
Setelah mendapat ijin dari simbah nya Rania bersama Petter dan juga Evana bergegas pergi ke desa tetangga nya untuk mencari tau rumah pak Jarwo, meski menurut simbah ilmu pak Jarwo tidak setinggi mbah Karto tapi saat ini tidak ada lagi yang bisa membantu semua warga desa nya apalagi setelah pak haji Faruk pergi meninggalkan desa.
Perjalanan menuju ke desa pak Jarwo mau tidak mau harus melewati kawasan hutan angker itu meski di siang hari kewingitan hutan itu tetap terasa, Rania yang hanya manusia biasa mengkerutkan kening nya merasakan ada aura negatif di dekat nya.
"Aunty kenapa perasaanku tidak enak ya untuk melewati jalanan di depan hutan angker itu". Ucap Rania pada Evana seraya melipat tangan di dada nya.
"Kau tenang saja sayang aunty akan berjaga di depanmu dan jika ada sesuatu aku lah yang akan menghadapi nya". Seru Evana dengan seringai di wajah pucat nya.
Petter yang merasa jika Rania mulai merasakan kehadiran makhluk penunggu hutan memilih untuk tetap berada disamping teman nya itu, kedua mata Petter memandang ke segala arah karena menghawatirkan keselamatan Rania.
Whuut whuut whuut...
Angin berhembus kencang mengguncangkan semua pepohonan yang ada di sisi kiri dan kanan mereka, nampak Evana dan Petter tetap berdiri tanpa goyah berjaga-jaga jika ada hal yang buruk disekitarnya, namun Rania yang hanya manusia biasa tidak dapat berdiri dengan sempurna kedua mata nya terpejam karena debu yang bertebaran.
Dan tiba-tiba sesosok buto datang dan mencengkeram tubuh Rania.
Ha ha ha ha...
"Akan ku ***** habis tubuhmu ini". Pekik sesosok buto dengan badan yang setinggi pohon kelapa yang menjulang ke atas langit dengan gigi runcing yang mencuat keluar.
Nampak Evana dan Petter tertegun melihat tubuh kecil Rania sudah berada di genggaman tangan buto menyeramkan itu.
Astaga kenapa semua jadi seperti ini, bagaimana mungkin buto itu bisa menemukan kami, padahal aku sudah mengelabuhi mereka dengan membaluri tubuh Rania menggunakan darah ayam cemani supaya keberadaan gadis kecil itu tidak dapat dilihat mereka, karena mereka akan mengira jika Rania adalah makhluk gaib sama seperti mereka, batin Evana didalam hati nya.
"Kau tidak usah berkata didalam hatimu itu setan londo, jika kau ingin tau akan aku katakan, semua makhluk gaib di hutan ini sudah diperintahkan untuk menangkap seorang gadis yang pergi bersama dua setan londo, tapi karena aku tidak dapat menemukan gadis itu aku bermaksud untuk membawa kalian saja, tapi tidak ku lakukan karena Tuan puteri akan lebih bahagia jika aku juga menangkap manusia ini maka aku melakukan sedikit tipuan pada kalian". Seru buto itu dengan memandang wajah Rania yang berada di genggaman nya.
"Lepaskan dia". Teriak Petter seraya melakukan perlawanan pada buto itu, tapi sekuat apapun Petter melawan dia tidak akan bisa melawan buto itu.
Lalu dengan kesal buto itu melayangkan sebelah tangan nya untuk menghempaskan tubuh hampa Petter.
Bruuk...
Tubuh hampa Petter terpelanting sejauh beberapa meter, sedangkan Evana yang tercengang melihat anak laki-laki nya terjungkal nampak marah dan berusaha melawan buto itu.
Tapi buto itu mengancam akan menyakiti Rania yang masih berada di genggaman tangan nya, kedua hantu Belanda itu diminta untuk mengikutinya pergi ke istana penguasa nya karena Sukma melati sudah menunggu kedatangan mereka.
"Hei setan londo lebih baik kalian tidak usah membuang energi dengan berusaha melawanku, seharusnya kalian berterima kasih padaku karena aku akan membawa kalian untuk bertemu dengan keluarga kalian yang sudah ditahan oleh Tuan puteriku". Tukas buto itu dengan air liur yang berpercikan kemana-mana membuat Rania ingin memuntahkan semua isi perut nya karena jijik.
"Apa maksudmu mbah buto?". Tanya Petter dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Sudah nak jangan dengarkan buto itu, dia hanya ingin menipu kita". Sahut Evana yang sedang merangkul Petter dengan berjalan mengambang.
Wah gawat jika aku bersama Petter dan juga aunty Evana sampai masuk ke alam gaib itu, bagaimana nasib warga lain nya yang sudah bergantung padaku saat ini, batin Rania didalam hati nya.
Setelah itu Rania membacakan ayat kursi supaya dirinya dapat terlepas dari genggaman tangan buto itu, nampak dia memejamkan kedua mata nya lalu mengawali doa nya dengan basmalah.
"Allohu la ilaha illa huwal hayul qoyum, laa ta’khudzuhu sinatuw wala naum. Lahu ma fissamaawaati wa maa fil ardl man dzal ladzi yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidihim wama kholfahum wa la yuhiithuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhuma wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim". Ucap Rania membaca doa dengan khusyuk.
Setelah mendengar lantunan ayat suci buto itu melemparkan badan Rania ke sembarang tempat, karena merasakan hawa panas dari badan Rania.
Aaarggh...
"Dasar manusia laknat berani sekali kau membuatku seperti ini". Pekik buto itu dengan membulatkan kedua mata nya menatap Rania yang sudah tersungkur di tanah.
Dengan perasaan yang kalut Rania berusaha melarikan diri dengan berteriak meminta tolong, sementara Evana dan Petter sedang berusaha menghentikan buto itu, dia seakan ingin memangsa gadis kecil yang telah melawan nya, kemudian Evana meminta Petter untuk membawa Rania keluar dari dimensi gaib hutan itu, lalu Petter melesat dengan cepat mencari keberadaan teman nya yang tidak diketahui keberadaan nya.
Dan tidak jauh dari hutan angker itu terlihat seorang laki-laki sedang mengayuh sepeda jengki nya, mata batin nya seperti melihat gambaran yang buram tentang seorang perempuan yang di tangkap oleh sesosok buto.
Chiiit...
Pak Jarwo mengerem mendadak sepeda jengki nya karena ada sesosok hantu Belanda yang sedang berdiri menghadang nya ditengah jalan.
"Pak aku tau kau dapat melihatku tolonglah temanku, dia manusia yang baik aku tidak mau dia dibawa oleh mbah buto itu". Ucap Petter menyatukan kedua telapak tangan didepan dada nya seakan memohon belas kasih laki-laki itu.
"Dimana gadis itu sekarang". Sahut pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.
"Dia ada di dimensi gaib hutan angker itu, aku tau kau bukan orang sembarangan makanya aku berusaha meminta bantuanmu". Cetus Petter dengan wajah sendu nya.
Setelah mendengar penjelasan Petter pak Jarwo segera memasuki dimensi gaib untuk menemukan seorang gadis yang sempat dia lihat di mata batin nya, karena mustahil mencari keberadaan Rania dengan cepat di hutan yang luas itu, akhirnya pak Jarwo menggunakan mata batin nya dibantu dengan Petter yang bisa membayangkan wujud Rania.
Wuush...
Tubuh hampa Petter menghilang untuk mencari keberadaan Rania, sedangkan pak Jarwo yang sedang duduk dengan menyilakan kedua kaki nya terdengar membacakan rapalan mantra untuk membantu Petter membawa teman nya kembali ke dimensi manusia.
Terlihat Rania sedang berjongkok dibalik rerimbunan ilalang dan tiba-tiba ada yang menyentuh pundak nya dari belakang membuat Rania beringsut semakin dalam ke rerimbunan ilalang itu.
"Rania ini aku temanmu, ayolah kita kembali ke dimensi manusia karena kau tidak aman berada disini". Ucap Petter dengan suara pelan.
"Darimana kau tau aku disini Petter?". Tanya Rania dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tadi aku bertemu dengan manusia yang bisa melihat wujudku dan aku meminta bantuan padanya, ayo cepat kita pergi". Jawab Petter seraya menarik tangan Rania yang dapat dia sentuh selama berada di dimensi gaib.
Lalu disaat keduanya berlari kembali ke arah pak Jarwo yang sudah menuntun jalan nya ke dimensi manusia, Petter menghentikan langkah nya karena melihat mama nya sedang berusaha keras melawan mbah buto itu.
"Rania kau pergilah lurus ikuti cahaya putih itu nanti kau akan bertemu dengan manusia yang telah menolong ku". Tukas Petter seraya melepas genggamam tangan nya dari Rania.
Sedangkan Evana yang menyadari maksud anak laki-laki nya untuk menolong nya, berusaha meminta Rania untuk membawa Petter bersama nya keluar dari dimensi gaib itu.
"Nee, ik wil mam hier niet achterlaten (tidak, aku tidak ingin meninggalkan mama disini)". Sahut Petter dengan berlinang air mata.
"Ga schat, mama beloofde je weer te zien (pergilah sayang, mama berjanji akan bertemu denganmu lagi)". Seru Evana meyakinkan Petter anaknya.
Nampak Rania hanya berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca dia tidak sanggup melihat Evana mengorbankan diri demi keselamatan nya, lalu diam-diam Evana terpaksa menggunakan sisa energi nya untuk mendorong paksa tubuh hampa Petter dan Rania keluar dari dimensi gaib itu.
*
*
...Bersambung....