
Dengan jantung yang berdegup kencang Rania memberanikan diri untuk melangkahkan kaki nya mendekati semak-semak yang rimbun itu, semakin dekat langkah kaki Rania semakin berat.
Wati berlari kecil mendekati sepupu nya yang sedang mencari tau suara berdesis itu.
Ssstttsss... Ssstss... Sssttsss...
Suara berdesis itu semakin banyak terdengar ditelinga kedua nya.
"Rania aku takut...". Bisik Wati dengan badan yang gemetar.
Dan tiba-tiba keluarlah beberapa ular yang keluar dari dalam semak-semak itu Rania dan Wati berjalan mundur dengan deru nafas yang kencang.
Ternyata itu adalah ular sawah yang keluar dari persembunyian nya, karena malam tadi banyak persawahan warga yang terbakar, dan membuat semua ular ini keluar dari sarang nya untuk mencari tempat yang baru.
"Wati ayo kita beri tau pak Sapri jika disini banyak ular sawah yang bersembunyi kan bahaya jika suatu saat ada warga yang tidak sengaja melewati semak itu dan dipatuk ular sawah". Tukas Rania seraya berlari ke rumah pak Sapri yang menurutnya lokasi nya paling dekat dari semak-semak tadi.
Tok tok tok...
Assalamuallaikum, seru Rania dan Wati.
Waalaikumsallam, sahut seseorang didalam sana.
Ceklek...
Aldo membuka pintu nya, lalu Rania mengatakan maksud tujuan nya datang kesana, setelah itu Aldo bersama bapaknya kembali ke semak-semak yang dimaksud Rania untuk menangkap ular sawah itu dan memindahkan nya ke pinggir hutan supaya tidak mencelakai siapapun.
Sementara itu Rania dan Wati kembali ke rumah nya, mereka beristirahat untuk sesaat karena pagi itu mereka harus berangkat ke sekolah nya.
*
*
Sedangkan keadaan di alam gaib tempat penguasa hutan itu berada nampak banyak pengawal yang sedang berjaga disebuah ruangan dengan jeruji besi emas nya, didalam penjara emas itu masing-masing ada Jansen dan juga mbah Karto yang telah disiksa jiwa nya oleh Sukma melati.
Kondisi mbah Karto sudah sangat lemah jiwa nya tidak mempunyai energi lagi, karena semakin lama jiwa mbah Karto dikurung disana dan lepas dari raga nya, tubuh mbah Karto yang ada di rumah akan semakin lemah dan kehilangan fungsi organ nya yang bisa berakibat fatal pada nyawa nya.
Sedangkan Jansen yang hanya jiwa tanpa raga bisa musnah disana tanpa bisa bertemu lagi dengan anak dan istri nya, kedua nya hanya bisa terdiam dengan harapan akan ada yang datang untuk menyelamatkan nya.
Dan di tempat lain terlihat Edi yang dijadikan budak oleh makhluk gaib disana, dia dipekerjakan paksa untuk membantu manusia yang memuja dan mempersembahkan sesajen di hutan angker itu.
Tubuh Edi sudah penuh luka dengan mengeluarkan aroma busuk dari luka-luka yang ada ditubuh nya, dia sudah kehilangan harapan untuk dapat hidup karena bagi nya lebih baik mati saja daripada terus diperbudak oleh makhluk gaib disana, tapi mereka tidak membiarkan Edi dapat mati begitu saja, karena setelah menyiksa satu-satu nya manusia bernyawa itu sesosok makhluk gaib akan datang untuk menyembuhkan luka-luka nya supaya mereka dapat memperbudak dan menyiksa Edi lagi.
Terlihat Sukma melati sedang melakukan ritual untuk mempercantik dirinya kembali, Romo nya sengaja memilih tabib terbaik yang ada di pendopo nya untuk mengobati luka diseluruh tubuh dan wajah anak perempuan nya itu.
"Maafkan hamba Tuan puteri luka melepuh di wajahmu ini susah untuk dihilangkan, hamba hanya bisa menghilangkan luka dibagian tubuh yang lain nya karena luka bakar di wajahmu itu sangat besar, hamba membutuhkan ramuan untuk mengobati luka itu tapi hamba tidak mempunyai bahan nya". Tukas tabib pendopo dengan menundukan kepala nya.
"Ampun Tuan puteri bahan yang hamba butuhkan memang tidak bisa kita temukan disini". Jelas tabib itu dengan menyatukan kedua tangan didepan dada nya.
"Lantas apa yang kau butuhkan tapi tidak ada disini tabib?". Tanya Sukma melati seraya bangkit dari duduknya.
"Hamba membutuhkan ari-ari bayi yang baru lahir Tuan puteri, dan setelah hamba mendapatkan bahan itu hamba bisa membuat wajah Tuan puteri bahkan lebih cantik dari sebelumnya, kulit Tuan puteri akan sehalus dan semulus bayi manusia yang baru lahir". Ucap tabib pendopo dengan menyeringai didepan Tuan puteri nya.
"Ya sudah cepatlah cari ari-ari bayi yang baru lahir dan buatlah ramuan untuk wajahku ini". Perintah Sukma melati dengan membulatkan kedua mata nya.
Setelah mendapat perintah dari anak penguasa nya, tabib itu pergi ke beberapa desa yang ada didekat hutan angker, dan dengan ilmu tinggi yang dia punya tabib itu merubah wujudnya menjadi seorang laki-laki tua.
Dia berjalan tertatih dengan nafas tersengal-sengal memasuki sebuah desa yang berada di dekat desa Rawa belatung, tabib pendopo yang sudah merubah wujudnya menjadi laki-laki tua itu sengaja memancing perhatian warga yang sedang berada di sawah dan juga kebun nya.
Bruuk...
Dia terjatuh setelah tongkat kayu yang dia gunakan untuk menopang tubuh tua nya patah, dan beberapa orang yang sedang beraktifitas di sawah pun datang untuk menolong nya.
"Ya Allah gusti mbah, sampean mboten nopo-nopo to (Ya Allah mbah, anda tidak kenapa-kenapa kan)". Seru seorang ibu-ibu yang menghampiri laki-laki tua itu.
"Ora opo-opo nduk tongkate simbah tugel iki, sikile simbah ora kuat mlaku maneh (tidak apa-apa nak tongkatnya simbah patah ini, kaki simbah tidak kuat berjalan lagi)". Sahut tabib yang sedang menyamar itu.
"Yo pripun mbah kulo mboten saget nulungi, anak lan bojoku nembe mawon teng rumah sakit ajeng mbeto wangsul mantune kulo seng nembe lahiran wau ndalu (ya bagaimana mbah saya tidak bisa menolong, anak dan suamiku baru saja ke rumah sakit untuk membawa pulang menantuku yang baru saja melahirkan tadi malam)". Tukas ibu itu dengan mengusap peluh nya.
Wah ini suatu kebetulan aku dengan mudah menemukan jalan untuk mendapatkan ari-ari bayi yang baru lahir, batin tabib itu didalam hati nya.
"Tulungi simbah yo nduk, awake simbah wes kesel ora biso mlaku adoh maneh, opo simbah intok nunut leren sampek putune simbah teko metok nang deso iki (tolong simbah ya nak, badan nya simbah sudah capek tidak bisa berjalan jauh lagi, apa simbah boleh menumpang istirahat sampai cucu nya simbah datang menjemput ke desa ini)". Pinta laki-laki tua itu dengan wajah kelelahan.
Karena ibu itu tidak tega melihat kondisi laki-laki tua itu, dia membawanya kembali ke rumah nya dengan dibantu dua orang, simbah itu berjalan digandeng dengan berjalan tertatih.
Ditengah-tengah perjalanan simbah itu menjelaskan pada semua orang yang telah membantunya jika dia tersesat disana dan lupa dimana cucu nya meletakan mobilnya, karena dia bersama cucu nya baru pulang dari rumah kerabat nya dan simbah itu terpisah dari cucu nya karena dia berjalan menjauh dari cucu nya yang sedang mengganti ban serep mobilnya.
"Nggihpun simbah nenggo teng grio ne kulo mawon, mangke nek menawi putune goleki sampean kan mboten angel (ya sudah simbah menunggu di rumah ku saja, nanti mungkin cucu nya mencari anda kan tidak susah)". Seru ibu itu seraya mempersilahkan simbah tua itu duduk di kursi ruang tamu nya.
Lalu ibu itu pergi ke dapur untuk membawakan simbah tua itu minum dan sedikit makanan, sedangkan di ruang tamu nya simbah tua itu berubah wujud sesaat menjadi sesosok siluman kuda dengan wujud setengah manusia dia menyeringai dengan wajah yang menyeramkan.
Tanpa dia sadari ibu itu sudah kembali ke ruang tamu dan berjalan membuka tirai yang membatasi dapur dan ruang tamu nya, tapi tiba-tiba...
*
*
...Eits nungguin ya udahan dulu ya Author nya mau istirahat dulu hehe terimakasih sudah selalu memberiku semangat untuk melanjutkan ceritaku, salam sayang untuk kalian semua....
...Bersambung....