
Setelah berpamitan pada istrinya pak Jarwo bergegas pergi ke desa Rawa belatung, karena dia harus menemui pangeran Asopati yang tinggal dibalik gunung sana, tapi sebelumnya pak Jarwo menyempatkan diri untuk singgah di rumah mbah Karto.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum". Seru pak Jarwo seraya mengetuk pintu rumah mbah Karto.
"Waalaikumsalam". Sahut mbah Darmi seraya membuka pintu rumahnya.
Cekleek...
"Loh kau datang lagi Le, ayo masuklah". Tukas mbah Darmi seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Tidak lama setelah itu mbah Karto keluar dari dalam kamar khususnya dan berkata pada pak Jarwo jika Ari masih menginginkan kebersamaan dengan istri gaibnya.
"Aku semalam melihat melalui mata batinku Le, ternyata disaat almarhum Wongso menyamar menjadi Bima, Ari sudah datang menemuinya untuk meminta bantuan supaya istri gaibnya bisa kembali bersamanya". Ucap mbah Karto dengan wajah yang cemas.
"Astagfirullahaladzim, si Ari itu masih belum kapok juga ya mbah, jika dia nekat kembali pada istri gaibnya maka pangeran Asopati bisa mencelakainya". Ujar pak Jarwo dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Entahlah Le, apa yang harus kita lakukan pada si Ari itu, apakah mungkin jiwanya terguncang kembali". Ucap mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.
"Aku juga tidak tau mbah, mungkin lebih baik Anto membawa kangmas nya itu periksa ke dokter lagi". Celetuk pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu mbah Karto pun menanyakan maksud kedatangan nya kesana, karena baru kemarin dia pergi tapi hanya berselang satu hari pak Jarwo datang kembali.
Dan pak jarwo pun mengatakan pada mbah Karto, jika dia ingin menemui pangeran Asopati di belakang bukit sana.
"Evana dan Jansen memberitauku sesuatu hal yang sangat misterius mbah, kemarin sewaktu kita membawa jenazah mbah Wongso ke desa ini, Rania sempat melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan Lala, kemudian Rania mengatakan itu padaku tapi aku tidak yakin jika itu memang Lala, dan Rania yang merasa yakin dengan penglihatan nya itu meminta tolong pada teman-teman hantu nya untuk mencari perempuan yang sangat mirip dengan Lala itu, tapi setelah kedua hantu itu mencari ke seluruh penjuru hutan mereka tidak menemukan keberadaan perempuan yang dimaksud Rania, mereka hanya mencium aroma manusia di satu titik tempat, yang menandakan ada sebuah kehidupan manusia didekat sana, tapi kedua hantu itu tidak melihat apapun disana, dan aku pun memeriksa melalui mata batinku tapi aku juga tidak menemukan tanda-tanda adanya kehadiran manusia di tengah hutan itu, seperti ada kekuatan gaib yang besar sedang menutupi tempat itu, maka dari itu mbah aku memutuskan untuk memulai ritual itu seorang diri, supaya Lala cepat ditemukan kembali mbah". Jelas pak Jarwo dengan wajah sendu nya.
"Baiklah Le jika itu mau mu, apakah kau perlu bantuanku?". Tanya mbah Karto memandangi wajah pak Jarwo.
"Aku akan berusaha melakukan ini sendiri mbah, jika hanya untuk bernegosiasi dengan pangeran Asopati semua bisa ku kendalikan sendiri mbah". Jawab pak Jarwo dengan senyum ramahnya.
Setelah itu pak Jarwo berpesan pada mbah Karto untuk membawa Ari secepatnya ke dokter ahli jiwa, untuk memastikan tindakan apa yang harus dilakukan pada Ari setelah ini.
"Jujur mbah aku takut jika pangeran Asopati murka dan mencelakai Ari, karena jika itu sampai terjadi aku tidak tau akan melakukan apa, di satu sisi aku membutuhkan bantuan pangeran Asopati, dan disisi lain aku juga tidak ingin Ari celaka, tapi apa yang bisa aku lakukan". Jelas pak Jarwo dengan mengusap rambutnya kasar.
"Setelah ini aku akan meminta Anto untuk membawa Ari pergi menemui dokter ahli jiwa, supaya kita semua tau apa yang harus kita lakukan pada Ari setelah ini". Cetus mbah Karto dengan mengkerutkan kedua alis matanya.
Kemudian pak Jarwo berpamitan pada mbah Karto dan juga mbah Darmi, dia berjalan kaki dari rumah mbah Karto, dan ditengah perjalanan pak Jarwo bertemu dengan pak Dahlan yang akan pergi mencari rumput untuk sapi ternaknya.
Mereka berdua berbira satu sama lain seraya berjalan ke belakang bukit yang ada di desa.
"Pak Dahlan setelah ini bisakah kau sampaikan pada Anto, untuk pergi ke rumah mbah Karto secepatnya, karena ada hal yang penting yang harus segera mbah Karto sampaikan". Tukas pak Jarwo dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Memangnya ada apa to pak, kok sepertinya penting sekali". Seru pak Dahlan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah pak Dahlan sampai disini perjalanan kita, saya mau langsung naik ke atas puncak sana". Tukas pak Jarwo berjalan meninggalkan pak Dahlan yang ingin mencari rumput di bukit itu.
*
*
Sedangkam di alam gaib sana nampak pangeran Asopati murka karena romo Sukma melati berniat mencelakai bayi yang ada didalam kandungan Sukma.
Apa aku harus melawan orang tua Sukma, aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku, batin pangeran Asopati dengan membulatkan kedua matanya.
Kemudian pangeran Asopati memutuskan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan raja penguasa hutan wingit itu, pangeran Asopati ingin melakukan negosiasi supaya Sukma melati dapat segera menjadi pendampingnya, nampak pangeran Asopati mengutus seorang pengawa dengan membawa pesan perdamaian.
"Sampaikan pada raja penguasa hutan wingit, jika aku akan memberikan apapun padanya, ingat katakan padanya memberikan bukan berarti melakukan apapun yang dia inginkan". Titah pangeran Asopati pada pengawalnya.
Setelah itu utusan itu pergi dengan membawa pesan dari pangeran Asopati, dan datang pak Jarwo yang menghadap pada pangeran tampan yang nampak bermuram durja itu.
"Assalamualaikum pangeran". Ucap pak Jarwo seraya menundukam kepala dan menyatukan kedua tangan nya.
"Waalaikumsalam, kenapa kau baru datang sekarang, apakah manusia sesat itu masih berniat mendekati Sukma kembali?". Tanya pangeran Asopati menatap tajam pada pak Jarwo.
"Aku sudah membuat rencana untuk menghentikan nya mendekati Sukma kembali pangeran, jadi jika berkenan tolong jangan sakiti manusia itu, aku dan mbah Karto akan benar-benar menjaganya supaya dia tidak menemui Sukma kembali". Tukas pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Sementara di hutan wingit sana, nampak utusan pangeran Asopati sudah datang dan segera menyampaikan pesan yang dibawanya.
Jadi jin muslim itu akan memberikan apapun padaku, jika aku membiarkan nya bersatu dengan Sukma, batin penguasa hutan wingit dengan seringai diwajahnya.
"Sampaikan pada pangeranmu, jika aku bersedia bertemu dengan nya, katakan pada jin muslim itu untuk menemuiku di perbatasan hutan ini". Seru penguasa hutan wingit itu.
Dan di dekat singgasana raja itu, nampak Sukma melati memandangi wajah romo nya yang nampak senang, dan Sukma pun melesat mendekati romonya.
"Romo rencana apalagi yang akan romo lakukan, aku memang mengandung anak pangeran Asopati, tapi aku lebih mencintai suami manusia ku itu romo". Seru Sukma melati menatap tajam ke arah romo nya.
"Kau jangan bodoh Sukma, kau harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, jika kau berhasil menjadi pendamping jin muslim itu, anakmu akan menjadi penerusnya dengan begitu kekuasaan kita akan semakin meluas, dan kita bisa menguasai seluruh isi istana itu, kau harus melupakan suami manusiamu itu". Pekik penguasa alam gaib itu dengan wajah yang murka.
Nampak Sukma melati menundukan wajahnya sendu, dia tidak bisa membantah romonya, karena dia tidak ingin bayi yang ada didalam kandungan nya celaka.
*
*
...Siapa nih yang kemarin nanya kelanjutan cerita tentang Sukma dan Ari, ditunggu kelanjutan nya ya....
...Bersambung....