
Sukma melati terlihat sangat marah karena Jansen berulang kali mencela dirinya, dia melangkahkan kaki nya yang mengambang dan mencekik leher Jansen sampai tubuh hampa nya membiru.
"Nduk culno setan londo kui, nek awakmu iseh pengen nyanding karo bojomu, ojo sampe awakmu gawe ciloko jiwo ne cah 2 kui menungso tuo kae iso nekat misahne awakmu karo bojomu (nak lepaskan hantu bule itu, jika dirimu masih mau bersama suamimu, jangan sampai dirimu membuat celaka jiwa 2 sukma itu maka manusia tua itu bisa nekat memisahkan dirimu dari suamimu)". Seru penguasa gaib itu menghentikan penyiksaan yang dilakukan anak perempuan nya pada Jansen.
Nampak Sukma luluh dengan perkataan Romo nya, tangan nya yang semula mencekik erat leher jansen sedikit merenggang lalu dia melemparkan tubuh hampa Jansen ke sembarang tempat.
Braak...
Tubuh Jansen terpelanting ke pojok ruangan berjeruji emas itu, darah segar keluar dari dalam mulut Jansen tubuh hampa nya sudah sangat lemah dan dia bisa musnah kapan saja jika Sukma melati terus menyiksa nya.
Sementara Edi yang bisa melihat wujud Jansen di alam gaib itu nampak ketakutan, dia beringsut dibawah meja besar supaya dia tidak menjadi sasaran amukan perempuan siluman itu lagi.
*
*
Sementara di desa Rawa belatung terlihat beberapa warga sangat ketakutan setelah melihat siluman ular yang melilit badan Edi tadi, mereka semua menceritakan kejadian itu pada mbah Karto dan membuat sesepuh desa itu terkejut mengetahuj jika Sukma melati sangat nekat untuk mencari keberadaan Ari.
Lalu mbah Karto meminta semua warga berjaga di pos kampling dan berpatroli disekitar desa karena hawatir jika Sukma datang kembali.
Kemudian mbah Karto melakukan ritual didalam kamar khusus nya dengan Ari yang masib terikat oleh tali suci yang sudah dibacakan ayat-ayat suci oleh pak haji Faruk.
Dan disaat mbah Karto sedang melakukan ritual nya terlihat bola-bola api yang berterbangan di sekitar rumah warga desa, bola-bola api itu membakar beberapa sawah dan juga rumah warga yang sedang tertidur lelap didalam nya.
Wush...
Kobaran api melahap bagian samping rumah simbah Parti, ketika api itu semakin menyebar ke beberapa bagian rumah, udara di rumah itu semakin panas dan juga pengap.
Rania yang terjaga malam itu karena memikirkan nasib Jansen yang ditahan di alam gaib merasa sangat kepanasan, lalu dia bangkit dari ranjang nya dan berjalan keluar dari dalam kamar nya.
Kedua mata Rania terbelakak ketika melihat kobaran api yang sudah membakar bagian samping rumah simbah nya.
"Kebakaran toloong...". Pekik Rania dengan suara yang kencang.
Dan setelah mendengar teriakan Rania, bude Walimah dan Wati pun terbangun dari tidur nya berjalan tergesa-gesa keluar dari dalam kamar nya.
"Nduk api darimana itu ayo kita padamkan api itu dan kau Rania pergilah keluar dan minta bantuan dari warga lain nya". Seru bude Walimah panik seraya berlari ke belakang rumah untuk mengambil selang air.
Tapi tiba-tiba terdengar suara minta tolong dari simbah Parti yang masih terjebak didalam kamar nya, Wati yang sangat panik berusaha membawa simbah nya keluar dari dalam kamar yang sudah banyak asap itu.
Sedangkan Sukma melati yang berada tidak jauh dari Des Rawa belatung nampak menyeringai dengan penuh kepuasan, dia sangat bahagia bisa membakar sebagian rumah dan lahan milik warga.
Dasar manusia tua bangka, aku tidak terima karena kau telah membakar wajah cantik ku dan sekarang aku membalaskan dendam dengan membakar rumah warga desa ini, gumam Sukma melati pada dirinya sendiri.
Tapi tiba-tiba ada kekuatan yang menghantam tubuh nya dari belakang.
Bruuk...
Kedua nya bertarung dengan kekuatan masing-masing tapi perlawanan mbah Karto tidaklah seimbang karena Romo Sukma melati sang penguasa hutan angker datang untuk melindungi anak perempuan nya.
Pertarungan gaib terjadi di lahan kosong yang tidak jauh dari rumah simbah Parti yang terbakar, membuat emosi mbah Karto semakin tidak terkendali mengetahui banyak sawah dan rumah yang telah terbakar karena kiriman bola api dari Sukma melati.
Penguasa gaib itu berusaha mengikat jiwa mbah Karto supaya tidak bisa kembali lagi pada raga nya, bagaimanapun kondisi fisik sesepuh desa itu sudah sangat kuwalahan dia diserang bersamaan oleh penghuni alam gaib itu.
Dan pada perlawanan yang terakhir akhirnya mbah Karto tumbang karena energi nya semakin meredup, jiwa tanpa raga milik mbah Karto terjatuh setelah diserang tanpa henti oleh penguasa gaib itu.
Bruk...
Tubuh tua itu memuntahkan darah yang sangat banyak dari dalam tubuh nya, sedangkan raga nya yang berada di rumah nya pun mengalami hal yang sama, tiba-tiba saja tubuh mbah Karto yang sedang duduk bersila itu tumbang dengan darah yang keluar dari dalam mulut nya.
"Hahaha... Menyerahlah tua bangka". Seru penguasa gaib itu.
Tanpa menjawab mbah Karto hanya terdiam seraya berdoa memohon perlindungan pada Allah.
"Kau tidak usah menyebut nama Tuhanmu, Dia tidak akan pernah bisa menolongmu, bukankah semua kekacauan di desamu ini belum setimpal dengan apa yang kau lakukan pada Sukma anakku". Tukas penguasa gaib itu dengan wujudnya yang menyeramkan.
Tapi tiba-tiba seorang anak perempuan berhenti mendadak di lahan kosong tempat dimana pertempuran gaib itu berlangsung, kedua mata Rania membulat sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, dia sangat ketakutan ketika melihat laki-laki tua yang selama ini membantu dirinya dan semua warga desa sedang berada dalam bahaya besar.
Terdengar oleh batin Rania, jika mbah Karto meminta nya segera pergi dari sana dan meminta tolong pada pak haji Faruk untuk mengadakan pengajian akbar supaya semua aura gaib yang berada di desa Rawa belatung segera sirna, dengan berjalan berjinjit Rania berusaha melarikan diri dengan tidak menimbulkan suara ataupun kecurigaan, supaya kedua makhluk gaib itu tidak mengetahui keberadaan nya dan membawa nya ke alam gaib.
Lalu Sukma melati yang merasakan kehadiran seseorang didekatnya berusaha mencari tau siapa yang ada disekitarnya, kedua mata Sukma memandang ke segala arah mencari seseorang yang dia curigai ada didekatnya, sedangkan Rania yang menyadari kecurigaan siluman ular langsung menundukan badan nya dan bersembunyi dibalik semak-semak yang rimbun.
"Ono opo cah ayu (ada apa puteri cantik)". Tanya penguasa gaib pada anak perempuan nya yang sedang memandang ke segala arah.
"Aku merasakan kehadiran manusia disekitar sini Romo". Jawab Sukma melati dengan mengkerutkan kening nya yang melepuh.
"Ayo awak e dewe ndang lungo seko kene, sediluk maneh wes ono wong seng kentel iman e teko kene ( ayo kita segera pergi dari sini, sebentar lagi sudah ada orang yang kental iman nya datang kesini)". Ajak penguasa gaib itu dengan mencengkeram jiwa mbah Karto bersama nya.
"Tapi Romo kangmas Ari belum bisa aku temukan". Sahut Sukma melati dengan wajah sendu nya.
"Manuto karo Romo mu iki, mbesok awakmu iso goleki bojomu maneh, ayo bali sakdurunge santri kui teko mrene (menurutlah pada bapak mu ini, besok dirimu bisa mencari suamimu lagi, ayo pulang sebelum santri itu datang kesini)". Ucap penguasa gaib itu seraya menghilang di kegelepan malam membawa jiwa mbah Karto bersama nya.
Lalu Sukma melati pun menyusul Romo nya untuk kembali ke alam gaib, nampak Sukma melati menyeringai puas karena malam ini dia mendapatkan beberapa jiwa yang akan memuaskan dendam nya.
Sedangkan Rania yang masih bersembunyi di semak-semak nampak berderai air mata tanpa mengeluarkan suara, hati Rania sangat pilu mengetahui bencana besar yang melanda desa Rawa belatung ditambah jiwa sesepuh desa nya yang telah dibawa oleh penguasa hutan angker, tapi tiba-tiba Rania teringat oleh rumah simbah nya yang sudah terbakar, kemudian dia berlari kencang tanpa memperdulikan sandalnya yang terputus, Rania terus berlari menginjak bebatuan kecil yang membuat telapak kaki nya terluka dan berdarah, dia berlari mendatangi warga yang sedang ramai di pos kampling.
*
*
...Bersambung....
...Hadiah give away sudah author bagikan pada mereka yang beruntung, untuk kakak yang belum meninggalkan no wa nya untuk konfirmasi pemenang aku tunggu satu hari ini ya, selalu dukung aku ya kak dengan tinggalkan jejak like atau vote nya supaya aku semakin semangat nulis dan bagikan sedikit hadiah untuk kalian, Love u all 💕...