DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kematian mbah Wongso.


Kenapa mbah Wongso melihatku seperti itu, aku jadi takut untuk lebih dekat lagi, batin Rania didalam hatinya.


Kemudian mbah Wongso melambaikan tangan nya ke arah Rania, lalu pak Jarwo meyakinkan Rania untuk lebih dekat pada mbah Wongso, tapi Rania menggelengkan kepalanya, dan pak Jarwo menjelaskan pada Rania jika hidup mbah Wongso sudah tidak akan lama lagi dan meminta Rania untuk mengikuti permintaan laki-laki tua itu.


Setelah itu Rania melangkahkan kaki nya gontai mendekati mbah Wongso yang sedang terbaring tidak berdaya, nampak tangan mbah Wongso menyentuh pergelangan tangan Rania, ternyata mbah Wongso sedang mentransferkan kekuatan nya supaya Rania dapat melihat sekilas kehidupan Lala di alam gaib dan selain itu mbah Wongso membuat Rania menjadi perantara supaya mbah Karto dapat membuka gerbang gaib di alam buto ireng itu, karena mbah Wongso sudah mengetahui ajalnya tidak akan lama, dan dia tidak ingin membawa seluruh dosa-dosanya bersama nya.


Terlihat seluruh tubuh Rania berkeringat dingin dan bergetar karena menerima energi dari mbah Wongso, di mata batin Rania terlihat Lala yang hidup bahagia bersama seorang laki-laki tampan anak Lala sudah lebih besar berumur kisaran sepuluh tahun, Lala tinggal disebuah istana yang megah bersama kedua istri suaminya, meskipun begitu suaminya lebih mencintai Lala, dan itu membuat kecemburuan di antara istri tertua suaminya, terutama istri pertamanya sampai akhirnya Lala dijebak dan masuk perangkap oleh istri pertama suaminya, dan akhirnya suaminya sangat marah dan melukai Lala.


Setelah penglihatan itu terlihat Rania mulai lemas dan kehilangan keseimbangan, Rania tumbang dan tergeletak di lantai rumah itu.


Nampak semua orang membantu Rania dan memapahnya ke sebuah bangku, dan memberikan segelas air minum.


"Kau tidak apa-apa nduk cah ayu?". Tanya pak Jarwo pada Rania.


"Huhuhu... Lala pak kasihan dia". Jawab Rania berderai air mata.


"Kau sudah tau semuanya, kau tau kenapa mbah Wongso memanggilmu ke sebelahnya, dia sepertinya telah menyadari kesalahan nya, dan dia memberikan penglihatan itu padamu, supaya kelak kau dapat membantu kami membuka gerbang gaib di alam buto itu.


Kemudian datanglah mbah Karto bersama Evana dan Jansen yang sudah melesat terlebih dulu, nampak mbah Karto berdiri mematung memandang raga adik kandungnya yang sudah tidak berdaya itu.


"Astagfirullahaladzim, Wongso adikku bukankah sudah berulang kali aku memperingatkanmu, seadainya kau mau mendengarkanku". Ucap mbah Karto terisak dengan memeluk mbah Wongso.


"Ma af kan a ak u". Sahut mbah Wongso terbata-bata.


"Iya Wongso aku sudah memaafkanmu, tapi kau harus meminta maaf pada semua orang yang telah kau sakiti, karena perbuatanmu itu banyak jiwa yang tidak bersalah menjadi korban, sekarang kau pergilah dengan tenang, urusan duniawi mu biarlah aku yang menyelesaikan nya, aku akan mewakikimu meminta maaf pada semua orang, sekarang kau dapat pergi dengan tenang". Ujar mbah Karto tertunduk dengan wajah sendu.


Kemudian pak Jarwo dan moodin di kampung itu membimbing mbah Wongso untuk mengucapkan syahadat, tapi mulut mbah Wongso seakan kaku dan tidak dapat berucap.


Terdengar warga yang berbisik mengatakan tentang hal-hal buruk yang mbah Wongso lakukan semasa hidupnya, namun nenek Rohyati menghentikan cibiran warga itu dan meminta mereka semua untuk membantu membacakan doa saja.


Rania yang sudah mendapatkan kekuatan nya kembali mendekati mbah Wongso dan mengatakan jika dirinya juga sudah memaafkan mbah Wongso.


Tapi tetap saja mbah Wongso belum bisa menghembuskan nafas terakhirnya, karena menurut mbah Karto banyak setan atau jin yang tinggal didalam raga mbah Wongso dan mereka semua tidak mau meninggalkan raga mbah Wongso begitu saja.


Lalu dengan kekuatan nya mbah Karto memasuki alam bawah sadar mbah Wongso dan disana banyak sekali makhluk gaib yang bersemayam, lalu mbah Karto meminta semua makhluk gaib itu untuk pergi meninggalkan raga mbah Wongso.


"Pergilah dari raga manusia ini, karena tubuhnya sudah sangat tersiksa di dunia ini, dan dia akan segera meninggal dunia dengan tenang, itupun juga jika kalian bersedia meninggalkan raganya". Cetus mbah Karto yang nampak terpejam matanya.


"Kami bisa saja meninggalkan raga manusia ini, tapi kami ingin menempati raga manusia yang lain nya, kami berjanji akan menuruti kemauan manusia itu". Jelas makhluk gaib yang ada di raga mbah Wongso


"Apakah kalian ingin menipuku, lebih baik kalian pergi sekarang juga, jika tidak aku akan mengusir kalian secara paksa". Tegas mbah Karto seraya membaca ayat-ayat suci.


Tapi mbah Karto tidak memberikan kesempatan pada makhluk gaib itu, nampak mbah Karto membacakan ayat-ayat suci dan mengikat semua makhluk gaib itu dengan tasbih yang dibawanya, lalu tasbih itu dimasukan kedalam sebuah kain berwarna putih dengan wangi minyak arab.


Setelah itu jiwa mbah Karto kembali dalam raga nya dan meminta seseorang untuk segera menguburkan kain berwarna putih yang dibawanya tadi, lalu mbah Karto pun berbisik ditelinga mbah Wongso.


"Wes Le, lungo no, urusanmu wes rampung, ingonanmu wes tak resiki kabeh, kono ndang muliho (sudah Le, pergilah, urusanmu sudah selesai, peliharaanmu sudah aku bersihkan semua, sana cepatlah pulang)". Bisik mbah Karto ditelinga mbah Wongso.


Dan setelah itu nampak kedua mata mbah Wongso semakin melotot menatap mbah Wongso dengan air mata yang mengalir deras, serta tangan nya yang menggenggam erat tangan mbah Karto.


"Nyebut Le huhuhu...". Ucap mbah Karto terisak menatap adiknya yang sedang sangat tersiksa.


ASYHADU AL LAILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.


Terdengar beberapa orang membimbing mbah Wongso untuk mengucapkan syahadat, tapi berulang kali beliau tidak dapat mengucapkan nya.


Sampai akhirnya tiba-tiba detak jantung mbah Wongso berhenti dan mulutnya terbuka lebar dengan kedua matanya yang terbelalak, menandakan jika roh mbah Wongso sudah keluar dari dalam tubuhnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun". Ucap pak Jarwo seraya menutup kedua mata mbah Wongso menggunakan sebelah tangan nya.


Kemudian nampak mbah Karto berderai air mata menangisi kepergian saudaranya itu, mbah Karto menyesalkan mbah Wongso pergi selamanya sebelum mengucapkan syahadat.


"Sudah mbah jangan disesali, mungkin sudah takdirnya mbah Wongso seperti ini, lebih baik kita segera mengurus jenazahnya, supaya lekas di kebumikan". Tukas pak Jarwo memberi dukungan moril pada mbah Karto.


Sedangkan Rania yang sedang berdiri di samping jendela terkejut melihat arwah mbah Wongso yang menghampirinya, nampak arwah mbah Wongso mengucapkan maaf pada Rania dan ketiga teman hantu nya.


"Nduk sampaikan juga maafku pada Lala dan semua keluarganya, bahkan aku juga mempunyai salah pada semua warga desa Rawa belatung, bisakah kau menyampaikan maafku pada mereka semua, waktuku tidak akan lama lagi, malaikat maut sudah berada didekatku, aku akan segera pergi ke neraka untuk menebus semua dosa-dosaku". Ucap arwah mbah Wongso yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Nampak Rania membuka mulutnya lebar dengan memegangi dadanya yang terasa sesak, Rania sangat terkejut karena melihat arwah mbah Wongso yang tadi berbicara padanya.


"Sudah Rania kau tidak perlu takut lagi, dia sudah pergi untuk selamanya untuk menebus semua dosanya". Tukas Evana menenangkan Rania.


Sementara pak Jarwo yang mengetahui jika Rania tergoncang jiwa nya, nampak berjalan mendekati gadis itu dan memberikan nya sedikit energi supaya Rania dapat tenang kembali.


*


*


...Yuk kak berikan Vote atau hadiahnya untuk ku, karena dengan memberikan Vote atau hadiah kalian padaku bisa membuatku semakin semangat, menulis bab-bab yang baru untuk kalian semua, ditunggu dukungan nya ya akak pembaca tercinta, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan rejekinya amin 😇🙏...


...Bersambung....