DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kehadiran makhluk gaib ditengah malam.


Beberapa hari kemudian pak Jarwo yang dirawat di rumah sakit, sudah diperbolehkan pulang, tapi dia belum bisa menyelesaikan tugasnya untuk mencari jimat suci.


Akhirnya mbah Karto memutuskan untuk mengambil alih tugas pak Jarwo, laki-laki tua itu berpamitan kembali ke desa nya untuk melihat kondisi Ari dan melakukan ritual di puncak gunung belakang desa.


"Le kau istirahat saja di rumah, biarkan aku yang akan mencari jimat suci untuk Lala". Ucap mbah Karto pada pak Jarwo yang terbaring di atas tempat tidurnya.


"Maaf mbah sekali lagi aku merepotkanmu, seharusnya ini menjadi tanggung jawabku". Jelas pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Sudahlah Le, kalian itu sudah seperti keluargaku sendiri, dan satu lagi Le jika kau sudah sehat tolong bantulah sesosok arwah yang ada di warung bakso desa sebelah, dia meninggal karena ditumbalkan juragan nya, dan jazadnya dikuburkan dengan tidak layak, karena Rania harus pulang bersamaku maka aku titipkan tugas ini padamu". Tukas mbah Karto dengan senyum ramahnya.


Setelah itu mbah Karto mengajak Rania untuk kembali ke desa Rawa belatung, lalu Rania berpamitan pada Lala yang masih sering berdiam diri di dalam kamarnya.


"La aku pulang dulu ya, insyaAlloh lusa aku kesini lagi membawakanmu formulir pendaftaran ke perguruan tinggi, kau harus banyak ibadah ya La jangan tinggalkan shalat lima waktu supaya hal-hal buruk tidak terjadi padamu". Tegas Rania seraya memeluk Lala.


"Terima kasih Rania, cepat kembali ya aku akan sangat kesepian tanpamu". Jelas Lala dengan wajah sendu.


"Aku akan segera kembali bersama Wati, dadaa Lala". Ujar Rania seraya berjalan meninggalkan Lala di kamarnya.


Setelah itu mbah Karto dan Rania pergi dari rumah Lala, nampak suasana rumah itu berubah menjadi sepi karena tidak ada lagi suara Rania yang ceria, yang beberapa hari sudah mengisi kekosongan di rumah itu, dan waktu berjalan begitu saja tanpa terasa malam pun tiba.


Suasana malam itu sangat berbeda karena hawa dingin begitu terasa disana, tepat jam dua belas tengah malam, ada angin kencang yang membuat tirai di jendela kamar Lala tersibak, dan terdengar suara yang mengiba membuat Lala terbangun dari tidurnya.


Suara siapa itu, sepertinya aku mengenal suara itu, jangan-jangan dugaanku itu benar, batin Lala didalam hatinya seraya bangkit dari tidurnya.


Kemudian Lala berjalan ke dekat jendela kamarnya, nampak Lala memandang ke arah luar jendela itu, dan terlihat di luar sana ada sosok yang sangat Lala rindukan, dengan berderai air mata Lala melangkahkan kaki nya keluar dari rumahnya.


Kreeaaaak...


Terdengar suara pintu yang terbuka, dan Lala berlari ke halaman rumahnya menghampiri sosok yang begitu dirindukan nya.


"Anakku Seno ibu sangat merindukanmu nak huhuhu". Tukas Lala berderai air mata kerinduan.


"Ibunda kenapa kau tidak pernah memanggilku, aku tidak bisa masuk ke dalam rumah ibu, marilah bu kita pergi dari sini dan tinggal bersama di suatu tempat". Ucap Senopati memeluk erat Lala.


"Tapi nak ibu tidak bisa meninggalkan rumah begitu saja, simbahmu sedang sakit nak jika ibu pergi meninggalkan rumah, maka beliau akan semakin sedih". Jelas Lala mengecup kening Senopati.


"Tapi apakah ibunda tidak merindukanku, ibunda tidak ingin tinggal bersamaku lagi". Sahut Senopati dengan wajah sendu.


"Jangan bicara begitu anakku, kau bisa menemui ibumu ini kapanpun kau mau, tapi ibu tidak bisa meninggalkan rumah lagi nak, mengertilah keadaan ibumu ini". Tegas Lala dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah ibu tidak menyayangiku lagi, sehingga ibu sudah tidak mau tinggal bersamaku". Tukas Senopati dengan wajah sendu.


Kemudian Lala memeluk erat anaknya itu, dan meminta anaknya untuk bersabar, karena dia akan mencarikan jalan keluar supaya mereka bisa tetap bersama.


"Mari nak kita masuk ke dalam, ibu akan memperkenalkanmu pada keluarga ibu yang lain nya". Ajak Lala dengan menggenggam tangan Senopati.


"Untuk apa bu, aku tau keluarga ibu tidak akan menyukai kedatanganku". Sahut Senopati dengan menundukan kepalanya.


Nampak di luar sana Senopati berjalan mondar-mandir dengan wajah yang cemas, sedangkan Lala yang sedang mengambil selimut didalam lemarinya nampak di tegur oleh Kasmi karena membuka pintu rumahnya tengah malam begitu.


"La kenapa kau tidak menutup pintu itu lagi to, di luar sedang ada angin kencang sepertinya akan ada badai". Seru Kasmi dengan melipat kedua tangan di depan dada.


"Di luar sana ada Senopati anakku mbakyu, dia sedang kedinginan, mari ku perkenalkan mbak Kasmi padanya". Jelas Lala dengan senyumnya.


"Tunggu La, kenapa anakmu datang selarut ini, dan kenapa kau tidak membawanya ke dalam saja, bukan nya di luar sana sangat dingin". Celetuk Kasmi menghentikan langkah Lala.


"Tadi Senopati sudah berusaha masuk ke dalam rumah ini, tapi Seno bilang dia tidak bisa masuk ke dalam rumah ini mbakyu, makanya aku akan membawakan selimut untuknya". Terang Lala yang kembali melangkahkan kakinya.


Kemudian Kasmi menarik lengan Lala dan mengatakan sesuatu yang membuat Lala tercekat.


"Apa kau lupa La apa yang dikatakan mbah Karto tempo hari, hanya makhluk gaib yang memiliki niat jahat lah yang tidak bisa memasuki rumah ini, dan anakmu itu dia keturunan setengah manusia, seharusnya dia bisa memasuki rumah ini dengan mudah, jangan-jangan dia bukanlah anakmu Senopati, melainkan makhluk gaib yang sedang menyamar menjadi anakmu". Cetus Kasmi dengan mengkerutkan keningnya.


Nampak Lala mengaitkan kedua alis matanya, Lala sedang mencerna perkataan Kasmi yang masuk akal menurutnya.


Jika dia bukanlah anakku Senopati, lantas siapa dia, berani sekali dia mempermainkanku, batin Lala didalam hatinya.


Kemudian pak Jarwo terbangun karena mendengar suara gaduh di luar kamarnya, lalu pak Jarwo berjalan tertatih menghampiri Kasmi dan Lala yang sedang berdebat di ruang tamu.


"Ada apa to kok tengah malam begini kalian berdebat?". Tanya pak Jarwo setengah meringis menahan sakit di kakinya.


"Itu loh mas tadi Lala mengatakan jika anaknya datang, tapi dia tidak bisa masuk ke dalam rumah ini". Jawab Kasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian pak Jarwo berusaha melihat melalui mata batin nya, tapi usaha pak Jarwo nampak sia-sia, karena kondisinya belum stabil pak Jarwo tidak dapat menggunakan kesaktian nya, dan satu-satu nya cara untuk mengetahui yang sebenarnya, hanya dengan meminta anak Lala memasuki rumah itu, karena jika sosok yang ada di halaman rumah itu bukanlah anak Lala yang sebenarnya, dia tidak akan bisa memasuki rumah itu, karena seluruh tubuhnya akan terasa panas.


"Nduk kondisiku tidak memungkinkan untuk melihat siapa dia yang sebenarnya, satu-satu nya cara untuk mengetahui segalanya adalah dengan membawanya masuk ke dalam rumah ini, jika dia benar-benar anakmu dan bukan sosok gaib yang sedang menyamar maka dia akan baik-baik saja, tapi sebaliknya jika dia adalah makhluk gaib yang menyamar menjadi anakmu, wujud aslinya akan terlihat dan seluruh tubuhnya akan terbakar". Tukas pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.


Nampak Lala menundukan kepalanya, dia berpikir keras siapa sebenarnya sosok yang menyamar menjadi anaknya.


Apakah itu kangmas Elang, tapi aku sangat mengenalnya, dia tidak mungkin menyamar menjadi anaknya sendiri untuk mengelabuhiku, batin Lala didalam hatinya.


Setelah itu Lala melangkahkan kaki nya ke teras, lalu dia berteriak memanggil Senopati dan bersandiwara dihadapan sosok gaib itu.


"Anakku Seno kesinilah nak tolong ibu, kaki ibu sangat sakit dan tidak bisa bergerak". Seru Lala memanggil Senopati yang berdiri di halaman rumah itu dengan wajah yang cemas.


*


*


...Jangan lupa tinggalkan Vote dan hadiahnya ya kak, supaya aku lebih semangat lagi gomawo 💕...


...Bersambung....