
Sore itu Wati yang keadaan nya sudah lebih sehat, nampak diperbolehkan pulang oleh dokter, mereka meminta Anto untuk menjemputnya, tapi Anto masih dalam perjalanan, dan mobil yang dikemudikan nya dibuat memutar-mutar disatu tempat saja.
Jika aku membuatmu celaka, kedok ku akan segera terbongkar oleh manusia sakti itu, dia tidak hanya sakti tapi juga taat beribadah, penyamaranku bisa terbongkar lebih cepat, karena itu lah aku sengaja membuatnya berkeliling di tempat ini saja, dan aku akan darang ke rumah sakit itu, menemui Lala dan mulai mengambil hati nya, supaya dia bisa lebih dekat lagi denganku, batin Bagaskara tersenyum licik.
Dreet dreet...
Terdengar ponsel Anto bergetar, ada beberapa panggilan telepon dari Rania.
"Hallo mas Anto sudah sampa dimana, masa dari tadi belum sampai juga." seru Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tunggu sebentar ya Ran, sepertinya ada sedikit masalah, aku aku merasa ada yang janggal." tukas Anto dengan wajah cemas.
Terdengar Anto meminta Rania memberikan ponselnya pada pak Jarwo, dan setelah itu Anto menjelaskan pada pak Jarwo tentang firasat jeleknya.
"Anu pak sebenarnya aku sudah satu jam diperjalanan, tapi kenapa mobil yang ku kemudikan hanya berjalan di satu tempat saja, seakan aku selalu kembali ke tempat yang sama setelah melewati nya, karena itu lah aku belum sampai ke rumah sakit sampai sekarang." jelas Anto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Astagfirullohaladzim sepertinya kau diganggu makhluk gaib To, sekarang tepi kan mobilmu, dan berhentilah disana, baca-baca doa apa saja dan tetaplah berada disana, sampai aku datang menemukanmu, karena jika kau semakin berjalan, kau bisa semakin masuk ke dalam alam lain, meski perasaanmu kau hanya berputar disatu tempat saja, sekali lagi bacalah doa-doa dan jangan kemanapun, tunggulah aku akan datang mencarimu." cetus pak Jarwo seraya mematikan panggilan telepon itu.
"Mas Anto kenapa mas, sepertinya ada masalah yang terjadi dengan nya?." tanya Lala dengan wajah cemas.
"InsyaAlloh tidak ada apa-apa nduk, sepertinya kalian harus pulang menggunakan taksi, karena Anto sedang ada sedikit masalah, dan aku akan kesana menolong nya, kalian pulang saja dulu biarkan Wati bisa cepat istirahat." jawab pak Jarwo tidak mengatakan yang sebenarnya.
Nampak pak Jarwo melangkahkan kaki nya, seraya berbicara dengan sosok hantu Narsih melalui batin nya, pak Jarwo meminta hantu Narsih untuk bersikap baik pada semua orang, jika tidak pak Jarwo akan melarangnya mendekati Wati, dan membuatnya tidak akan bisa lagi berada didekatnya, dan hantu Narsih pun setuju dengan perintah pak Jarwo, hantu Narsih hanya akan tetap berada didekat Wati, tanpa melakukan hal-hal yang akan membuat semua orang takut, tapi sesekali hantu Narsih selalu berusaha menembus batin bude Walimah, karena ada yang ingin diketahuinya tentang, riwayat hidup perempuan yang terasa sangat dekat dengan dirinya.
Rania dan Lala yang dapat melihat gerak-gerik Narsih, hanya dapat menggelengkan kepala nya, memberi isyarat pada hantu Narsih, supaya tidak melakukan apapun, yang akan membuat semua orang susah, tapi tiba-tiba disaat mereka semua sudah sampao di lobby rumah sakit, nampak Yudistira datang dengan membawa bingkisan buah-buah segar.
"Loh Wati kau sudah boleh pulang to, baru saja aku ingin menjengukmu, kebetulan salah satu perawat di rumah sakit ini, adalah temanku dan dia memberitauku, jika salah satu temanku yang kemarin ada di ruang ICU, sedang dirawat juga disini, karena itulah aku sengaja datang menjenguk." ucap Yudistira seraya memberikan bingkisan buah itu pada bude Walimah.
"Oh iya Le terima kasih, kebetulan hari ini kondisi Wati sudah membaik, dan dokter memberi ijin untuk pulang, kami langsung pulang dulu ya Le, kasihan Wati masih harus banyak istirahat." ujar bude Walimah seraya memapah Wati.
Setelah mendengar penjelasan bude Walimah, nampak Yudistira menawarkan diri untuk mengantar mereka kembali ke rumah.
"Jika tidak ada yang keberatan, aku akan mengantarkan kalian pulang, kebetulan aku mengemudikan mobil kesini." jelas Yudistira dengan mencuri pandang melihat Lala yang tidak menanggapi kehadiran nya.
Kenapa aura gelap lelaki ini sangat kuat, sebenarnya dia itu manusia atau bukan, batin hantu Narsih menatap tajam pada Yudistira.
Nampak Yudistira menyadari kecurigaan hantu Narsih, dia bersikap seolah tidak dapat melihat wujud hantu itu, supaya hantu Narsih tidak terlalu curiga padanya, sementara Rania yang ada disebelah Wati, dan menggandeng sepupunya itu, hanya terdiam dengan mengkerutkan kenibg nya.
Setelah itu bude Walimah menyetujui tawaran Yudistira, karena dia tidak ingin terlalu lama di rumah sakit itu.
"Baiklah Le jika kau tidak keberatan, kami dengan senang hati menerima kebaikanmu." ucap bude Walimah dengan menyunggingkan senyum nya.
Kemudian Yudistira bergegas mengambil mobilnya, dia menepikan mobilnya dan membuka kan pintu untuk semua orang.
"La kau duduk didepan saja bersamaku, supaya Wati bisa lebih lega duduknya." seru Yudistira seraya meraih pergelangan tangan Lala.
"Ah baiklah kalau begitu, kau bisa merebahkan tubuhmu di dalam Wat, jangan terlalu lelah ya." ucap Lala menatap wajah pucat Wati.
Disepanjang perjalanan Wati hanya terdiam, tidak seperti sebelumnya, Wati yang selalu banyak bicara tiba-tiba menjadi pendiam, seakan setengah diri Wati menghilang, gadis itu hanya menundukan kepalanya, tanpa berani mendongakan kepalanya ke atas, Rania yang menyadari perubahan sikap pada sepupu nya, hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi padanya di alam gaib.
Apa mungkin Wati trauma, dan dia tidak berani menceritakan kejadian yang telah di alaminya, batin Rania dengan mengkerutkan kening nya.
Belum sampai Rania menemukan jawaban atas pertanyaan nya, mobil yang ditumpangi nya sudah memasuki area desa Rawa belatung, lalu Yudistira menginjak rem mobil nya mendadak, nampak mobil itu tepat berhenti di depan rumah Rania.
Darimana Yudis tau jika ini rumahku, kami hanya memberitau alamat desa ini, tapi dia bisa berhenti tepat di depan rumahku, kebetulan yang sangat aneh sekali, batin Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ehm maaf jika aku menginjak rem mendadak, karena tiba-tiba saja ibu ku mengirimkan pesan, jika dia jatuh dari kamar mandi, dan aku harus membawanya ke dokter sekarang juga, jika kalian tidak keberatan bolehkah aku mengantar sampai disini saja, karena aku harus pulang sekarang juga." jelas Yudistira dengan wajah cemas.
Oh jadi dia hanya kebetulan saja berhenti disini, entah kenapa aku selalu curiga padanya, batin Rania dengan menepuk kening nya.
"Ya sudah Le tidak apa-apa, kebetulan di depan itu adalah rumah kami, terima kasih banyak sudah mengantarkan kami semua, kau hati-hati di jalan ya, semoga ibumu baik-baik saja, jangan ngebut Le bawa mobilnya." seru bude Walimah.
Sebenarnya aku berhenti mendadak disini, karena ada manusia tua itu di dalam rumah sana, aku tidak ingin bertatap muka langsung dengan nya, bisa-bisa penyamaranku akan langsung terungkap didepan Lala, batin Yudistira dengan mengkerutkan kening nya.
"La aku pulang dulu ya, jika kau tidak keberatan besok ke kampus aku yang antar ya." celetuk Yudistira.
Dan belum sempat Lala menjawab ucapan Yudistira, terdengar suara mbah Karto yang bersyukur melihat Wati sudah kembali ke rumah, sementara itu Yudistira tengah berkeringat dingin dengan wajah yang panik, dia sangat takut jika mbah Karto mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
*
*
...Bersambung....