DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Teror di malam hari.


Beberapa hari berlalu Wati sudah sembuh dan mulai berangkat ke sekolah bersama Rania seperti biasanya, ketika Rania bertanya apa saja yang Wati lakukan selama di alam gaib, Wati sama sekali tidak mengingatnya.


"Kau ini hilang di culik hantu penunggu pohon selama beberapa hari tapi kau tidak dapat mengingatnya, berbeda denganku yang dapat mengingat semua kejadian selama di alam gaib". Ucap Rania yang merasa aneh dengan Wati.


"Entahlah Aku tidak ingat apa-apa yang teringat hanya aku mimpi buruk dan terbangun dipelukan Ibuku". Ujar Wati dengan mengernyitkan dahi nya.


"Mungkin pak Jarwo menutup dimensi gaib di ingatanmu sehingga Kau melupakan semua yang terjadi sebelum ini". Tukas Rania.


Setelah itu jam pelajaran telah selesai dan mereka pulang ke rumah nya.


Sesampainya di rumah bude Walimah dan simbah tidak ada karena mereka sedang pergi ke rumah tetangga yang sedang meninggal dunia, Rania dan Wati langsung makan dan tidur siang di kamarnya.


"Nduk sudah sore ayo pada bangun mandi dan sholat". Ucap Bude Walimah yang sudah pulang melayat.


Kemudian Rania dan Wati bangun untuk segera mandi lalu melakukan ibadah bersama, Setelah mereka melakukan ibadah samar-samar Rania mendengar ucapan Simbah pada Bude tentang tetangga yang meninggal hari ini.


Ada desas desus jika ada warga yang lupa melepaskan tali pocong nya karena hari sudah sore dan mulai gelap membuat penguburan jenazah jadi terburu buru.


Plaaakk...


Tiba tiba Wati menepuk pundak Rania sehingga membuatnya kaget.


"Ada apa sih wati mengagetkanku saja". Seru Rania dengan jantung yang berdegup kencang.


"Kau juga sedang mendengarkan pembicaraan simbah ya? ". Tanya Wati dengan wajah ketakutan.


"Ehm iya Wat, Aku sedang mendengarkan cerita simbah". Jawab Rania dengan memegang tengkuk nya.


"Kau tau kan Ran, jika ada orang yang meninggal tali pocong nya tidak dilepaskan maka orang itu akan bangkit dari kubur nya dan meminta tolong pada seseorang untuk melepaskan tali pocong nya itu". Ucap Wati yang sedang berbisik di telinga Rania.


"Huusss... Jangan ngomong sembarangan nanti bisa terjadi sungguhan lho!". Seru Rania seraya meletakan jari telunjuk di depan mulut nya.


"Aku juga pernah mendengar itu tapi lebih baik kita tidak usah membahasnya". Tukas Rania yang sedang melipat mukena nya.


Kemudian mereka berdua duduk dikursi keluarga bersama bude dan simbah melihat siaran TV favorit mereka, tanpa terasa malam semakin larut bude meminta Rania dan Wati untuk segera tidur dan jangan lupa berdoa terlebih dulu.


Saat mereka berdua sedang tidur di kamar nya tiba tiba ada suara-suara asing yang belum pernah mereka dengar, Rania dan Wati bangkit dari tidur nya lalu duduk ditepi ranjang.


Bleek...bleek... bleek...


"Tulooong...". Bleek...Blek...bleekk...


Rania dan Wati terkesiap mendengar suara itu jantung mereka berdegup dengan kencang, ingin sekali mereka berlari ke kamar simbah atau bude Walimah tapi kaki mereka seakan terpaku disana.


"Rania itu suara apa". Tanya Wati dengan suara bergetar.


"Diamlah dulu Aku juga tidak tau itu suara apa". Jawab Rania dengan mimik wajah yang sama takut nya dengan Wati.


Bleek... bleek...


Suara itu berhenti tepat di jendela kamar mereka.


Tulooong congculi...


*


*


* Bersambung** *