
Kemudian Dudung semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Santi sampai tubuh Dudung menyenggol kedua milik Santi yang menantang, membuat Dudung berdegup kencang.
"Loh mas Dudung kenapa kok detak jantungnya kencang sekali, aku sampai bisa mendengarnya loh, apa mas Dudung sedang sakit ya, coba sini mas Santi periksa dulu". Tukas Santi menempelkan telinganya ke dada Dudung.
Aduh Santi bagaimana jantungku tidak semakin berdegup kencang, lha wong punyamu yang besar itu nempel ke tubuhku, batin Dudung seraya mengusap peluh dikeningnya.
"Loh mas kok makin kencang detak jantungmu, kita duduk disana dulu yuk mungkin mas Dudung lelah berjalan". Ajak Santi dengan menggandeng tangan Dudung.
Kemudian keduanya berjalan beriringan ke sebuah pondok yang tidak jauh dari sana, lalu mereka duduk dan berbincang disana.
"Mas Dudung kancing bajunya dibuka saja ya, supaya lega nafasnya, sini biar Santi saja yang membukanya". Ucap Santi yang membuka kancing baju Dudung satu persatu.
Sementara Yati yang berada di rumahnya nampak bingung mencari keberadaan Dudung yang menghilang begitu saja, lalu Yati bertanya pada bude Lasmi.
"Mbakyu apakah kau melihat mas Dudung, setelah berdebat denganku dia menghilang entah kemana". Tukas Yati dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Biasanya Dudung itu di teras Yat, coba kau lihat dulu disana". Sahut bude Lasmi yang sedang sibuk merapikan tempat tidurnya.
Setelah itu Yati melangkahkan kakinya mencari keberadaan Dudung di luar sana, tapi tidak ada siapapun disana, hanya ada Ayu bersama Petter yang tidak terlihat dikedua mata Yati.
"Mas Dudungnya tidak ada mbakyu, jangan-jangan dia benar-benar pergi dari rumah". Celetuk Yati dengan mengkerutkan keningnya.
"Mana mungkin to Yat minggat tidak bawa apa-apa, itu motornya juga ada di depan". Tukas bude Lasmi dengan menunjukan jari telunjuknya ke arah sepeda motor Dudung yang terparkir di halaman rumahnya.
"Iya juga ya mbakyu, lantas kemana mas Dudung pergi". Seru Yati dengan mendongakan kepalanya ke atas.
Setelah itu bude Lasmi keluar rumah dan memandang ke segala arah, untuk melihat Dudung ada di luar sana atau tidak, kemudian datanglah dua orang hansip yang sedang berpatroli, bude Lasmi pun menanyakan pada keduanya.
"Assalamualaikum selamat malam bapak-bapak". Sapa bude Lasmi dengan senyum ramahnya.
"Waalaikumsalam bu". Sahut keduanya.
"Maaf pak saya mau bertanya, apakah kedua bapak ini melihat adik ipar saya Dudung di sekitar sini?". Tanya bude Lasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Kami tidak melihat pak Dudung buk, memangnya ada to buk siapa tau nanti kami melihat pak Dudung di jalan". Jawab salah satu dari mereka.
"Tidak ada apa-apa kok pak, cuma istrinya sedang panik mencari keberadaan Dudung dimana". Jelas bude Lasmi.
"Oalah ya sudah bu kami lanjutkan patroli nya dulu, kalau kami melihat pak Dudung akam kami sampaikan padanya untuk pulang". Tukas hansip itu.
Setelah itu bude Lasmi mengucapkan terima kasih dan berjalan kembali ke dalam rumah, lalu mengatakan pada Yati jika Dudung tidak ada di luar sana.
"Kok firasatku tidak enak ya mbakyu. Ucap Yati dengan wajah cemas.
"Sudahlah Yat kita istirahat saja, nanti juga Dudung pulang". Ujar bude Lasmi mengajak Yati istirahat di kamarnya.
Sementara itu di luar sana Dudung sedang melancarkan aksinya untuk mendekati Santi yang menggoda jiwa dan raga nya, setelah Santi membuka semua kancing baju nya nampak Dudung berbincang dengan Santi seraya memegang paha mulus perempuan itu.
"Santi apa kau tidak gerah memakai baju lengan panjang begitu, tiba-tiba saja aku merasa kepanasan disini". Tukas Dudung seraya mengibas-ngibaskan tangan nya.
"Kalau Santi kedinginan kan ada mas Dudung yang bisa menghangatkan nya". Seloroh Dudung mendekatkan badan nya pada Santi.
"Beneran nih mas tidak apa-apa Santi buka baju disini". Ujar Santi dengan seringai diwajahnya.
"Iya Santi tidak usah malu-malu sama mas Dudung, daripada kau kepanasan memakai baju panjang seperti itu". Tukas Dudung dengan menelan ludahnya kasar.
Kemudian Santi melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya, nampak dia hanya memakai pakaian dalam yang tipis membuat kedua milik Santi semakin terlihat menonjol dengan jelas, kedua mata Dudung membulat sempurna dengan degup jantung yang tak beraturan.
"Maaf ya mas Santi jadi tidak enak sama mas Dudung, tapi tubuh Santi kedinginan mas, tadi memakai baju itu aku kepanasan, tapi pakaian dalamku terlalu tipis sehingga aku merasa kedinginan". Jelas Santi yang melipat kedua tangan di depan dadanya.
Duh Santi tubuh molekmu itu membuatku panas dingin, pengen rasanya aku mencicipi kedua milikmu itu, batin Dudung dengan menelan ludahnya kasar.
"Apakah kau mau aku peluk San?". Tanya Dudung menyeringai.
Terlihat Santi menganggukan kepalanya malu-malu, dan Dudung pun melancarkan aksinya tanpa basa-basi, dia memeluk erat tubuh molek Santi, mendekapnya semakin dalam ke tubuhnya.
"Bagaimana Santi, apakah tubuhmu sudah sedikit hangat, kau tidak perlu memakai baju panjangmu itu karena aku bersedia memberikan kehangatan untukmu". Tukas Dudung dengan tangan nya yang menggerayangi tubuh molek Santi.
"Mas Dudung apakah kau mau menemani Santi malam ini, Santi rindu kehangatan yang seperti ini mas". Bisik Santi ditelinga Dudung.
Apakah maksud Santi dia ingin melakukan permainan denganku, batin Dudung dengan pikiran kotornya.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu Santi, kehangatan apapun akan ku berikan padamu, jangankan malam ini, setiap malampun aku bersedia". Ucap Dudung ditelinga Santi.
Setelah itu Santi bangkit dari duduknya mengajak Dudung masuk ke dalam pondokan yang ada dibelakang mereka, nampak Dudung berdiri dan mengikuti langkah kaki Santi masuk ke dalam ruangan gelap itu.
Terlihat Santi membuka pakaian dalamnya sehingga hanya terlihat kedua miliknya yang menggantung indah didepan mata Dudung, terasa milik Dudung sudah sesak didalam sana dan dia pun menggenggam kedua milik Santi dan ********** tanpa jeda, dengan sesekali mengecup puncak milik Santi.
Suara-suara aneh Santi membuat Dudung semakin menggila, lalu Dudung mengecup lembut bibir mungil Santi dengan terus memainkan kedua milik Santi yang terasa sangat kencang.
Tapi tiba-tiba hidung Dudung mencium aroma yang tidak sedap, tapi Dudung tidak menghiraukan nya dan terus melakukan kegiatan nya.
Sampai akhirnya suara-suara aneh Santi berubah menjadi suara tawa yang cekikikan membuat Dudung mengkerutkan keningnya dan melepaskan tangan nya yang memegang milik Santi.
"Santi kau mendengar suara itu tidak, kok perasaanku jadi tidak enak ya". Tukas Dudung meraba ke segala arah karena cahaya yang minim di dalam sana.
Kemudian tangan Dudung membuka pintu pondok yang tertutup itu, seketika sorot cahaya lampu masuk ke dalam sana, dan Dudung pun terkejut melihat sesosok kuntilanak di dalam sana, tengah berdiri menghadapnya dengan sorot mata yang menakutkan.
Hi hi hi...
Cekikikan kuntilanak itu membuat Dudung lari tunggang langgang, dan kuntilanak itu terbang melesat ditengah kegelapan malam mengikuti Dudung yang berlari tak tentu arah.
*
*
...Bersambung....