
Beberapa hari kemudian, Pardi semakin dihantui rasa bersalah, setiap malam dia tertidur dengan memimpikan Bambang yang mengiba meminta tolong supaya jazadnya disempurnakan, Evana dan Jansen sengaja membantu Bambang untuk masuk ke alam mimpi Pardi setiap malamnya.
"Pardi temanku tolong kuburkan jazadku dengan layak, aku tidak marah padamu asal kau memberitau ibuku yang sebenarnya, dan jazadku segera disempurnakan". Jelas Bambang didalam mimpi Pardi.
"Baiklah Mbang, aku akan segera memberitau semuanya pada ibumu, aku tidak pernah bermaksud jahat padamu, maafkan aku Mbang". Tukas Pardi berderai air mata.
"Aku pasti akan memaafkanmu setelah jazadku dapat dikuburkan dengan layak, kalau tidak aku akan terus menghantuimu setiap waktu". Tegas Bambang seraya keluar dari alam mimpi Pardi.
Setelah itu Pardi terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, Pardi berniat memberitau semuanya pada ibu Bambang, tapi Pardi tidak memiliki nomer ponselnya.
Aku sudah lelah di hantui rasa bersalah, belum lagi arwah Bambang sering mendatangiku langsung atau lewat mimpiku, mungkin lebih baik aku ke kantor polisi untuk melaporkan kasus ini, gumam Pardi pada dirinya sendiri.
Nampak di luar rumah itu ada pak Rahmat yang mendengar gumaman Pardi, laki-laki itu nampat mengkerutkan keningnya dan memikirkan sesuatu.
Gawat si Pardi bia nekat melaporkan kasus Bambang pada polisi, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan nya, batin pak Rahmat didalam hatinya.
Kemudian pak Rahmat masuk ke dalam rumah mess itu, dan berpura-pura tidak mengetahui niat Pardi sebelumnya, pak Rahmat mengajak Pardi berbelanja ke pasar bersama, karena hari itu akan ada pesanan bakso yang banyak, sehingga pak Rahmat membutuhkan bantuan Pardi untuk membawa semua barang belanjaanya.
"Ayo Di bersiaplah ke pasar denganku, jangan sampai kita kehabisan bahan-bahan untuk membuat bakso". Jelas pak Rahmat dengan mengkerutkan keningnya.
Nampak pak Rahmat sedang memikirkan cara untuk menghentikan Pardi, tapi pikiran nya sudah buntu dan terlintas perbuatan jahat untuk mencelakainya.
Apa aku tumbalkan Pardi saat ini juga ya, tapi pocong itu hanya akan mengambil tumbal nyawa disetiap malam jum'at kliwon saja, kalau begitu aku harus membunuh Pardi supaya dia dapat bungkam untuk selamanya, batin pak Rahmat didalam hatinya.
Kemudian Pardi berboncengan sepeda motor bersama pak Rahmat, mereka mengendarai sepeda motor itu menyusuri jalanan desa yang masih sangat sepi di jam tiga pagi, lalu tiba-tiba pak Rahmat membelokan sepeda motornya ke perkebunan sayur yang agak jauh dari desa nya.
"Loh pak kok kita kebun sawi mau apa to, bukan nya di pasar juga ada". Seru Pardi di boncengan belakang.
"Aku akan membeli sayur sawi yang banyak, untuk pesanan hari ini dan untuk stok besok, supaya lebih miring harga nya kita harus membeli di kebun nya langsung". Jelas pak Rahmat dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Nampak Pardi tidak mencurigai juragan nya sama sekali, Pardi tidak pernah menyangka jika juragan nya berniat buruk padanya, bahkan arwah Bambang tidak mengikuti Pardi saat itu, jika terjadi hal yang buruk pada Pardi hanya pak Rahmat saja yang mengetahuinya.
Chiiit...
Terdengar pak Rahmat menginjak rem motornya mendadak, sepeda motor pun diparkirkan dibawah pohon yang besar.
"Kau jalanlah lebih dulu Di, lurus saja ke arah kanan nanti kau akan melihat sebuah gubuk di pinggir sumur, tunggu saja disana sebentar karena aku harus menelepon pemilik kebun itu". Cetus pak Rahmat yang masih di atas sepeda motornya.
Kemudian Pardi melangkahkan kakinya tanpa curiga, dia berjalan dengan santai seraya meregangkan otot yang ada di badan nya, dan di belakang sana pak Rahmat sedang mengambil pisau yang ada di jok motornya, pak Rahmat berniat menikam Pardi menggunakan pisau yang selalu disimpan nya di jok sepeda motornya.
Lalu pak Rahmat bergegas berjalan menyusul Pardi yang ada di depan nya, semakin dekat langkahnya tiba-tiba saja Pardi membalikan tubuhnya, memandang wajah juragan nya yang nampak murka dengan mengkerutkan keningnya.
Ada apa dengan pak Rahmat, kenapa wajahnya terlihat seperti orang yang sedang marah, batin Pardi didalam hatinya.
Jleeeb...
Terdengar Pardi mengerang kesakitan tapi kedua kakinya masih sanggup berdiri di atas tanah, lalu pak Rahmat melangkahkan kakinya kembali mendekati Pardi yang berjalan mundur dengan memegangi perutnya yang sudah berlubang karena tusukan pisau juragan nya itu.
"Am ampuun pak, apa salahku padamu". Ucap Pardi lirih setengah meringis menahan sakit diperutnya.
"Kau pikir aku tidak tau niat mu dibelakangku hah, kau ingin melaporkan semua perbuatan kita ke kantor polisi kan, untung saja tadi aku mendengar semua ucapanmu, jika tidak kau pasti sudah menghancurkan usahaku, yang sudah ku bangun susah payah, sampai aku harus melakukan ritual penglaris dan menumbalkan nyawa Bambang". Tukas pak Rahmat dengan seringai diwajahnya.
"Ap apaa... Jadi pak Rahmat yang sudah menumbalkan nyawa Bambang". Pekik Pardi dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kau pikir kenapa Bambang tiba-tiba tewas disana, memang seharusnya bukan dia yang mati tapi kau". Seru pak Rahmat dengan berkacak pinggang.
Lalu Pardi pun tergeletak ditanah karena dia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya.
Braak...
"Ampun pak jangan bunuh aku, biarkan aku hidup pak, aku berjanji tidak akan melaporkan semuanya pada polisi". Ucap Pardi lirih meringis menahan sakit diperutnya.
"Aku tidak akan percaya padamu Di, lebih baik kau mati saja menyusul temanmu itu, supaya rahasiaku aman bersamamu sampai ajal menjemputmu". Seru pak Rahmat seraya menusuk-nusukan pisau yang ada digenggaman tangan nya ke perut Pardi sampai akhirnya Pardi tewas bersimbah darah.
Nampak pak Rahmat menghembuskan nafasnya panjang, setelah dia berhasil melenyapkan nyawa Pardi.
Akhirnya rahasiaku akan aman selamanya karena kau telah tiada, batin pak Rahmat didalam hatinya.
Serelah itu pak Rahmat menyeret tubuh tak bernyawa Pardi ke belakang kebun sayur itu, dengan bersusah payah pak Rahmat berhasil menyeret mayat Pardi dan mulai menggali tanah untuk mengubur mayat itu.
Disaat pak Rahmat sedang sibuk menggali terdengar suara adzan subuh yang berkumandang, dan warga disekitar kebun itu sudah mulai terbangun untuk melakukan ibadah, dengan terburu-buru pak Rahmat memasukan mayat Pardi ke dalam lubang yang belum terlalu dalam.
Aku tidak boleh mengambil resiko, lebih baik aku masukan saja mayatnya kedalam lubang ini sebelum ada warga yang melihatku, gumam pak Rahmat pada dirinya sendiri.
Setelah selesai menguburkan mayat Pardi ke dalam lubang itu, pak Rahmat pun bergegas pergi meninggalkan perkebunan sayur itu, padahal di dekat sumur sana masih banyak bekas darah Pardi yang berceceran, dan pak Rahmat terlalu panik sehingga dia melupakan untuk membersihkan nya.
Sementara itu ada warga sekitar yang sudah bersiap berangkat ke mushola, dan rumahnya melewati kebun sayur yang ada dibelakang rumahnya, kemudian warga itu berniat mengambil air wudhu terlebih dulu, dia berjalan mendekati sumur tempatnya biasa mengambil air.
Tapi laki-laki itu nampak terkejut ketika melihat bekas darah yang berceceran disana, nampak dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikiran nya sedang sibuk menerka-nerka darah apa yang berceceran disana.
Apa tadi ada orang yang menyembelih ayam disini ya, kenapa darahnya tidak disiram sih, batin laki-laki itu seraya menimba air disumur untuk mengguyur bekas darah yang ada disekitarnya.
*
*
...Bersambung....