
Evana dan Jansen terus berada di sekitar pondokan Bima sesuai perintah mbah Karto, dan beberapa jam setelah itu nampak Bima memasuki pondokan nya, tidak banyak yang bisa dilakukan Evana dan Jansen selain menunggu Bima keluar kembali, karena jiwa kedua hantu itu tidak dapat memasuki pondokan Bima.
Sore berganti malam, Bima akhirnya keluar dari dalam pondokan nya, dia sibuk menata peralatan sesajen nya yang terbuat dari batok kelapa, semua bahan sesajen dan juga dupa di bakar di atas batok kelapa itu.
Nampak Bima membaca rapalan mantra seraya membakar dupa yang ada didepan nya, asap yang membumbung tinggi membentuk sosok tinggi besar yang menyeramkan.
"Ada apa kau memanggilku, bukankah kau tau aku masih sibuk dengan pesta pernikahanku". Seru Ki Ageng sedo yang nampak murka.
"Maafkan aku Ki, aku terpaksan memanggilmu karena aku dipaksa untuk membantu warga desa ini membuka gerbang gaib di alam mu, dan jika aku tidak membantu mereka semua, pasti mereka akan mencurigaiku, jadi aku ingin meminta bantuan padamu Ki Ageng, apa yang seharusnya pengikutmu ini lakukan?". Tanya Bima dengan menyatukan kedua tangan didepan dada.
Nampak buto ireng itu hanya menghembuskan nafasnya panjang, pikiran nya sedang kalut memikirkan ketiga istrinya yang ada di istana.
"Kau turuti saja keinginan mereka, aku mau melihat sampai mana kekuatan mereka, apa bisa mereka memisahkan ku dari istriku Lala". Jawab buto ireng itu dengan memberikan sebuah pusaka pada Bima.
"Ini untuk apa Ki, apakah aku harus menghabisi mereka semua". Tukas Bima dengan membulatkan kedua matanya.
"Itu untukmu, kau simpan saja, sewaktu-waktu pasti akan berguna". Jelas Ki Ageng sedo dengan wajahnya yang menyeramkan.
Sementara di atas pohon sana ada Evana dan Jansen yang sedang mendengarkan pembicaraan Bima dan juga buto itu, nampak Evana mengkerutkan kening nya menerka-nerka siapa yang dimaksud oleh Bima, dan tidak berselang lama sosok buto itu pun menghilang.
Kemudian Bima bangkit berdiri dan meletakan sesajen yang lain nya di beberapa tempat, sepertinya Bima tidak hanya bersekutu dengan satu makhluk gaib saja.
Di tempat lain pun Bima melakukan ritual untuk kekayaan nya, dia nampak memuja ratu ular yang setiap malam tertentu datang dan meminta kehangatan dari Bima.
Ratu ular pujaan Bima sangatlah mempesona dan cantik, setiap kali mereka melakukan permainan nya Bima akan selalu mendapatkan imbalan berupa koin emas setumpuk, meskipun begitu Bima tidak pernah puas dengan apa yang dia punya.
Nampak Bima kembali ke pondoknya setelah memuaskan hasrat sang ratu ular, dia membawa sekantong koin emas yang akan di jualnya besok di kota.
Aku tidak ingin kembali ke kehidupan lama ku, menjadi tua dan tidak bisa menikmati setiap permainan panas bersama perempuan cantik seperti Nyai Kembang, gumam Bima yang sedang membayangkan kehidupan lama nya menjadi mbah Wongso.
Terlihat Jansen tercekat mendengar Bima yang sedang berbicara sendiri, Jansen memberi tau Evana jika Bima sempat mengatakan jika dia tidak ingin menjadi tua.
"Apa maksud laki-laki itu, semua ini semakin menjadi misteri yang lebih besar, bahkan tadi dia berbicara dengan sosok buto yang membawa Lala, bagaimana kalau kita melaporkan ini pada mbah Karto". Tukas Evana meminta pendapat suaminya Jansen.
"Jika kita pergi dari tempat ini sekarang, kita bisa melewatkan sesuatu yang mungkin saja berguna untuk mengungkap siapa laki-laki itu sebenarnya". Cetus Jansen yang melesat kembali ke atas pohon jati.
*
*
Sementara itu di alam gaib tempat buto ireng itu tinggal, nampak Sekar sedang berbicara serius dengan Bagaskara, mereka sedang membuat rencana untuk memisahkan Lala dari Elang.
"Tapi mbakyu apakah rencana kita akan berhasil?". Tanya Bagaskara dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu Sekar hanya menganggukan kepalanya saja, karena dia tau jika ada Seno anak Lala yang sedang mengawasinya.
"Nanti kita bicarakan lagi, ada yang ingin mendengarkan percakapan kita". Tukas Sekar seraya berjalan mendekati Seno yanh bersembunyi di balik pintu.
"Apa yang kau lakukan disini bocah nakal". Seru Sekar dengan menarik lengan Seno.
"Maafkan anakku jika dia berbuat salah, tapi tolong jangan sakiti dia". Ucap Lala seraya menggandeng Seno pergi dari sana.
Dasar manusia laknat, lihat saja aku akan memberikanmu pelajaran yang berharga, batin Sekar dengan membulatkan kedua matanya.
Lalu Lala bersama Seno pergi menemui Elang yang masih bersama beberapa tamu nya, nampak Seno menghambur ke pelukan Elang.
"Romo tolong jaga ibuku dari mereka semua". Ucap Seno bergelayut manja pada Elang.
"Sudahlah mas jangan terlalu dipikirkan ucapan Seno, dia hanya salah paham saja". Celetuk Lala dengan senyum manisnya.
Kemudian datanglah Wibisono anak pertama Elang dengan Sekar, nampak dia tidak suka jika Seno bermanja-manja dengan romonya.
"Pergi kau dari sini, yang berhak duduk di singgasana dengan romo hanyalah aku, anak tertua nya". Seru Wibisono mendorong Senopati sehingga terjungkal ke lantai.
Bagus anakku, tunjukan bocah itu dimana posisinya yang sebenarnya, batin Sekar dengan seringai diwajahnya.
"Wibisono kau tidak boleh berbuat kasar pada adikmu seperti ini". Bentak Elang dengan membulatkan kedua matanya.
"Tapi romo, selama ini hanya aku yang duduk disini menemanimu, adikku yang lain tidak akan berani duduk disini tanpa seijinku, tapi bocah itu lancang duduk disini tanpa ijin dariku". Pekik Wibisono dengan wajah marah.
"Dia itu juga adikmu, kau tidak boleh bersikap kasar padanya, cepat minta maaf padanya". Perintah Elang dengan mengkerutkan keningnya.
"Aku tidak akan minta maaf padanya". Seru Wibisono seraya berlari meninggalkan tempat itu.
Nampak Elang sangat murka dengan perlakuan anak tertua nya, dia beranjak dari singgasana nya dan ingin menyusul Wibisono, tapi Lala mencegahnya dengan lembut, karena dia tidak ingin terjadi keributan disana.
Kemudian Elang pun menuruni singgasana nya dan membopong Seno kembali ke atas singgasana nya, mereka berbincang dengan beberapa tamu disana, dengan senyum ramahnya.
Sementara Sekar yang mengetahui jika anaknya sedang marah karena dibentak romonya, bergegas menghampiri anaknya itu.
"Kau tidak usah takut anakku, ada ibumu disini, kau tidak melakukan kesalahan apapun, kau sudah bertindak benar dengan mempertahankan posisimu disana, kau adalah anak tertua, dan kau adalah keturunan buto asli, tidak seperti Seno itu, dia memiliki darah manusia dari ibunya, sudah pasti kekuatanmu akan lebih besar darinya". Cetus Sekar seraya memeluk anaknya Wibisono.
"Tapi ibu, aku takut jika romo datang dan marah padaku". Ucap Wibisono semakin erat memeluk ibunya.
"Ibu yang akan membelamu anakku, romo mu tidak akan bisa memarahimu percayalah pada ibu". Sahut Sekar mengusap lembuh wajah anaknya.
Setelah itu Sekar meminta Wibisono masuk ke dalam kamarnya karena dia ingin berbicara lagi dengan Bagaskara, Sekar akan membuat Lala keluar dari istana itu, dan sesosok makhluk gaib yang ada disana akan diperintahnya untuk menyesatkan Lala sehingga Lala tidak bisa kembali ke istana itu, sedangkan Bagaskara yang berada diluar sana diminta nya untuk bersiap dan menyamar menjadi sosok lain yang belum pernah Lala lihat, dengan begitu Bagaskara bisa menikmati lekuk tubuh Lala tanpa takut Lala mengenali nya.
"Kau tenang saja Bagaskara, manusia itu tidak akan bisa mengetahui jati dirimu yang sebenarnya, karena dia hanyalah manusia biasa, dan kangmas Elang tidak akan mau menerimanya kembali setelah mengetahui jika istri baru nya sudah bersetubuh dengan laki-laki lain". Cetus Sekar dengan seringai diwajahnya.
*
*
...Yuk kak panjangkan list vote dan hadiah nya, dan author mengucapkan terima kasih untuk akak semua yang sudah memberikan dukungan nya padaku, Love u all 💕...
...Bersambung....