DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petualangan gaib Rania ep2


Wati mengendarai sepeda motor bersama Lala, mereka sengaja melewati jalan yang sedang ditutup oleh polisi lalu lintas, lalu Wati menepikan motor nya dan melihat dari jarak yang lebih dekat, nampak di depan sana ada dua mobil yang ringsek parah dibagian depannya, dan setelah Wati memastikan salah satu mobil itu adalah angkutan umum, sontak degup jantungnya berdetak sangat kencang, pikiran nya menerka-nerka berharap jika Rania tidak berada di dalam angkutan umum itu.


"Wat, disana ada angkot yang ringsek, semoga itu bukan angkot yang di tumpangi Rania ya", seru Lala dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Semoga saja La, tapi kenapa aku gelisah sekali ya, mungkin lebih baik kita bertanya pada polisi yang berjaga disana", sahut Wati seraya melangkahkan kakinya.


Terlihat Wati menghampiri seorang polisi yang mengatur jalan untuk memutar, dan Wati pun bertanya siapa saja korban yang ada di dalam mobil ringsek itu, lalu polisi mengatakan total korban ada tujuh orang korban, dan dua di antara nya sudah meninggal di tempat kejadian perkara.


"Pak apakah kami boleh tau daftar nama korban nya, kebetulan saudara perempuan saya tadi pulang naik angkutan umum, saya hawatir jika saudara saya ternyata adalah salah satu korban yang menumpangi angkutan umum itu", jelas Wati dengan wajah sendu.


Kemudian polisi itu meminta Wati bertanya pada pihak forensik yang sedang mengidentifikasi para korban, setelah Wati menunjukan foto dan nama Rania, pihak forensik memberitahu jika korban dengan identitas itu sudah dibawa ke rumah sakit sejahtera bersama korban lainnya, bagaikan disambar petir disiang hari, mendadak kaki Wati lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya lagi, dia jatuh tersungkur ke tanah, lalu Lala berusaha menenangkan Wati dan menopang nya untuk kembali berdiri.


"Yang tabah ya Wat, aku sama terkejutnya denganmu, tapi kita harus tegar, dan melihat keadaan Rania di rumah sakit, lebih baik jangan memberitahu ini pada ibumu, sebelum kita tau pasti bagaimana kondisi Rania", ucap Lala dengan memeluk Wati.


"La aku takut Rania kenapa-kenapa, dia satu-satunya saudara yang ku punya huhuhu".


"Aku juga saudara Wati, jangan pernah beranggapan hanya Rania saja yang kau punya, ayo kita ke rumah sakit sekarang biar aku saja yang mengendarai motornya.


Lalu kedua gadis itu berjalan ke arah motornya yang terparkir di atas jembatan tua, terlihat oleh Lala jika ada sosok buto tinggi besar yang sedang mengamati manusia-manusia yang ada disana, nampak Lala meremas lengan Wati kencang, karena dia terkejut melihat penampakan buto menjijikkan itu.


"Aww sakit La, lepaskan tanganmu", seru Wati seraya menepis tangan Lala.


"Ma maafkan aku Wat, a aku terkejut melihat sesuatu", sahut Lala dengan gagap.


"Ada apa sih La, jangan nakutin aku deh, aku tau pasti kau melihat yang aneh-aneh kan".


"Tidak ada apa-apa Wat, ayo kita tinggalkan tempat ini", ucap Lala seraya mendorong motor itu menjauh dari jembatan tua.


Kenapa Lala mendorong motor ini, Jangan-jangan ada makhluk gaib di sekitar sini, batin Wati dengan mengusap tengkuknya.


Setelah mendorong motor agak jauh dari jembatan tua itu, nampak Lala menghembuskan nafasnya panjang, gadis itu mengusap oeluh yang yang membasahi keningnya, sedangkan Wati yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti langkah Lala dari belakang tanpa bersuara sama sekali, kemudian Lala pun bertanya pada Wati, kenapa dia terdiam dari tadi.


"Aku tau kalau kau melihat makhluk gaib kan La, karena itulah kau terkejut dan bicara gagap di jembatan tadi, aku sudah mengenalmu dengan baik, setiap kau melihat sesuatu yang menakutkan pasti kau akan bertingkah aneh seperti tadi, dan aku sudah sering melihatnya, karena itulah aku juga ikut diam tanpa berkata apapun", jelas Wati dengan wajah ketakutan.


"Jangan-jangan kecelakaan yang terjadi disana ada hubungannya dengan buto itu La", celetuk Wati dengan mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama denganmu, tapi aku harus memastikannya lebih dulu".


Bukankah Rania memiliki penjaga gaib yang beberapa waktu lalu selalu mengikutinya, kemana perginya makhluk itu, kenapa dia tidak menolong Rania, batin Lala penasaran.


"Ayo La kita berangkat ke rumah sakit, kenapa kau malah melamun disini", ucap Wati mengagetkan Lala.


"Baiklah Wat, ayo kita berangkat", tukas Lala seraya mengendarai sepeda motor.


Sesampainya di rumah sakit, Wati dan Lala bergegas bertanya pada receptionist, tentang pasien korban kecelakaan yang baru saja dirujuk di rumah sakit itu, lalu pihak rumah sakit mengatakan jika para korban yang selamat masih ada di ruang IGD, sementara korban yang tidak selamat ada di kamar jenazah, dan Wati menyebutkan nama Rania sebagai salah satu korban, tapi pihak rumah sakit tidak dapat memberi tau apakah Rania selamat atau tidak, karena begitu datang para korban langsung mendapatkan penanganan terlebih dulu.


"Lebih baik kalian mencari tau di ruang IGD terlebih dulu, mungkin saja korban atas nama Rania sedang mendapatkan perawatan disanax, jelas perempuan yang ada di receptionist.


Setelah itu Wati dan Lala bergegas ke ruang IGD, nampak langkah keduanya gontai, dengan perasaan yang sangat kalut, sesampainya di ruang IGD, Wati bertanya pada perawat yang berjaga di depan ruangan itu, nampak perawat mengatakan jika di ruang IGD hanya ada pasien laki-laki saja.


"Tapi Sus, saudara saya perempuan namanya Rania, kata polisi yang menangani kecelakaan itu Rania dibawa ke rumah sakit ini Sus", seru Wati dengan berlinang air mata.


"Memang benar tadi ada beberapa korban kecelakaan yang dibawa ke rumah sakit ini, tapi yang dirawat di IGD hanya pasien laki-laki saja, atau maaf saudara anda berada di kamar jenazah", jelas perawat itu dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak tidak mungkin Sus, La katakan pada suster ini, jika Rania baik-baik saja, dia tidak mungkin ada di kamar jenazah kan La huhuhu", seru Wati berderai air mata.


"Sabar Wati, kau diam dulu ya, biar aku saja yang mencari tau sebenarnya".


Nampak Lala berbicara empat mata dengan perawat tadi, terlihat raut wajah Lala sangat serius, dan dia mengatakan jika Rania masih hidup, karena polisi mengatakan jika dua korban tidak selamat berjenis kelamin laki-laki, tidak lama setelah itu datanglah satu perawat yang memanggil perawat itu ke dalam ruang ICU karena pasien di dalam sana sedang dalam keadaan kritis, dan tanpa menjawab pertanyaan Lala, kedua perawat itu pergi meninggalkan Lala yang masih terpaku di depang ruang IGD.


Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan pada Wati, kenapa suster itu tidak menjawab pertanyaan ku, batin Lala resah didalam hatinya.


...Terus berikan dukungan pada Author dengan memberikan Vote atau hadiahnya ya kak, makasih 🤗...


...Bersambung....