
...Di bab ini terdapat bacaan hareudang yang belum cukup umur diharapkan membaca sampai batas tanda * yang ada di bagian tengah bab, bijaklah dalam membaca 😉...
...🔥...
...🔥...
...🔥...
Beberapa hari setelah pesta pernikahan nya, Elang bersama anak-anaknya akan melakukan ritual untuk memberikan keturunan nya kekuatan yang selama ini dimilikinya, Lala yang masih sibuk di dalam kamarnya tidak mengetahui jika Elang sedang tidak berada di istana itu.
Kemudian Sekar menghampiri Lala dan pura-pura tidak enak badan, Sekar mengatakan pada Lala jika dia sedang sakit seperti itu dia harus minum ramuan obat yang bahan nya hanya ada di atas bukit.
"Lala badanku ini sangat lemah, aku tidak sanggup pergi ke atas bukit untuk mengambil akar tumbuhan yang biasa aku gunakan sebagai ramuan itu, bisakah kau mengambilnya untukku, salah satu pengawal akan menemanimu". Tukas Sekar seraya berjalan sempoyongan.
Nampak Lala sangat cemas melihat Sekar yang tidak sanggup berjalan sendiri, kemudian Lala memapah Sekar kembali ke kamarnya, dan mengatakan jika dia akan mengambilkan akar tumbuhan itu untuk Sekar.
"Mbakyu aku akan pergi sekarang juga, jika kangmas Elang mencariku tolong sampaikan padanya, jika aku akan segera kembali setelah mendapat akar tumbuhan untuk ramuan obatmu itu". Ucap Lala seraya berjalan meninggalkan Sekar terbaring di kamarnya.
Pergilah manusia laknat, setelah ini jangan harap kau bisa bersama kangmas Elang lagi, batin Sekar dengan seringai diwajahnya.
Setelah itu Lala berpamitan pada Mekar, sebagai istri paling muda Lala sangat menghargai semua istri Elang.
"Mbakyu Mekar, aku harus pergi untuk mencari akar tumbuhan di atas bukit sana, saat ini mbakyu Sekar sedang sakit dan membutuhkan ramuan itu". Terang Lala pada Mekar yang mengaitkan kedua alis matanya.
Kemudian Lala pun pergi dari istana itu, bersama seorang pengawal yang sudah diperintahkan Sekar untuk menyesatkan nya di tengah hutan.
Nampak Lala tidak menaruh curiga sama sekali pada pengawal itu, sampai akhirnya Lala yang hanya manusia biasa merasa lelah dan haus, kemudian Lala memerintahkan pengawal itu untuk mencarikan air untuknya.
"Pengawal tolong pergilah carikan aku air untuk minum, aku akan menunggumu disini dan lekaslah kembali". Perintah Lala pada pengawalnya.
Lalu pengawal itu pergi meninggalkan Lala seorang diri, namun setelah lama menunggu pengawal yang diperintahkan nya tidak kunjung kembali.
Kemana pengawal itu, langit akan segera gelap tapi aku masih disini, apa yang harus aku lakukan, jika aku nekat ke atas bukit itu belum tentu aku akan menemukan akar tumbuhan itu, tapi jika aku akan kembali pulang, aku tidak tau kemana harus melangkahkan kaki ku ini, gumam Lala pada dirinya sendiri.
Setelah itu Lala berjalan bolak-balik disekitar sana, berharap pengawalnya akan segera kembali, tapi langit di atas sana sudah mulai senja, keadaam di sekitarnya pun mulai gelap, nampak Lala panik berjalan menyusuri tempat itu dengan harapan bertemu seseorang yang dapat menolongnya.
Braaak...
Tubuh Lala terpelanting ke tanah karena dia menabrak sesuatu, kemudian Lala bangkit dan berdiri berusaha melihat apa yang tadi menabraknya.
Terlihat didepan matanya ada seorang laki-laki tampan sedang berdiri memandangnya, dengan menyunggingkan senyumnya yang teramat menawan, Lala terlihat terpana melihat ketampanan laki-laki itu, matanya tajam tapi juga sendu merayu, hidungnya mancung dipadu dengan alis tebal dan kulitnya putih bersih mengemas wajahnya yang berkarakter dan berwibawa.
Sesaat Lala terpana, laki-laki tampan itu meraih tangan Lala dan mengecupnya lembut, kemudian laki-laki itu berbisik ditelinga Lala membuatnya darahnya berdesir dan nalarnya hampir hilang.
Bulu-bulu halus disekujur tubuhnya meremang karena hembusan udara dari bibir menggoda laki-laki itu.
Ada apa denganku, kenapa aku bertingkah seperti ini dengan laki-laki yang baru pertama kali ku temui, batin Lala didalam hatinya.
"Maaf aku tidak sengaja menabrakmu, bisakah kau menolongku kembali ke sebuah istana yang tidak jauh dari sini". Ucap Lala dengan menundukan kepalanya.
Tanpa berpikir panjang Lala pun menyetujuj ajakan laki-laki itu tanpa berkenalan terlebih dulu, dan sesampainya di rumah kecil yang terbuat dari kayu itu, nampak dia menyuguhkan segelas air gula aren untuk Lala.
"Minumlah hanya itu yang aku punya, setelah itu kau boleh istirahat di dalam kamar itu, karena aku harus pergi mencari istana yang kau maksud". Tegasnya.
Kemudian Lala menghabiskan minuman itu, karena dia terlalu haus setelah berjalan hampir setengah hari, lalu Lala berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang sudah disiapkan untuknya.
Terlihat Lala langsung merebahkan tubuh lelahnya, dan tidak berselang lama Lala pun memejamkan kedua matanya.
...*...
...*...
Kreeeaak...
Samar-samar Lala mendengar suara pintu terbuka, tapi dia merasakan kantuk yang luar biasa sehingga pandangan matanya pun tidak terlalu jelas, tiba-tiba Lala merasakan ada seseorang yang meraih tangan nya dan mengecupnya dengan lembut, jemarinya membuka satu persatu pakaian nya, tapi Lala tidak bisa mengelak karena rasa kantuk yangbluar biasa sehinga dia tidak bisa berbuat apapun.
Salivanya terus menggelitik leher Lala, membuat Lala menggeliat seperti cacing kepanasan, lalu Lala mulai merasakan ada sesuatu yang menjamah kedua bagian milik atasnya, tubuhnya harum semerbak menggelitik indera pernafasan, terasa detak jantung Lala berpacu dengan gairah yang sudah tidak bisa dia tahan.
Deru nafas Lala mulai tersengal-sengal, suara-suara aneh pun mulai terdengar, seseorang yang tidak bisa Lala lihat semakin liar di atas sana, ******* bibir mungil dan semua bagian tubuhnya, dan tiba-tiba Lala merasakan sesuatu yang memaksa masuk ke bagian milik pribadinya, kejantanan nya berhasil melesak dan bermain sesuai irama.
Suara-suara aneh keduanya mulai terdengar jelas di telinga Lala, tapi Lala hanya bisa pasrah tanpa perlawanan, Lala hanya bisa menikmati permainan itu tanpa tau siapa yang sedang melakukan penyatuan bersamanya, sampai akhirnya Lala terkulai lemas dan tertidur pulas.
Keesokan hari nya, Elang yang baru saja kembali ke istana nampak gelisah, karena dia tidak bisa menemui Lala dimanapun, Senopati anak mereka juga kebingungan mencari ibu nya.
Dan Sekar yang sudah mengetahui jika Elang akan mencari Lala, nampak membuat sandiwara dihadapan Elang.
"Kangmas dari kemarin Lala pergi ke atas bukit untuk mencari tanaman obat, tapi dia belum kembali juga, aku sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk mencarinya tapi mereka belum memberikan ku kabar". Ucap Sekar dengan wajah panik.
Lalu Mekar yang mendengar keributan di pagi hari juga meghampiri mereka, Mekar juga mengatakan hal yang sama pada Elang.
"Kenapa kalian membiarkan Lala pergi". Bentak Elang dengan murka.
"Aku sudah melarangnya kangmas, tapi Lala manusia yang baik hati itu tidak mau mendengarkanku, mungkin dia terlalu menghawatirkanku karena kemarin aku tiba-tiba jatuh sakit". Jelas Sekar dengan wajah sendu.
Jangan-jangan semua ini karena ukar ibu Sekar, sejak kapan dia perduli dengan ibuku, batin Seno dengan membulatkan kedua matanya.
Kemudian Elang memutuskan untuk keluar dari istana nya, untuk mencari tau dimana keberadaan istri muda nya itu, tapi Sekar seakan menghentikan Elang, Sekar pura-pura jatuh pingsan sehingga Elang terpaksa mengurungkan niatnya dan membopong Sekar kembali ke kamarnya.
Bagaimana ini, jika aku terus berada di istana ini, aku hawatir jika Lala kenapa-kenapa, tapi jika aku meninggalkan Sekar begitu saja, dia pasti akan mengadu pada romonya, batin Elang kesal dengan menghembuskan nafasnya panjang.
*
*
...Bersambung....