
Sesampainya di kantin kampus, Rania memandang ke segala arah, mencari keberadaan Santi dan Wisnu, gadis itu berjalan perlahan ke satu sudut ke sudut lain nya, sampai akhirnya Rania menemukan keberadaan Santi dan juga Wisnu, keduanya sedang berbicara di pojokan kantin, nampak Santi menangis tersedu-sedu, dan terdengar oleh Rania jika Santi menyalahkan Wisnu yang tidak peka.
Apa yang sedang mereka bicarakan ya, sepertinya mereka sedang bersitegang, batin Rania dengan mengkerutkan kening nya.
Setelah itu Rania melangkahkan kaki nya, menghampiri kedua nya tapi tiba-tiba Rania terpeleset dan kehilangan keseimbangan, Rania hampir jatuh dan terpelanting ke lantai, tapi dengan cepat Aldo berlari dan menangkap tubuh Rania, tangan Aldo memeluk Rania dengan erat, supaya tubuh gadis itu tidak terjatuh, nampak kedua mata mereka saling memandang, degup jantung keduanya terdengar sangat kencang.
"Ma maaf Do, aku aku tidak sengaja." ucap Rania gugup.
"Kenapa minta maaf Ran, kau tidak melakukan kesalahan, aku hanya ingin menolongmu saja, karena jika aku tidak menangkapmu, kepalamu bisa terbentur lantai itu." tukas Aldo dengan wajah memerah.
"Ah baiklah Do, terima kasih ya tapi aku harus menemui Santi dulu." ujar Rania seraya berjalan gontai.
Terlihat Aldo mengikuti Rania, mereka menghampiri Santi dan Wisnu yang sedang berdebat, Rania mendengarkan percakapan mereka, yang menyebut-nyebut nama Icha.
"Kau seharusnya tau Wis, sudah lama aku menyukaimu, tapi kau malah berpacaran dengan Icha, karena itu lah aku dan Icha bertengkar, mungkin karena Icha merasa bersalah padaku, akhirnya dia nekat bunuh diri, tapi sekarang dia justru menghantuiku, mungkin karena aku masih dekat denganmu, bagaimanapun juga aku mencintaimu Wis, arwah Icha tidak akan bisa menakutiku lagi, asal kau mau bersamaku Wis huhuhu." ucap Santi berderai air mata.
"Apa maksudmu San, kita bersahabat sudah lama, jauh sebelum kita masuk ke kampus ini, aku mengira semua perhatianmu padaku, cuma sebatas sahabat seperti pada umumnya, karena itu lah aku menyatakan perasaanku pada Icha, semuanya bukan salah Icha San, kenapa kau harua marah dan bertengkar dengan nya." seru Wisnu dengan mengkerutkan keningnya.
"Justru karena aku mengenalmu lebih lama Wis, kenapa kau malah memilih Icha daripada aku, apa lebihnya Icha daripada aku Wis, bukankah aku lebih cantik dan menarik, kenapa kau malah memilih Icha yang kutu buku itu." tukas Santi dengan menggebrak meja.
Nampak Rania berdiri tidak jauh dari mereka, dan Rania merasa sangat kesal dengan sandiwara Santi, lagi-lagi Santi berlagak tidak berdosa, ingin sekali Rania berteriak dan mengatakan segala kebenaran nya, tapi dia sadar jika perbuatan itu akan sia-sia, karena Rania tidak memiliki bukti dan juga saksi, atas apa yang akan di ungkapkan nya.
"Santi berhentilah, jangan berteriak seperti itu, aku tau semua yang terjadi di antara kau dan Icha, jika kau masih mempunyai hati nurani sedikit saja, berhentilah untuk memfitnah sahabatmu sendiri, apalagi dia sudah tiada, biarkan dia tenang di alam nya." ucap Rania seraya berjalan ke arah mereka.
"Icha memang sudah tiada, tapi kau tau pasti kan Ran, jika arwah Icha gentayangan menuntut keadilan." tukas Santi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Keadilan yang mana San, jika kau tau itu kenapa kau masih tetap bungkam, seandainya kau mengerti kenapa arwah nya gentayangan dan menghantuimu." cetus Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Aku tau dia marah padaku, karena aku mencintai lelaki yang sama dengan nya, tapi kau tidak bisa menyudutkanku Ran, karena kau tidak memiliki bukti-bukti." tukas Santi tersenyum kecut.
Sementara Aldo yang mengetahui, jika Rania bisa melihat makhluk tak kasat mata, mulai menyadari arah percakapan kedua gadis yang ada dihadapan nya, Aldo memegang tangan Rania, seraya mengatakan padanya, jika dirinya ingin membantu memecahkan misteri yang Rania selidiki saat itu.
"Apa maksudmu Do?." tanya Rania bingung.
"Aku tau jika ada sesuatu yang terjadi dengan meninggalnya Icha, karena kau bisa melihat makhluk tak kasat mata, pasti arwah Icha datang padamu kan Ran, aku sudah mengenalmu dari kita sama-sama bersekolah, katakanlah segalanya insyaAlloh aku akan membantumu." jelas Aldo dengan menggenggam erat kedua tangan Rania.
"Kalian berdua tidak perlu drama disini deh, kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, aku mau masuk ke kelas permisi." cetus Santi seraya berjalan tertatih.
"Ehm Do maaf aku harus berbicara empat mata dengan Santi, aku duluan ya." jelas Rania berjalan setengah berlari meninggalkan Aldo yang berdiri mematung.
Nampak Rania mengejar Santi, dan menghentikan langkah kaki nya, Rania menarik lengan Santi dan berbincara dengan nada tinggi.
"Apakah kau tau kenapa arwah Icha mengikutimu San, dia tidak ingin kau terjerat hukuman berlapis, arwah Icha masih menyayangimu sebagai sahabatnya, meski kau telah membuatnya meninggal, dia tidak ingin kau dihukum berat, atas perbuatan yang tidak sengaja kau lakukan, karena itu lah dia meminta tolong padaku, supaya kau mengakui segalanya pada polisi, supaya hukumanmu lebih ringan San, percayalah padaku arwah Icha tidak bermaksud menakutimu." ucap Rania dengan menatap tajam wajah Santi.
Apakah benar yang dikatakan Rania, tapi aku takut masuk penjara, bagaimana ini, batin Santi kalut.
"Apa yang kau maksud Rania, aku tidak melakukan apa-apa pada Icha, kenapa aku harus mengakui perbuatanku pada polisi, sudahlah biarkan aku sendiri." cetus Santi seraya berjalan masuk ke dalam ruang kelas.
*
*
...Maaf ya telat up ada sahabat yg ultah jadi ikut meramaikan, silahkan berikan hadiah dan vote nya kak, biar masuk list teratas mingguan 😉...
...Bersambung....