DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Bantuan dari Pangeran Asopati.


Pak Sapri berjalan mendekati tubuh tua mbah Karto yang tengah terbaring di atas tempat tidur nya.


"Astagfirullah tubuh mbah Karto sangat dingin, mbah Darmi tolong bawakan handuk dan air hangat kita harus memastikan tubuh mbah Karto selalu hangat seperti pesan pak Jarwo". Jelas pak Sapri dengan wajah cemas nya.


Setelah mbah Darmi pergi mengambilkan air hangat terdengar beberapa warga melai berbicara jika mereka harus membacakan ayat-ayat suci untuk mbah Karto, lalu pak Sapri pun setuju dengan semua warga dan setelab itu mereka akan membacakan ayat suci untuk mbah Karto supaya jiwa nya mendapat kekuatan dari doa-doa yang warga bacakan untuk dirinya.


Sementara di puncak gunung sana nampak pak haji Faruk dan pak Jarwo telah sampai di depan goa ngerogo sukmo, mereka bersiap dengan melakukan doa bersama supaya semua rencana mereka lancar.


Kemudian pak haji Faruk memimpin dengan membacakan ayat suci baru setelah itu pak Jarwo dengan ilmu kebatinanan nya berusaha melihat keberadaan jiwa Ari yang tengah terikat tali suci.


Kondisi di depan goa itu sangat gelap karena sinar rembulan seakan tidak dapat menembus kelebatan pohon-pohon disekitar sana, jalan setapak yang licin karena hampir tidak pernah di lewati manusia membuat langkah pak haji Faruk dan pak Jarwo sedikit melambat karena jika mereka salah melangkah, nyawa mereka dalam bahaya karena di sisi kiri dan kanan mereka adalah jurang yang dalam.


Setelah sampai di depan bibir goa itu pak Jarwo mulai melakukan ritualnya, dengan duduk menyilakan kedua kaki dan menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya terdengar mukut oak Jarwo membaca rapalan mantra jawa untuk melihat keberadaan jiwa Ari di dalam goa sana.


Sang ireng jeneng muksa pangreksan, sang ening menenng jati rasane, lakune ora katon, pangrasane manusia. "Bismillahir rahmanir rahim. Car mancur cahyaning Allah sungsum balung rasaning Pangeran, getih daging rasaning Pangeran, otot lamat-lamat rasaning Pangeran, kulit wulu rasaning Pangeran, iya ingsun mancuring Allah, jatining manusa, ules putih lungguhku, Allah, nek putih rasaning nyawa, badan Allah, sang kalebut putih iya ingsun nagara sampurna.


Tidak lama kemudian datanglah segerombol kunang-kunang yang menjadi penerang jalan untuk pak jarwo yang akan memasuki goa itu terlebih dulu sementara pak haji Faruk masih melantunkan bacaan ayat-ayat suci di depan pintu goa itu.


Kunang-kunang itu terbang bergerombol seakan menunjukan arah yang benar tentang keberadaan jiwa Ari yang tersembunyi, lalu langkah kaki pak Jarwo terhenti mendadak ketika segerombolan kunang-kunang itu mengerubuti sebuah batu besar dengan lafaz Allah didepan nya.


Jangan-jangan jiwa Ari berada dibalik batu besar itu, aku harus segera membawa pak haji Faruk kesini supaya beliau segera melepaskan jiwa Ari dari sana sebelum tengah malam ini, batin pak Jarwo didalam hati nya.


Setelah berjalan tergesa-gesa pak Jarwo dan pak haji Faruk sudah sampai di depan batu besar yang bertuliskan lafaz Allah, lalu pak haji Faruk membacakan ayat suci yang tidak lama kemudian batu itu terbelah menjadi dua dan ada sesosok jiwa manusia yang tengah terikat sebuah tali dengan cahaya suar keemasan.


Nampak pak haji Faruk berusaha melepaskan tali yang mengikat jiwa Ari dan dibantu dengan pak Jarwo jiwa Ari diletakan disebuah botol kuno berukiran aksara jawa yang mengelilingi badan botol kayu itu dan setelah meletakan jiwa Aro didalam nya pak Jarwo bergegas menutupnya kembali dan mengikat tutup botol kayu itu menggunakan Tasbih yang pak hajj siapkan.


"Alhamdulillah, satu tugas sudah selesai pak, setelah ini aku pasrahkan padamu ya Allah". Ucap pak haji Faruk dengan wajah lega nya.


"Kita harus bergegas turun dari gunung ini pak haji, jika tidak Yai Renggo bisa marah karena kita masih bersama jiwa sesat ini". Tukas pak haji Faruk dengan mengusap peluh di kening nya.


Whuuuss whuuus whuuuss...


Tiba-tiba kabut naik ke atas puncak gunung itu, angin dingin berhembus kencang membuat bulu-bulu halus mereka meremang karena kedinginan dan tidak lama kemudian munculah sesosok laki-laki tampan mengenakan baju khas jawa dengan blangkon di atas kepala nya.


"Kalian mau kemana membawa jiwa sesat manusia terkutuk itu". Seru seorang laki-laki tampan yang bernama Pangeran Asopati.


Belum sempat pak Jarwo bertanya siapa laki-laki itu nampak Yai Renggo datang dan memberikan salam pada laki-laki tampan itu.


"Salam Pangeran Asopati, tolong berikan jalan manusia-manusia ini hamba sudah berjanji akan memberikan mereka jalan sampai tengah malam ini dan jika mereka tidak segera pergi dari gunung ini, hamba sendiri yang akan mengambil dan memusnahkan jiwa sesat itu". Tukas Yai Renggo menundukan kepala nya.


"Kalian berdua adalah manusia yang beriman kenapa kalian berusaha menyelamatkan jiwa manusia sesat yang sudah melakukan perjanjian gaib dengan wanita siluman itu". Seru Pangeran Asopati dengan membulatkan kedua mata nya.


"Kami hanya ingin menukar jiwa sesat ini dengan jiwa-jiwa manusia yang tidak berdosa itu Pangeran, Sukma melati telah menahan beberapa jiwa yang tidak berdosa bahkan salah satu nya manusia ada yang diperbudak untuk melayani para pemuja nya". Tukas pak Jarwo dengan menghembuskan nafas nya panjang.


"Dasar makhluk tidak beradap aku akan membantu kalian membebaskan jiwa-jiwa yang telah ditahan oleh Sukma, kalian pergi saja sampaikan pada Sukma melati jika suami nya ada di tangan ku, dengan begitu kalian bisa leluasa membebaskan jiwa-jiwa yang tidak berdosa itu". Tegas Pangeran Asopati.


Setelah mendapat bantuan dari penunggu yang ada di gunung itu pak haji Faruk dan pak Jarwo berjalan pulang kembali ke desa Rawa belatung.


Dan sesampainya disana keduanya nampak terkejut ketika mendengar kabar jika kondisi fisik mbah Karto sudah sangat menghawatirkan karena detak jantung nya sudah sangat lemah.


Setelah berunding bersama akhirnya pak Jarwo mengambil keputusan untuk kembali ke dimensi gaib yang ada di hutan itu.


"Tapi Le kau baru saja kembali dari perjalanan yang melelahkan, apa kau yakin akan pergi sekarang juga?". Tanya simbah Parti dengan wajah sendu nya.


"Tidak apa-apa mbah lagipula aku sudah membuat rencana untuk mengelabuhi siluman ular itu". Jawab pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Lalu dimana jiwa Ari Le, bukankah kau berhasil membawa nya". Tukas simbah Parti memandang ke segala arah.


"Jiwa Ari sudah ku simpan di tempat yang aman mbah, dan di waktu yang tepat pak haji Faruk akan melepaskan jiwa Ari kembali ke dalam raga nya". Jelas pak Jarwo menenangkan simbah Parti.


Dan setelah mendapat ijin dari simbah Parti, pak Jarwo segera melakukan ritual gaib nya di kamar khusus, tapi kali ini ada yang berbeda dari ritual biasa nya karena pak Jarwo membaca mantra untuk memanggil Pangeran Asopati supaya dapat mengiringi perjalanan gaib nya kali ini.


Dengan memejamkan kedua mata nya nampak mulut pak Jarwo membacakan ajian mantra pemanggil sukma.


Iki sarahae donga lair utawa batin, iki dongane. "Bismillahir rahmanir rahim. Riping cahaya sang udel putih, mulih langgeng jawa sampurna, iya ingsun ajaling Allah, kang luwih sampurna, sadzate sasifate, saadege salungguhu, sagegitake, hu hu hu." "Sang kala ireng sang kala lumagang, sang sarasa karasa sira apasang sira anut marang ingsun, ana saking ingsun pangeranira sang nur zat maya putih, sira metuwa


Lalu tiba-tiba tercium aroma wangi bunga kamboja dan asap kabut mengepul dan keluarlah bayangan putih tinggi besar di balik asap itu.


Loh bayangan siapa itu, kenapa bukan Pangeran Asopati yang datang, lalu siapa yang datang menemuiku, batin pak Jarwo didalam hati nya dengan mengkerutkan kening nya.


*


*


...Bersambung....