DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mencari petunjuk.


"Rania ini sudah seperti cucu ku sendiri nduk, dia bersusah payah mengajak ku kesini, hanya untuk menyadarkanmu yang dalam pengaruh buruk, kapan kau terakhir kali beribadah nduk." tukas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ehm Luna lupa pakde, akhir-akhir ini banyak masalah yang terjadi dihidup Luna, sampai Luna tidak sadar hampir menutup cafe ini." jelas Luna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah nduk jangan kau ulangi lagi, kau tidak boleh mendengarkan ucapan seseorang, yang selalu hadir didalam mimpi mu, dia adalah arwah jahat yang berusaha memberikan pengaruh buruk padamu, lebih baik kau ikut pakde ke desa, disana ada pak haji Faruk yang bisa melakukan rukiyah padamu, insyaAlloh setelah itu kau akan terbebas dari semua aura negatif yang ada ditubuhmu itu." jelas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


Nampak Wulan tersenyum bahagia, setelah mendengar penjelasan mbah Karto, Wulan mengatakan jika dia akan ikut ke desa Rawa belatung bersama mereka.


"Mas Karto kami berdua akan menginap disana untuk beberapa hari, supaya Luna dapat menenangkan dirinya, dan membuat keputusan yang terbaik untuk bisnis nya kedepan." ucap Wulan seraya bangkit dari duduknya.


"Terserah kalian saja bagaimana baik nya, sebelum arwah gentayangan itu berbuat yang lebih jauh lagi, aku akan memagari tubuh Luna, supaya dia tidak bisa terpengaruh aura mistis lagi." cetus mbah Karto seraya membaca rapalan mantra dan menyebut nama Luna.


Setelah itu mbah Karto memberikan alamat yang lebih jelas pada Wulan, suapaya mereka dapat dengan mudah menemukan alamat rumah nya.


"Aku harus kembali ke desa bersama Rania sekarang juga, kalian bisa menyusul secepatnya, aku akan menunggu kedatangan kalian berdua." ucap mbah Karto dengan senyum ramah nya.


Terlihat Rania membisikan sesuatu ditelinga mbah Karto, ternyata sepulang dari sana, Rania mengajak mbah Karto ke lokasi dimana pak Parjo menghbuskan nafas terakhir nya.


"Baiklah nduk jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan membimbingmu supaya kemampuanmu, dapat berguna untukmu kelak." tukas mbah Karto seraya melangkahkan kaki nya keluar dari cafe Luna.


Dan disepanjang perjalanan Rania berusaha mengingat, dimana tempat kejadian perkara pak Parjo mengalami tabrak lari, lalu mbah Karto mengatakan pada Rania, jika dia harus menepikan sepeda motor nya, dam berkonsentrasi penuh jika Rania ingin melihat dimana tempat itu.


Kemudian Rania menghentikan laju sepeda motor itu, nampak dia menghembuskan nafas nya panjang, seraya menutup kedua matanya dan membaca ayat-ayat suci, terlihat di penglihatan batin Rania, jika kecelakaan itu terjadi di dekat pintu exit tol.


Bagaimana mungkin aku bisa sampai ke tempat itu, dan jika aku nekat kesana, apakah aku bisa menemukan sebuah petunjuk, batin Rania dengan keringat dingin yang membasahi kening nya.


"Mbah Karto tempat itu lumayan jauh dari sini, jika kita nekat kesana perjalanan pulang ke desa akan memakan waktu yang lebih lama." jelas Rania dengan mengusap peluh dikening nya.


"InsyaAlloh nduk kita akan mendapat berkah, mari kita cari tau petunjuk lain dari kasus tabrak lari si Parjo." ucap mbah Karto dengan mendongakan kepala nya ke atas.


Lalu keduanya bergegas menuju ke tempat yang dimaksud Rania, nampak disana ada arwah pak Parjo yang memberi petunjuk, dengan mengarahkan jari telunjuknya ke seorang lelaki penambal ban.


"Assalamuallaikum pak permisi, apakah kemarin bapak melihat ada kecelakaan disini?." tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Waalaikumsallam dek, iya kemarin saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, ada seorang lelaki yang sedang menyeberang jalan, tapi tiba-tiba ada sopir truk yang berjalan ke arah sini dengan cepat, sepertinya sopir truk itu terlambat menginjak rem nya, dan ketika dia berhenti dan membuka pintu truk nya, banyak orang yang marah dan meneriaki sopir itu, mungkin dia ketakutan akan dimasa orang, sehingga dia memilih untuk melarikam diri." jawab lelaki penambal ban itu.


"Apakah bapak masih mengingat nomor polisi truk itu, karena disekitar sini tidak ada cctv, polisi tidak dapat mencari tau siapa pelaku tabrak lari itu." ucap Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Wah kalau mengingat tentu saja tidak dek, tapi aku sempat menulis nomor polisi truk itu, untuk pasang judi togel." terang lelaki itu dengan senyum yang menghiasi wajah nya.


"Ini dek nomer polisi truk itu, semoga saja nanti malam saya tembus togel nya." ujar tukang tambal ban dengan tersenyum lebar.


"Astagfirulloh pak masih suka saja main judi togel." seru Rania dengan menghembuskan nafas nya panjang.


Nampak Rania mencatat nomer itu di ponsel nya, menurut mbah Karto mereka harus menanyakan pemilik nomor kendaraan itu ke kantor kepolisian, tapi hari sudah sore dan mereka akan kemalaman di jalan, sehingga mereka memutuskan untuk pulang dan kembali ke kota keesokan hari nya.


Nampak diperbatasan hutan wingit ada Ari yang sedang berjalan memasuki hutan itu, Rania yang melihat lelaki itu masuk ke dalam hutan nampak mengkerutkan kening nya dengan menerka-nerka apa yang akan dilakukan Ari disana.


"Mbah Karto baru saja aku melihat mas Ari masuk ke dalam hutan, jujur saja Rania takut jika mas Ari masih belum bisa melupakan istri gaib nya yang dulu." tukas Rania seraya mengendarai sepeda motor nya.


Kenapa Ari pergi ke hutan, padahal sebentar lagi sudah senja, jangan-jangan dia memiliki maksud tertentu seperti yang sudah-sudah, batin mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


Kemudian mbah Karto meminta Rania untuk mengantarkan nya ke rumah Ari, mbah Karto ingin meminta Anto untuk segera mencari kangmas nya di hutan wingit sana.


Tok tok tok...


"Assalamuallaikum To." seru mbah Karto dibalik pintu.


Cekleek...


"Waalaikumsallam mbah Karto." sahut Anto seraya mengecup punggung tangan sesepuh desa nya itu.


Lalu Rania berpamitan pada kedua nya, karena sudah hampir magrib dan dia belum sampai di rumah.


"Iya nduk hati-hati,ingat pesanku ya selalu banyak berdoa ketika kau merasakan aura negatif didekatmu." tukas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Lalu Anto pun mempersilahkan mbah Karto masuk ke dalam rumah nya, nampak lelaki tua itu memerintahkan Anto, untuk segera menyusul Ari yang saat ini berada di dalam hutan.


"Tapi mbah aku tidak berani sendirian ke hutan itu, yang ada aku bisa celaka karena nekat pergi kesana." seru Anto dengan wajah ketakutan.


"Baiklah Le aku akan menemani mu, tapi kita harus shalat magrib dulu dan mengajak beberapa warga lain nya, supaya kita lebih mudah menemukan Ari, semoga dia tidak berbuat hal yang tidak-tidak disana." ucap mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


*


*


...Bersambung....