
"Terima kasih nak kau sudah datang menolong ibu mu ini." tukas Lala seraya memeluk anak nya.
"Ibunda tidak perlu berterima kasih padaku, sudah menjadi tugasku untuk selalu melindungi ibunda, mulai saat ini dan seterus nya panggilah Seno dengan setulus hati, maka Seno akan datang menemui ibunda kapan pun itu." jelas Senopati pada ibunda nya.
"Kau sudah besar nak apakah mereka semua memperlakukanmu dengan baik?." tanya Lala dengan wajah sendu.
"Tentu saja mereka semua baik padaku, ibunda tidak perlu menghawatirkanku." jawab Senopati dengan menyunggingkan senyum nya.
Apakah benar yang Seno katakan, aku tidak yakin jika mbakyu Sekar bersikap baik padanya, batin Lala didalam hati nya.
Terdengar Rania mengajak Lala segera pulang, tapi sepeda motor nya sudah rusak dan mereka harus membawa nya ke bengkel.
"Untung kau sudah bisa berjalan La, mari kita dorong motor itu sampai ke bengkel terdekat, karena motor itu semakin rusak setelah tertimpa pohon tadi." tukas Rania dengan menghembuskan nafas nya panjang.
Kemudian Senopati yang tidak ingin ibunda nya kesusahan, berusaha membuat sepeda motor itu kembali seperti semula, hanya dengan satu kedipan mata saja, sepeda motor itu bisa berfungsi kembali, nampak ibu dan anak itu harus berpisah sampai disana, karena mereka harus melanjutkan kehidupan nya masing-masing, terlihat Lala memeluk dan mengecup kening anaknya dengan berderai air mata.
"Seno pamit pada ibunda, jaga diri ibunda baik-baik setelah Seno tidak ada disini lagi." ucap Senopati dengan mengecup punggung tangan ibu nya.
Setelah itu Senopati nampak melesat meninggalkan Lala yang masih terisak, karena anaknya sudah kembali ke alam nya.
"Sudah La jangan sedih lagi, kalian masih bisa bertemu lagi kan, mari kita kembali ke rumah sebelum senja tiba." tukas Rania dengan mengendarai sepeda motor nya.
Sementara arwah Pardi yang tadi melesat bersama bayangan merah, sudah berada di rumah mbah Ngatimin, ternyata firasat buruk mbah Ngatimin sudah menyelamatkan jiwa Pardi, dari amarah Senopati yang sudah bersiap untuk melenyapkan jiwa nya.
"Apa yang telah kau lakukan sampai kau berurusan dengan makhluk gaib itu, jika hari ini aku tidak menyelamatkanmu, jiwa mu akan musnah dan lenyap selamanya ditangan makhluk gaib tadi." seru mbah Ngatimin dengan suaea berat nya.
"Aku tidak tau apa-apa mbah, tiba-tiba makhluk itu datang, ketika aku mencelakai dua orang gadis yang mempengaruhi pemilik cafe itu, supaya menemui orang sakti dan merusak rencana ku." jelas arwah Pardi yang sedang terluka jiwa nya.
"Baiklah aku akan mencari tau, siapa makhluk gaib itu sebenarnya." tukas mbah Ngatimin seraya menyalakan dupa yang ada dihadapan nya.
Nampak asap dari dupa itu mengepul tinggi memenuhi seluruh ruangan, terdengar mbah Ngatimin membaca mantra lalu dia melihat ke dalam baskom yang berisi air dengan bunga tujuh rupa, nampak di dalam air itu terlihat bahwa makhluk gaib yang mencelakai arwah Pardi adalah salah satu anak dari gadis yang ada disana.
Jadi makhluk tadi datang untuk membantu ibu nya, dia bukanlah makhluk sembarangan dan aku bisa merasakan itu, batin mbah Ngatimin didalam hati nya.
"Lebih baik kau jangan berurusan dengan gadis-gadis itu, makhluk gaib yang menyerangmu tadi adalah anak dari salah satu gadis yang coba kau celakai." jelas mbah Ngatimin dengan mengkerutkan kening nya.
"Tapi gadis-gadis itu mencoba merusak rencana kita mbah." sahut arwah Pardi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Hari itu setelah kepergian arwah Pardi yang mengikuti Rania, nampak cafe Luna sempat ramai pengunjung kembali, dan para pegawai Luna terlihat kalang kabut melayani pesanan yang tiba-tiba membludak, terlihat senyum bahagia Luna tersirat pada wajah cantik nya, yang nampak berseri-seri melihat usaha nya yang kembali ramai.
Mungkin ucapan Rania dan teman-teman nya tadi tidak benar, nyata nya cafe ku sudah ramai pengunjung, batin Luna didalam hati nya.
Tidak lama setelah itu arwah Pardi datang kembali menemui Luna, nampak wajah cantik gadis itu tengah berbahagia karena pendapatan di hari itu sangat banyak, bahkan pegawai nya sampai lembur karena ada pengunjung yang menyewa tempat di cafe nya, di jam sembilan malam sampai tiga jam ke depan.
Aku tidak tega merusak kebahagiaan Luna, dia nampak bahagia ketika pengunjung di cafe nya ramai, jika aku membuat usaha nya kembali merugi, pasti Luna akan kembali sedih dan aku tidak bisa melihatnya bersedih lagi, batin Pardi didalam hati nya.
Dan setelah hari itu Pardi tidak melakukan tugas nya untuk membuat usaha Luna bangkrut, justru keberadaan Pardi di cafe Luna semakin membuat cafe itu sangat ramai pengunjung dan pesanan semakin banyak, nampak pesaing bisnis Luna semakin geram dan naik pitam, pesaing cafe Luna mendatangi dukun langganan nya dan mengeluhkan usaha nya yang omset nya semakin turun setiap hari nya.
"Kau bersabarlah aku akan melihat apa yang sebenarnya terjadi." tukas mbah Ngatimin dengan membaca mantra-mantra nya.
Dan terlihat di mata batin mbah Ngatimin jika arwah Pardi tidak melakukan perintah nya, Pardi justru membantu usaha Luna semakin melonjak pesat setiap hari nya.
Kurang ajar berani sekali hantu itu melanggar perintahku, akan ku buat kau membayar semua perbuatanmu, batin mbah Ngatimin didalam hati nya.
Setelah itu mbah Ngatimin meminta pelanggan nya itu untuk kembali dalam dua hari setelah ini, karena ada yang harus dikerjakan nya terlebih dulu.
"Setelah dua hari kau bisa kembali kesini, akan ku bantu usahamu melonjak naik." tukas mbah Ngatimin yang sedang duduk dengan menyilakan kedua kaki nya.
Terlihat mbah Ngatimin sangat murka dengan perbuatan Pardi, orang tua itu ingin membuat Pardi tidak berdaya dan mengikuti perintahnya, nampak mbah Ngatimin membaca mantra-mantra seraya memegang boneka santet ditangan nya, ternyata mbah Ngatimin sedang mengirimkan santet pada ibu Pardi yang masih bersedih atas kepergian anak lelaki nya.
Terlihat perempuan tua itu tengah meronta kesakitan, karena perut nya sangat sakit dan dia memuntahkan banyak darah, semua saudara Pardi nampak cemas karena ibu mereka tiba-tiba sakit parah.
Sementara arwah Pardi yang tidak mengetahui jika ibu nya sedang dalam bahaya, nampak sangat bahagia karena setiap hari nya Luna selalu tersenyum dengan wajah cantik nya.
Hanya dengan melihat Luna tersenyum, aku sudah sangat bahagia, aku tidak akan melakukan perintah lelaki tua itu lagi, batin Pardi didalam hati nya.
Tapi tiba-tiba ada sesosok kuntilanak peliharaan mbah Ngatimin yang datang menemui arwah Pardi, kuntilanak itu meminta arwah Pardi kembali ke rumah nya dan melihat apa yang telah mbah Ngatimin lakukan pada ibu nya, dan setelah menyampaikan pesan nya, kuntilanak itu melesat meninggalkan arwah Pardi yang tengah terdiam dan menerka-nerka, apa yang dilakukan mbah Ngatimin pada keluarga nya.
Jangan-jangan dukun itu menyakiti keluargaku, karena aku tidak melakukan perintah nya untuk membuat usaha Luna bangkrut, batin Pardi didalam hati nya resah.
...Yuk kak panjangkan list Vote dan hadiah nya, besok akan di umumkan siapa pemenang giveaway, berdasarkan yang sudah memberikan hadiah terbanyak pada Author ya, ditunggu pengumuman nya 💕...
...Bersambung....