bisa bersama lagi nak, apakah kau ingin melihat ibumu ini terluka setiap harinya". Jawab Lala dengan pertanyaan yang menohok.
"Tidak ibu, aku tidak suka melihat romo menyakitimu seperti tadi, jika memang ibunda ingin kembali ke alam manusia, aku akan ikut bersama ibunda". Tegas Senopati seraya memeluk erat ibunya.
Terlihat Lala sangat menyayangi anaknya, dia tidak ingin meninggalkan anaknya disana tanpa dirinya, karena Sekar yang licik itu bisa melakukan apa saja pada Seno yang masih kecil itu.
"Mari nak kita pergi sekarang juga, sebelum ada yang mengetahui jika kita meninggalkan istana ini". Cetus Lala yang bangkit berdiri dengan berjalan tertatih.
"Ibunda kesaktianku belum sempurna, sehingga aku tidak sanggup membuat kita pergi berdua dalam waktu yang sama, aku akan mengirim ibu ke alam manusia terlebih dulu, baru setelah itu aku akan menyusul". Jelas Senopati memandang haru wajah ibunya yang penuh luka.
"Tapi nak, ibu tidak mau pergi tanpamu, kita harus bersama apapun yang terjadi". Seru Lala terisak seraya mengecup kening anaknya.
Ternyata di luar kamar itu ada Bagaskara yang mendengar semua rencana Lala dan Seno untuk pergi meninggalkan alamnya, dia menyeringai setelah mengetahui rencana Lala dan anaknya.
Pergilah ke alam manusia, dan disana kau akan menjadi milikku, batin Bagaskara dengan senyum mengerikan.
Dan di dalam kamar Seno, terlihat Lala masih berdebat dengan anak semata wayangnya, Lala bersikeras tidak ingin meninggalkan anaknya.
"Ibunda, ini hanya sementara setelah ibunda berhasil kembali ke alam manusia, aku akan segera menyusul ibu". Ucap Seno meyakinkan ibunya.
Nampak Lala dengan berat hati menyetujui ucapan Seno, lalu Senopati mulai membacakan rapalan mantra untuk membuka gerbang gaib antara alam manusia dan juga alam buto.
"Ibu lekaslah pergi pintu itu akan segera tertutup, aku tidak bisa menahan nya lebih lama lagi, karena kekuatanku akan segera habis". Jelas Seno dengan tubuh yang bergetar.
"Tapi nak bagaimana denganmu". Ucap Lala berderai air mata karena langkahnya sangat berat untuk meninggalkan anaknya disana.
"Maafkan Seno ibu, Seno terpaksa melakukan ini". Tukas Senopati seraya mendorong tubuh ibunya melewati gerbang gaib yang akan segera tertutup kembali.
Wuuuuussh...
Angin kencang dan kilatan cahaya mengiringi kepergian Lala, dan gerbang gaib itu seketika tertutup kembali, sedangkan Senopati yang kehabisan tenaga dan energinya, akhirnya jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri di lantai kamarnya.
*
*
...Bersambung....