DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petunjuk mimpi dari Ayu.


Didalam mimpi itu nampak Ayu mengatakan pada ibunya, supaya meninggalkan ayah tirinya itu, karena dia bukanlah laki-laki yang baik, Ayu menjelaskan penyebab dirinya meninggal dunia adalah karena perbuatan ayah tirinya Dudung, Ayu berderai air mata mengatakan semuanya pada ibunya.


"Ibu dia bukanlah orang yang baik, setiap ibu tidak ada di rumah, dia sering melecehkanku dan yang terakhir dia menyiksaku karena aku tidak mau menuruti keinginan kotornya, sampai akhirnya dia menodaiku dengan paksa hingga akhirnya aku meninggal, tapi dia tetap melakukan pelecehan itu padaku bu huhuhu". Ucap Ayu didalam mimpi ibunya.


Nampak Yati tidak percaya dengan ucapan Ayu, dan mengatakan jika Ayu hanya salah paham saja, karena ayah tirinya sangat menyayanginya, dan Ayu mengatakan jika Dudung terlihat begitu penyayang hanya didepan ibunya saja.


"Jika ibu ingin tau kebenaran nya, ibu harus menanda tangani surat penyetujuan untuk autopsi itu, dengan begitu ibu bisa mengetahui siapa ayah tiriku itu yang sebenarnya, Ayu mohon bu setujui tindakan autopsi itu jika ibu menginginkanku tenang di alamku, Ayu permisi ya bu jaga diri ibu baik-baik, maafkan Ayu belum bisa membalas budi pada ibu huhu". Ucap Ayu berderai air mata kepedihan berpamitan pada ibunya.


Setelah itu Yati terbangun dari tidurnya dengan berlinang air mata kesedihan, nampak Yati menangis histeris memanggil nama Ayu berulang kali.


"Jangan tinggalkan ibu nak huhuhu... baiklah ibu akan ikuti permintaan terakhirmu itu sayang". Seru Yati terisak pilu seraya berlari keluar kamar mencari Ayu di dalam kamarnya.


Dan di dalam kamar Ayu terlihat Yati menangis histeris meraung-raung meratapi kepergian anak semata wayangnya itu, lalu bude Lasmi dan Dudung berlari ke kamar Ayu untuk menenangkan Yati yang sedang menangis pilu.


"Ada apa to buk, kok kamu malah disini to bukan nya istirahat di kamar". Tukas Dudung menyentuh pundak Yati.


Kemudian Yati menepis tangan Dudung dan membulatkan kedua matanya, menatap tajam pada Dudung.


"Lepaskan aku mas, bukankah kau sering melecehkan anakku jika aku tidak ada, kau juga yang telah membuatnya meninggal dunia kan huhuhu". Pekik Yati berderai air mata memandang Dudung dengan penuh amarah.


Lalu bude Lasmi menenangkan Yati dan memeluknya erat seraya membimbingnya kembali ke kamarnya, dan setelah itu bude Lasmi memberikan Yati minum supaya dia bisa sedikit tenang.


"Minum dulu Yat, kau itu kenapa tiba-tiba histeris seperti itu dan menyalahkan Dudung atas kematian Ayu?". Tanya bude Lasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Tadi aku bertemu Ayu didalam mimpi mbakyu, dan dia mengatakan semua itu padaku, jika aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan anakku sendiri maka siapa yang akan percaya padanya, Ayu memintaku untuk menyetujui tindakan autopsi itu karena hanya dengan cara itu misteri kematian nya dapat terungkap". Jelas Yati yang masih terisak pilu.


Sementara Dudung yang berada diluar kamar itu, nampak berkeringat dengan dan wajahnya berubah cemas, Dudung tidak menyangka jika Yati mengetahui kebenaran itu hanya melalui mimpinya.


Bagaimana ini, jika Yati sampai mempercayai mimpi itu dan menanda tangani surat persetujuan untuk autopsi, maka semuanya akan terungkap dan aku bisa mendekam di dalam penjara selamanya, batin Dudung ketakutan seraya mengusap peluh dikeningnya.


"Sudahlah Yat mimpi itu kan cuma bunga tidur saja, biarlah anakmu Ayu tenang di alamnya, kenapa kau harus membongkar makamnya lagi dan mengautopsi jenazahnya, kasihan Ayu to Yat". Tukas bude Lasmi dengan wajah sendu.


"Tapi mbakyu mimpiku itu bukan sembarang mimpi, Ayu berpesan padaku untuk menanda tangani surat itu supaya dia bisa tenang di alamnya". Sahut Yati sesegukan.


Kemudian Dudung masuk ke dalam kamar itu dan bersandiwara didepan Yati, Dudung mengatakan jika Yati memang tidak percaya padanya dan Dudung lebih memilih pergi dari rumah itu.


"Sudahlah buk kalau kau tidak percaya padaku, padahal jelas-jelas kekasih Ayu lah yang melakukan semuanya, tapi kau malah menuduhku seperti itu, lebih baik aku pergi dari rumah ini". Seru Dudung seraya mengemasi pakaian nya.


Kemudian Yati bangkit dari duduknya dan menghampiri Dudung seraya berkata jika Dudung pergi dari rumah itu maka Yati akan menelepon polisi saat itu juga untuk menyelidiki Dudung.


"Kenapa kau mau meninggalkan rumah ini mas, jika kau tidak bersalah kau tidak perlu takut dan berdalih seperti itu, kalau kau nekat pergi aku juga bisa nekat menghubungi polisi sekarang juga". Teriak Yati dengan membulatkan kedua matanya.


"Loh buk kau kenapa semakin menuduhku seperti itu, kau sadar tidak aku ini suamimu, aku yang telah menjagamu dan juga Ayu, tapi kau menuduhku hanya karena mimpimu itu". Tukas Dudung dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Sudah to Yat Dung, jangan berdebat seperti ini, lebih baik kita bicarakan ini dengan kepala dingin, dan kau Dung jangan menambah masalah dengan pergi dari rumah ini". Tegas bude Lasmi dengan berkacak pinggang.


Lalu Dudung pun mengembalikan pakaian nya kembali ke dalam lemari dan duduk di kursi ruang tamu nya, sedangkan di luar rumah itu ada Ayu bersama Petter yang sedang berdiri mengambang menatap tajam pada Dudung.


"Mari kita beri dia pelajaran Yu". Tukas Petter dengan seringai diwajahnya.


"Apa yang akan kita lakukan Petter?". Tanya Ayu dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Ternyata Petter meminta bantuan sesosok kuntilanak yang tinggal di atas pohon asem, yang berada tidak jauh dari rumah Ayu, Petter meminta kuntilanak itu untuk menyamar menjadi manusia dan menggoda Dudung.


Setelah itu kuntilanak yang bernama Irah itupun setuju, karena dia memang sangat suka menggoda laki-laki yang mata keranjang.


Dudung yang sedang kesal pada Yati akhirnya mengambil sebatang rokok, dan menghisapnya di depan teras, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang berpakaian mini yang menonjolkan lekuk tubuhnya, perempuan itu nampak berjalan kaki dengan wajah yang kebingungan.


Siapa perempuan cantik itu, malam-malam begini berjalan sendirian, memandangnya dari jauh saja membuatku panas dingin, batin Dudung dengan pikiran kotornya.


Kemudian perempuan cantik itu melemparkan senyum manisnya pada Dudung, seketika naluri Dudung sebagai laki-laki mata keranjang keluar, Dudung berjalan menghampiri perempuan cantik itu dan menyapanya.


"Mau kemana mbak malam-malam kok jalan sendirian, tidak takut digodain laki-laki ya, kalau ada apa-apa bagaimana". Sapa Dudung dengan seringai diwajahnya.


"Memang aku sedang ada masalah mas, motorku mogok disana dan aku lelah mendorongnya disepanjang jalan, dimana ya ada bengkel terdekat disini". Ucap perempuan cantik itu.


Wah kesempatan ini, aku akan membantunya dan mengajaknya berkenalan, siapa tau dia bisa kena rayuanku, batin Dudung seraya menyeringai penuh makna.


"Jam segini sudah tidak ada bengkel mbak, kalau mau biar aku saja yang membantumu, kasihan kan perempuan cantik sepertimu berjalan jauh mencari bengkel padahal sudah tutup semua". Tukas Dudung seraya menjabat tangan perempuan itu dan berkenalan.


Perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan nama Santi, lalu keduanya berjalan di tengah redupnya cahaya.


"Dimana mbak Santi meninggalkan motornya, kalau hilang bagaimana mbak, tempat ini tidak begitu ramai kalau malam takutnya ada maling motor disana". Ucap Dudung yang mencuri pandang melihat kedua milik Santi yang bergoyang ke atas dan kebawah.


"Tidak akan ada maling disana mas, tempat itu ada penjaganya dan setiap malam dia selalu berada disana, mas Dudung melihat apa sih mas, apa wajahku jelek ya kok mata mas Dudung melirikku seperti itu". Ujar Santi membalikan tubuhnya dan menempel pada tubuh Dudung.


*


*


...Jangan lupa tinggalkan gift dan Vote yang kalian punya, untuk mendapatkan giveaway dari Author, Love u all 💕...


...Bersambung....